Para pria membawa kotak untuk dipasangkan ke peti jenazah di pemakaman Kota Sao Pedro, di tengah penyebaran penyakit virus corona (COVID-19) di Sao Paulo, Brazil, Kamis (14/5/2020). foto: indopos.co.id

Akhirnya Brazil menembus peringkat nomor 2 di dunia di belakang Amerika Serikat (AS) untuk kasus wabah virus corona jenis baru penyebab Covid-19. Setelah otoritas negara yang menjadi kiblat sepak bola dunia itu mengonfirmasi bahwa 330.890 warganya terinfeksi Covid-19, Jumat (22/5/2020).

Kementerian Kesehatan Brazil menyebut, seperti dilansir Reuters, Sabtu (23/5/2020) rekor itu mengambil alih posisi Rusia yang semula berada di belakang AS. Brazil mencatat 1.001 kematian harian akibat corona pada Jumat (22/5/2020) sehingga totalnya menjadi 21.048.

Di Sao Paulo, kota terparah dilanda corona, video yang mengambil gambar dari atas memperlihatkan barisan galian terbuka di Pemakaman Formosa saat pihak pemakaman itu berpacu untuk memenuhi tuntutan (atas banyaknya jasad yang harus dikubur).

Presiden Jair Bolsonaro secara luas dikritik karena penanganannya terhadap wabah virus corona ini dan juga sedang berada di pusat krisis politik yang mendalam jelang pemilihan umum negara itu.

Mantan kapten pasukan bersenjata itu mengalami penurunan peringkat jajak pendapat, diakibatkan penentangannya terhadap langkah-langkah jaga jarak sosial, dukungannya terhadap chloroquine yang tak terbukti mujarab dan perselisihannya dengan para pejabat kesehatan masyarakat yang berpengalaman.

Jumlah kasus infeksi dan kematian yang sebenarnya mungkin lebih tinggi dari angka yang diperkirakan, karena negara Amerika Latin dengan perekonomian tertinggi itu lamban untuk meningkatkan pengujian corona. Wabah itu sedang melaju.

Pada Senin (18/5/2020), Brazil menyalip Inggris menjadi negara ketiga dalam jumlah infeksi tertinggi. Brazil melewati Rusia pada Jumat (22/5/2020) namun tak mungkin segera melewati AS. Pasalnya negara dengan perekonomian tertinggi dunia itu mencatat lebih dari 1,5 juta kasus corona.

Sejak wabah mulai, Bolsonaro kehilangan dua menteri kesehatan, setelah menekan mereka untuk mempromosikan pemakaian awal obat antimalaria seperti chloroquine dan hydrochloroquine. Beberapa pakar kesehatan masyarakat terkemuka juga meninggalkannya. Banyak yang digantikan oleh prajurit.

Seperti diberitakan pada Rabu (20/5/2020), Menteri Kesehatan Sementara Eduardo Pazuello, jenderal pasukan bersenjata yang berdinas aktif, mengeluarkan pedoman baru untuk menggunakan chloroquine dan hydrochloroquine untuk kasus-kasus ringan. (net/lin)

LEAVE A REPLY