Para analis-pengamat ekonomi di Eropa dan Amerika Serikat berspekulasi bahwa penutupan Selat Hormuz dapat mendorong harga minyak di atas 120 dolar AS per barel, memicu guncangan ekonomi yang sebanding dengan krisis minyak.
Semarak.co – Bayang-bayang serangan militer Amerika Serikat terhadap Republik Islam Iran di bawah pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump mulai menekan stabilitas ekonomi di kawasan Teluk.
Ancaman Teheran untuk menutup dan menyegel Selat Hormuz sebagai balasan atas agresi negara Paman Sam Amerika Serikat memicu kekhawatiran akan krisis energi global yang setara dengan krisis minyak pada era 1970-an.
Selat Hormuz merupakan urat nadi energi dunia, hampir 20% pasokan minyak maritim global melintas. Penutupan jalur diperkirakan melambungkan harga minyak hingga melampaui 120 dolar AS per barel, memberikan dampak sistemik bagi mitra dagang utama, Cina, India, Jepang dan Korea Selatan.
Laporan dari Washington Institute mencatat bahwa dampak ekonomi jangka pendek sudah mulai terasa. Premi risiko perang untuk pengiriman barang ke Teluk melonjak dari 0,2–0,3% menjadi 0,5%, menambah biaya operasional hingga puluhan ribu dolar per perjalanan.
Negara-negara seperti Arab Saudi, UEA, Kuwait dan Qatar menghadapi ancaman fiskal yang serius. Meskipun memiliki pipa alternatif, kapasitasnya tidak mampu mengimbangi volume 15-21 juta barel minyak yang biasanya melewati Hormuz setiap hari.
Bank Dunia memproyeksikan defisit fiskal Arab Saudi bisa mencapai angka 5,6% pada tahun 2026 jika ekspor mengalami hambatan. Ketegangan geopolitik ini mulai mengikis kepercayaan investor internasional.
Studi dari EY menunjukkan bahwa 39% investor kini menempatkan ketegangan politik sebagai risiko utama di kawasan Teluk. Situasi ini mengancam rencana diversifikasi ekonomi jangka panjang, termasuk proyek ambisius Saudi Vision 2030.
“Kebijakan AS yang mendorong kawasan menuju konfrontasi mengancam rute maritim vital dan keamanan energi,” ujar pakar ekonomi politik, Raed Al-Masri. Ketergantungan pada tolok ukur harga minyak, lanjutnya, tetap membuat anggaran negara-negara Teluk rentan terhadap kebijakan era Trump.
Pakar ekonomi Mustafa Youssef mencatat, retorika “ambang perang” telah mendorong harga emas melonjak di atas 5.300 dolar AS per ons. Hal ini mencerminkan merosotnya kepercayaan global terhadap dolar.
Itu diakibatkan kebijakan Presiden AS Donald Trump yang sangat kontroversial, termasuk tekanan terhadap Bank Sentral (Federal Reserve) dan ketegangan dengan negara-negara sekutu Barat yang merasa terancam.
Karena mata uang negara-negara Teluk dipatok (pegged) terhadap dolar, dan dana kekayaan berdaulat (sovereign wealth funds) mereka banyak diinvestasikan dalam aset keuangan AS, kawasan ini menghadapi risiko kerugian besar jika pasar AS anjlok akibat eskalasi konflik.
Para ahli ekonomi menyerukan agar negara-negara Teluk segera melakukan diversifikasi terhadap kemitraan ekonomi dengan negeri tirai bambu China dan negara-negara Eropa yang menganut sistem independen.
Berbagai langkah-langkah ini dianggap bukan lagi pilihan, melainkan keharusan strategis untuk melindungi kepentingan jangka panjang di tengah sistem global yang semakin volatil dewasa ini. Demikian dilansir Arrahmah.id pada 3 Februari 2026. (net/aid/gt/kim/smr)





