Tragis. Calon juara Copa del Rey, Barcelona, justru dibantai 0-4 oleh rivalnya, Atletico Madrid di semifinal leg 1. Pelatih Barcelona, Hansi Flick pun tak bisa menyembunyikan kekecewaannya. Hasil buruk itu menyisakan bekas yang besar, terutama karena kerusakan terjadi di awal pertandingan.
Semarak.co – Hansi Flick menjelaskan bahwa masalah utamanya bukan hanya skor, tetapi bagaimana timnya memulai pertandingan. Barcelona kesulitan menemukan ritme, intensitas dan koordinasi di tahap awal dan Atlético memanfaatkan sepenuhnya momen itu.
Pelatih asal Jerman itu mengakui bahwa awal yang lambat telah merugikan timnya lebih dari sekali musim ini. “Kami tidak bermain bagus sebagai tim. Dan ketika Anda tidak bermain seperti itu, Anda tidak bermain bagus,” katanya di AS dikutip Barca Blaugranes.
Kehilangan Rashford di Semifinal Copa del Rey “Ada kurangnya tekanan”. Terkadang bagus untuk belajar dari kesalahan seperti itu. Kemudian kami bermain lebih baik,” ujar pelatih bekas juru taktik sukses klub raksasa Jerman Bayer Muenchen.
Mantan asisten pelatih Joachim Low di Timnas Jerman (2006-2014) menegaskan, mereka tidak akan buang handuk dan menyerah. “Tapi kami akan berjuang. Kami punya dua babak 45 menit untuk mencetak dua gol di setiap babak,” tegasnya.
Namun Hansi Flick menolak untuk mengubah kekecewaannya menjadi kritik terhadap skuad. Ia menekankan bahwa tim telah menunjukkan karakter sepanjang musim, bahkan saat menghadapi cedera dan momen-momen sulit.
Ketika ditanya apakah ia kecewa dengan para pemain, ia menjelaskan, “Begini, ketika saya mengatakan saya kecewa, mungkin itu tidak tepat. Saya bangga dengan para pemain ini musim ini,” ujar pelatih yang direkrut Barca pada 2024 lalu.
“Kami mengalami cedera. Dan itu bagian dari permainan. Terkadang Anda kalah. Hari ini adalah peringatan, kekalahan yang berat. Dan kami akan kembali,” lanjut mantan pemain SV Sandhausen dan Bayern Munich (104 penampilan dari 1985-1990).
“Kita harus menerima pelajaran ini. Kami tidak bermain bagus sejak menit pertama. Kami memiliki tim muda, tetapi itu bukan alasan. Kemudian, babak kedua lebih baik,” kata Flick yang memulai melatih di FC Bammental (1996-2000) dan Hoffenheim (2000-2005).
Salah satu momen paling kontroversial malam itu terjadi ketika Pau Cubarsi mengira dia telah mencetak gol, tetapi gol tersebut dianulir setelah tinjauan VAR yang panjang. Flick jelas frustrasi dengan keputusan tersebut.
“Apa yang bisa saya katakan? Lihat, kami memulai dengan kartu kuning. Tindakan pertama terhadap Balde adalah kartu kuning,” keluhnya. “Dan seharusnya bisa ada kartu kuning kedua. Bagi saya, ini kacau. Kita harus menunggu, berapa lama, tujuh menit? Mencari sesuatu. Saya tidak tahu,” katanya.
“Berapa lama kita harus menunggu, tujuh menit, tujuh menit? Bagi saya, itu jelas bukan offside. Saya melihatnya berbeda,” tegasnya. “Lalu, ketika mereka membatalkannya, mereka tidak memberi tahu kami apa pun. Tidak ada komunikasi.”
“Saya tidak mengerti mengapa itu offside. Ini memalukan. Ini bencana,” kritiknya. Dalam konferensi pers pasca pertandingan, Hansi Flick terus merefleksikan keputusan wasit dan bagaimana hal itu memengaruhi pertandingan, seperti dilansir Herald.id pada 13/2/2026.
Membahas pelanggaran awal, ia berkata, “Apa yang bisa saya katakan? Pertama-tama, pelanggaran pertama terhadap Balde adalah kartu kuning untuk Giuliano (Simeone), dan itu mungkin telah mengubah seluruh jalannya pertandingan,” ucapnya.
“Seharusnya ada kartu kuning kedua juga,” lanjut pelatih kaya taktik. Ia juga menjelaskan mengapa Marc Casado ditarik keluar pada babak pertama, meskipun gelandang tersebut telah bermain bagus dalam duel.
“Saya harus menarik Marc keluar karena ia sudah mendapat kartu kuning dan berisiko mendapat kartu merah, meskipun ia memenangkan banyak duel di lini tengah,” pungkas pelatih peraih 7 tropi buat Bayer Muenchen termasuk Liga Champions. (net/hid/kim/smr)





