Panglima Angkatan Darat Israel, Eyal Zamir, baru-baru ini mengunjungi Washington untuk berkonsultasi dengan para pejabat pertahanan Amerika Serikat (AS). AS, katanya, kemungkinan besar akan melancarkan serangan terhadap Iran dalam waktu dua pekan hingga dua bulan ke depan.
Semarak.co – Laporan yang disiarkan oleh Radio Tentara Israel pada Ahad (1/2/2026) dan dilansir Arrahmah.id dan Getty, ini mengisyaratkan bahwa meskipun ketegangan memuncak, serangan mendadak dalam beberapa hari ke depan kecil kemungkinan terjadi.
Meski yakin AS akan melancarkan serangan, namun Eyal Zamir, yang baru saja kembali dari kunjungan ke negeri Paman Sam untuk bertemu para pejabat pertahanan Pentagon AS, mengungkapkan, periode saat ini masih diliputi ketidakpastian tinggi.
Menariknya, Radio Tentara Israel juga mengklaim adanya kerenggangan komunikasi, di mana Washington disebut tidak membagikan seluruh informasi intelijennya dan cenderung meminggirkan Israel dari proses pengambilan keputusan strategis tertentu.
Kendati terbetik isu kerenggangan, koordinasi militer tetap berjalan intensif. Pertemuan tingkat tinggi telah dilakukan, termasuk kunjungan Komandan CENTCOM Jenderal Brad Cooper ke Israel serta kunjungan Kepala Intelijen Militer Israel (Aman) Shlomi Binder ke AS.
Langkah ini bertujuan untuk menyinkronkan potensi serangan serta memersiapkan diri menghadapi serangan balasan dari Teheran. Israel saat ini mengamati dua variabel kunci yang dapat memicu eskalasi dalam waktu dekat.
Yakni, peringatan 47 tahun Revolusi Islam (1-11 Februari) dan peringatan 40 hari tewasnya ribuan demonstran dalam protes ekonomi bulan lalu. Laporan intelijen menyebut adanya faksi garis keras di bawah Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei yang menolak konsesi, berhadapan dengan faksi moderat yang lebih fleksibel terhadap negosiasi.
Di balik persiapan militer, Israel menyimpan kekhawatiran diplomatik bahwa pemerintahan Trump akan mencapai kesepakatan yang hanya berfokus pada isu nuklir namun mengabaikan program rudal balistik.
Pejabat keamanan Israel memeringatkan bahwa Trump mungkin akan mengklaim telah mencapai kesepakatan yang “lebih baik dari Obama,” namun tetap akan menjadi kesepakatan buruk bagi Israel jika Iran tetap bebas memproduksi rudal dan menggerakkan proksi-proksinya di kawasan. (net/aid/gt/kim/smr)





