Gaza Terus dibombardir, Genosida Tak Berhenti Saat Hujan

Koresponden media berpengaruh Timur Tengah, Al Jazeera, melaporkan pada Senin 15 Desember 2025, ratusan tenda pengungsi kembali terendam banjir seiring turunnya hujan lebat di Jalur Gaza, yang masih dikepung oleh pendudukan Israel.

Semarak.co – Israel menguasai lebih dari setengah wilayah Gaza setelah 2 tahun perang yang menewaskan lebih dari 70.000 warga Palestina. Kondisi pengungsi kian memburuk akibat tekanan cuaca ekstrem, hujan deras dan angin kencang yang menyertai sistem badai besar.

Ia menggambarkan situasi sebagai “katastrofik”, terutama karena tidak adanya intervensi dari lembaga internasional serta ketidakmampuan pertahanan sipil Gaza untuk menjalankan tugasnya dalam membantu para pengungsi, termasuk menyediakan tenda layak huni atau rumah-rumah prefabrikasi.

Sejumlah wilayah di Gaza dalam beberapa hari terakhir mengalami banjir besar yang menenggelamkan ratusan tenda. Para pengungsi hidup dalam kondisi yang sangat memilukan akibat keterbatasan kemampuan dan minimnya sarana pertahanan sipil.

Pada Jumat lalu (12/12), Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) yang berada di bawah naungan PBB memeringatkan, ratusan ribu pengungsi Gaza berisiko tenda dan tempat perlindungan terendam banjir, menyusul larangan masuk bahan bangunan untuk hunian darurat ke wilayah itu.

Pejabat Kementerian Kesehatan Gaza menyatakan bahwa hujan deras telah menyapu seluruh wilayah Gaza, menyebabkan tenggelamnya tenda-tenda yang menampung keluarga korban perang genosida Israel, serta menyebabkan kematian seorang bayi akibat cuaca dingin ekstrem.

Kantor Media Pemerintah Gaza melaporkan bahwa 12 orang tewas atau masih dinyatakan hilang akibat badai, sedikitnya 13 bangunan runtuh, dan sekitar 27.000 tenda terendam. IOM juga menyebut, 795.000 pengungsi hadapi risiko besar akibat banjir di wilayah dataran rendah dipenuhi puing-puing.

Banyak keluarga tinggal di tempat perlindungan yang tidak aman, tanpa sistem sanitasi atau pengelolaan limbah, yang meningkatkan risiko wabah penyakit. Pejabat PBB dan otoritas Palestina menyatakan, setidaknya dibutuhkan 300.000 tenda baru untuk sekitar 1,5 juta pengungsi yang masih bertahan di Jalur Gaza.

Sementara itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan bahwa lebih dari 4.000 orang tinggal di wilayah pesisir berisiko tinggi, dengan sekitar 1.000 di antaranya terdampak langsung oleh gelombang laut yang ganas.

Serangan dan Pengeboman Berlanjut

Di tengah krisis kemanusiaan ini, pendudukan Israel terus melancarkan serangan udara dan tembakan artileri di berbagai wilayah Gaza pada Senin (15/12), termasuk di area yang berada di bawah kendalinya berdasarkan perjanjian gencatan senjata.

Saksi mata melaporkan bahwa tentara ‘Israel’ melakukan serangkaian serangan udara ke kota Rafah di selatan Gaza, yang sepenuhnya berada di bawah kendali ‘Israel’ menurut kesepakatan, serta menembakkan senjata secara membabi buta di bagian utara Rafah.

Dalam insiden lain, artileri Israel menembaki wilayah timur Khan Yunis di selatan Gaza, juga di area kendali Israel, sementara helikopter tempur militer Israel menembakkan senjatanya di kawasan konflik rawan tersebut.

Helikopter Zionis Yahudi Israel juga melepaskan tembakan di timur Jabalia, Gaza Utara, Palestina, dan kendaraan militer Zionis Israel untuk menembakkan senjata otomatis ke arah timur Kota Gaza dimana warga Palestina berada.

Juru bicara pertahanan sipil Gaza, Mahmoud Basal, mengatakan, proses pencarian jenazah para syuhada di bawah reruntuhan bangunan di Kota Gaza dilakukan dengan peralatan sangat sederhana, karena Israel melarang masuknya alat berat yang dibutuhkan untuk mengangkat puing-puing.

Ia menyerukan kepada pihak-pihak internasional penjamin gencatan senjata agar segera turun tangan menyediakan peralatan yang diperlukan guna mengevakuasi jenazah para korban warga Gaza dari bawah reruntuhan.

Israel terus melanggar perjanjian gencatan senjata yg ditandatanganinya dengan para pejuang Hamas. Sejak Oktober lalu, pelanggaran tersebut telah menyebabkan 391 warga Palestina gugur dan 1.063 lainnya terluka, demikian dilansir arrahmah.id dari al jazeera dan kantor berita anadolu pada 16/12/2025

Perjanjian tersebut secara resmi mengakhiri perang genosida yang dimulai Israel pada 8/11/2023 dan berlangsung selama 2 tahun, dengan korban lebih dari 70.000 syahid, 171.000 luka-luka, serta kehancuran masif. PBB memerkirakan biaya rekonstruksi Gaza mencapai 70 miliar dolar AS. (net/aid/alz/and/kim/smr)

Pos terkait