Konflik internal dan posisi negara yang buruk di mata dunia bisa memecah belah negara hingga runtuh. Itu dikatakan oleh Mantan Jenderal Pasukan Pertahanan Israel (IDF) Itzhak Brik. Dia pun memeringatkan, Israel bisa bubar sebelum tahun 2048.
Semarak.co – Pernyataan itu disampaikan Itzhak Brik melalui artikel opini di harian Maariv dan Middle East Monitor seperti dilansir Cnnindonesia.com pada 9 Februari 2026 dengan judul “Israel menuju kehancuran, dan hanya satu jalan untuk menyelamatkannya.”
“Ketika saya mencoba menatap masa depan, pertanyaan yang muncul adalah: akankah Negara Israel bertahan hingga berusia 100 tahun?” tulis Itzhak Brik dalam artikel opini hasil karyanya seperti dikutip Middle East Monitor.
Mengacu pada Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, Brik menilai Israel dipimpin oleh pemerintahan yang lebih mengutamakan kelangsungan politik daripada kepentingan publik. Menurutnya Israel telah berkembang menjadi masyarakat yang terbelah dari dalam.
Ia menyebut ada kebencian mendalam antar kelompok sosial, antara kubu kanan dan kiri, serta antara Yahudi dan Arab. Ia juga menambahkan daya tahan Israel terus menurun di seluruh sektor, mulai dari keamanan, ekonomi, pendidikan, kesehatan, infrastruktur hingga ilmu pengetahuan.
Israel bisa bertahan hingga 100 tahun jika dipimpin generasi muda yang mampu mengubah keputusan menjadi tanggung jawab dan polarisasi menjadi kerja sama intelektual. “Perlu memberdayakan generasi muda mengambil peran kepemimpinan dan membawa negara keluar dari krisis.”
“Tantangan yang kita hadapi, mulai dari pemulihan keamanan di wilayah utara (dengan Lebanon dan Suriah) dan selatan (dengan Gaza) hingga membangun ekonomi dan hubungan internasional, butuh energi oleh mereka yang masih memiliki puluhan tahun kehidupan di masa depan,” tulisnya.
Pada 8 Oktober 2023, Israel memulai agresi militer di Gaza, hampir dua tahun menewaskan lebih dari 72.000 warga Palestina dan sebanyak 171.000 orang terluka. Para pejabat Israel berulang kali mengakui negara itu menghadapi krisis serius di bidang politik, keamanan, ekonomi dan media.
Kemarahan publik resmi di tingkat global juga semakin meningkat terhadap tindakan Israel. Sementara, Israel juga melancarkan perang terhadap Lebanon dan Iran pada fase berbeda, melakukan serangan udara dan operasi darat di Suriah, serta menyerang Yaman, dan melancarkan serangan udara ke Qatar.
Sejak 1948, Israel berdiri di wilayah yang direbut oleh kelompok bersenjata Zionis yang melakukan pembantaian dan pengusiran ratusan ribu warga Palestina. Kemudian menduduki sisa wilayah Palestina pada 1967 dan hingga kini menolak penarikan pasukan serta pembentukan negara Palestina. (net/cni/m/mem/kim/smr)





