Perdana Menteri Inggris Boris Johnson (kanan) berkunjung ke HMS Vengeance bersama Menteri Pertahanan Ben Wallace (tengah) di HM Pangkalan Angkatan Laut Clyde di Faslane, Skotlandia, Inggris, Senin (29/7/2019). Foto: internet

Inggris akan memperkuat kemampuan pertahanannya di luar angkasa untuk menghadapi ancaman Rusia dan China sebagai bagian dari evaluasi kebijakan luar negeri, keamanan, dan pertahanan yang dilakukan pemerintah

semarak.co– Menteri Pertahanan Inggris Ben Wallace mengatakan, pemerintah Inggris pada Kamis (23/7/2020), seperti dikutip Reuters mengungkapkan kekhawatiran terhadap uji satelit Rusia karena melibatkan peluncuran proyektil yang mirip senjata.

“Kita pada minggu ini telah diingatkan oleh adanya ancaman Rusia terhadap keamanan nasional, khususnya setelah tes provokatif proyektil yang mirip senjata dari sebuah sateli, dan tes itu mengancam lalu lintas luar angkasa yang damai,” kata Wallace dalam kolomnya di koran The Sunday Telegraph, edisi Sabtu (25/7/2020) dilansir Reuters.

Ia menambahkan bahwa China juga menebar ancaman yang sama. “China, juga, mengembangkan senjata luar angkasa yang merusak dan dua negara itu meningkatkan kekuatan mereka. Langkah demikian menunjukkan betapa pentingnya evaluasi terhadap kebijakan yang saat ini ditempuh pemerintah Inggris,” kata dia.

Ketegangan antara Inggris dan Rusia memuncak dalam beberapa pekan terakhir. Otoritas di London menjatuhkan sanksi baru terhadap Moskow karena mencurigai sejumlah warga Rusia berupaya ikut campur dalam pemilihan umum tahun lalu.

Inggris juga menuding Rusia berusaha meretas informasi mengenai pengembangan vaksin. Dalam kesempatan terpisah, Inggris pada Senin pekan ini (20/7/2020) mengumumkan pihaknya akan menunda kerja sama ekstradisi dengan China terkait penetapan undang-undang keamanan baru di Hong Kong.

Perdana Menteri Boris Johnson pada awal Juli 2020 juga memerintahkan penghentian keterlibatan perusahaan teknologi asal China, Huawei Technologies, dari seluruh pengembangan jaringan 5G di Inggris sampai akhir 2027.

China menuding Inggris sebagai kaki tangan Amerika Serikat. Sebelum ada kemelut dua pihak, Inggris pernah menginginkan China sebagai sumber utama investasi sejumlah proyek infrastruktur Inggris.

Surat kabar The Mail on Sunday memberitakan PM Johnson berencana mempelajari kembali UU makar Inggris demi mengantisipasi ancaman China dan Rusia. Langkah itu kemudian akan ditindaklanjuti dengan penyusunan UU Makar baru, penetapan UU Spionase baru dan revisi UU Rahasia Negara. (net/smr)

LEAVE A REPLY