Sebuah insiden mengejutkan di Ideal College di Kalyan, Maharashtra, telah menimbulkan kekhawatiran serius di kalangan umat Muslim setelah kelompok Hindu radikal memaksa tiga mahasiswa Muslim untuk meminta maaf dan dipaksa menyentuh kaki patung berhala.
Semarak.co – Sementara petugas polisi hanya berdiri dan menonton. Dilansir arrahmah.id dari Clarion India (23/11/2025), para mahasiswa itu dihukum anggota kelompok Hindu radikal Vishwa Hindu Parishad (VHP) dan Bajrang Dal gara-gara shalat di ruang kelas yang kosong.
Mereka menuduh para mahasiswa tersebut menyakiti perasaan umat Hindu dan menuntut tindakan tegas. Salah satu mahasiswa Muslim mengatakan kepada wartawan bahwa mereka tidak menyangka akan mendapat reaksi seperti itu.
“Kami hanya shalat beberapa menit di ruang kosong. Kami tidak ingin menyakiti siapa pun. Kami tidak merusak apa pun atau mengganggu siapa pun,” kata salah seorang mahasiswa Muslim tersebut, mencoba menjelaskan persoalan yang sebenarnya.
Namun, alih-alih menyelesaikan masalah ini secara diam-diam, situasi tersebut justru berubah menjadi penghinaan publik. Video kedua pun muncul yang menunjukkan tiga mahasiswa Muslim diperintahkan oleh anggota kelompok Hindu radikal untuk melakukan sit-up dan meminta maaf di depan patung berhala Chhatrapati Shivaji Maharaj.
Salah satu anggota kelompok Hindu radikal terdengar berteriak bahwa mereka harus dihukum. Mereka memaksa para mahasiswa untuk menyentuh kaki patung tersebut. Saat para mahasiswa yang ketakutan melakukannya, beberapa pria berteriak “Jai Shri Ram”.
Seorang warga Muslim setempat yang menyaksikan kejadian tersebut mengatakan, “Mereka memerlakukan anak-anak itu seperti penjahat. Polisi hanya berdiri di sana dan tidak melakukan apa pun. Para remaja itu menangis. Ini bukan hukum, ini perundungan.”
Menurut saksi mata, polisi sudah tiba segera setelah kerusuhan dimulai. Alih-alih menghentikan perundungan itu, petugas justru membiarkan para anggota kemunitas agama Hindu radikal melanjutkan perilaku mereka.
Beberapa kalangan dari komunitas Muslim di daerah tersebut mengatakan, hal seperti ini semakin sering dan umum terjadi di negara bagian yang terutama diperintah BJP.
Orang tua salah satu siswa Muslim berkata, “Anak saya dipaksa membungkuk di depan berhala. Ini bukan permintaan maaf, ini penghinaan. Polisi seharusnya melindunginya. Sebaliknya, mereka membiarkan kelompok-kelompok ini melakukan apa pun yang mereka inginkan.”
Ketika polisi tiba di lokasi, pihak administrasi Ideal College memberi tahu mereka bahwa itu adalah masalah internal dan mengatakan mereka akan mengurusnya sendiri. Ketiga mahasiswa tersebut meminta maaf kepada pihak administrasi, dengan mengatakan bahwa mereka tidak pernah bermaksud melanggar aturan apa pun.
Namun, anggota VHP dan Bajrang Dal bersikeras memerintahkan bahwa para mahasiswa Muslim pelanggar tersebut harus rela meminta maaf lagi, bahkan kali ini di depan berhala, lalu dengan kamera yang merekam semuanya.
Yang mengejutkan, terlepas dari penghinaan di depan umum, pihak kampus mengatakan sedang bersiap untuk mengambil tindakan terhadap siswa yang menjadi korban. “Kegiatan keagamaan tidak diperbolehkan di kampus. Jika hal seperti itu terjadi lagi, tindakan tegas akan diambil. Aturan institusi harus dipatuhi.”
Sementara mayoritas orang tua Muslim mengatakan bahwa kampus tersebut bertindak di bawah tekanan dari kelompok-kelompok agama Hindu radikal dan ekstrem, alih-alih melindungi siswanya sendiri.
Umat Muslim mengatakan apa yang terjadi di Kalyan merupakan bagian dari pola yang lebih luas. Baru-baru ini di Pune, anggota parlemen BJP, Medha Kulkarni, menuangkan air kencing sapi ke dalam sebuah benteng setelah sekelompok perempuan Muslim shalat di sana.
Alih-alih menginterogasi anggota parlemen tersebut, polisi hanya mengajukan laporan polisi terhadap para perempuan Muslim tersebut. Seorang pekerja sosial Muslim di Mumbai mengatakan, “Ini bukan penegakan hukum. Ini adalah penargetan sepihak. Kelompok Hindu radikal melakukan apa pun yang mereka inginkan, dan umat Muslim dihukum bahkan ketika mereka shalat dengan tenang.”
Komunitas Muslim kini menuntut penyelidikan yang adil, tindakan terhadap mereka yang mempermalukan anak-anak laki-laki tersebut, dan perlindungan bagi para siswa Muslim agar tercipta keadilan sosial yang setara.
Seorang tetua masyarakat berkata, “Jika anak-anak Muslim bahkan tidak bisa shalat dengan tenang tanpa diserang, apa artinya ini tentang keselamatan? Hari ini shalat, besok akan berbeda.”
Video-video dari Kalyan terus beredar luas di internet, menuai kritik keras dari organisasi-organisasi Muslim di seluruh negeri. Banyak yang menyerukan tindakan terhadap aktivis VHP dan Bajrang Dal yang memaksa anak-anak laki-laki Muslim untuk bersujud di hadapan berhala tersebut.
Untuk saat ini, pihak kampus mengatakan akan “menyelidiki masalah ini,” tetapi masyarakat khawatir para mahasiswa Muslim akan menghadapi hukuman sementara para pria Hindu radikal akan diampuni. (net/ad/ci/kim/smr)





