Diterpa Isu Tim Main Sabun di Ajang Proliga 2025, PBVSI Siap Terima Format Baru Final Four Mendatang

Pevoli Bhayangkara Presisi, Kyle Russell (tengah) melakukan spike dan dihadang pevoli putra LavAni, Boy Arnez Arabi dalam pertandingan Grand Final Proliga 2025 di Gor Amongrogo, Yogyakarta, Minggu (11/5/2025). Foto: internet

Pengurus Pusat Persatuan Bola Voli Seluruh Indonesia (PP PBVSI) akhirnya memberikan komentarnya terkait isu konspirasi hingga main sabun yang terjadi di ajang Proliga 2025. Gelaran Proliga 2025 telah selesai dengan Jakarta Bhayangkara Presisi sebagai juara di sektor putra dan Jakarta Pertamina Enduro di tim putri.

Semarak.co-Namun perhelatan Proliga 2025 terutama di babak final four rupanya menjadi pembicaraan yang cukup panas. Beberapa tim dinilai bermain tak all out setelah memastikan tiket ke final. Hal itu membuat isu main sabun atau bermain kotor mencuat dan ramai jadi perdebatan di kalangan voli mania.

Bacaan Lainnya

Di sektor putra, Tim Jakarta LavAni Livin’ Transmedia menurunkan pemain pelapis di dua laga terakhir final four. Walaupun di fase reguler dan final four, Klub Voli Putra Jakarta LavAni Livin tidak pernah kalah sekali pun atau baru kalah malah di Grand Final.

Isu lebih panas menyasar sektor putri dan menimpa tim sang juara Jakarta Pertamina Enduro. Ketika sudah memastikan tiket ke grand final, Pertamina Enduro di dua laga terkhir melawan dua tim yang bersaing meraih tiket ke final, Popsivo Polwan dan Gresik Petrokimia.

Situasi kala itu, Gresik Petrokimia bisa lolos ke partai puncak dengan syarat Jakarta Pertamina Enduro mengalahkan Popsivo Polwan. Sementara Popsivo, dapat melenggang ke laga puncak asal mampu mengalahkan Pertamina skor berapa pun. Hasilnya di luar prediksi, Popsivo Polwan mampu menang 3-0.

Padahal dua hari sebelumnya, Pertamina mampu menciptakan comeback 3-2 setelah tertinggal dua set lebih dulu atas Petrokimia. Apa yang terjadi pada babak final four Proliga 2025 ini memunculkan masukan agar PBVSI mengubah format kompetisi Proliga.

Ketua Bidang Kompetisi PP PBVSI Reginald Nelwan menilai, keputusan tim untuk menyimpan tenaga dan tak all out ketika sudah memastikan tiket grand final itu bagian dari stretegi tim dan sepenuhnya bisa disalahkan. Hal itu dilakukan demi tujuan akhir yang didapat, yakni menjadi juara ketika bermain di partai puncak.

“Kalau soal itu kita gak bisa menyalahkan stretagi tim, dia pengin maksimal di final. Kami melihat bahwa mereka itu sebenarnya mencoba membuat second skuadnya itu agar siap juga. Kenapa? Kalau gak digituin mungkin pemain cadangannya akan lebih gak siap,” kata Regi saat ditemui setelah pertandingan grand final di GOR Amongrogo, Yogyakarta, Minggu (11/5/2025).

Salah satu ide yang muncul adalah mencontoh format di Liga Voli Korea, yakni dengan memberi keuntungan kepada tim teratas di final four untuk lolos langsung ke grand final. Sementara satu tiket tersisa untuk grand final akan diperebutkan oleh tim peringkat 2 dan 3 final four.

Tak hanya itu, di Liga Voli Korea ada pula konsep babak semi-playoff di mana tim peringkat keempat bisa menantang tim peringkat tiga selama selisih poinnya tiga poin atau kurang. Dengan begitu, dalam setiap laga tim akan berusaha memberikan penampilan terbaiknya, supaya bisa menjadi peringkat pertama dengan keuntungan yang didapat.

Di sisi lain, semua tim juga akan berusaha untuk menghindari semaksimal mungkin peringkat 4, karena auto gugur. Sehingga, secara dari segi hiburan maupun fair play pertandingan, dapat terjaga dengan baik, tak ada asumsi liar di kalangan voli mania.

Pihak PB PBVSI pun tak menutup ruang untuk merubah format kompetisi di edisi mendatang agar persaingan lebih menarik dan mencegah munculnya isu main sabun. “Prinsipnya kalau ada usulan yang lebih menarik kita akan coba tampung, kita akan coba analisa dulu,” ujar Regi merespon.

“Tentunya juga kita akan diskusikan dulu dengan pengurus, sama sponsor sama yang lain juga,” demikian Regi menambahkan seperti dilansir tribunnews.com melalui laman berita msn.com, Senin (12/5/2025). (net/tbc/msn/smr)

Pos terkait