Detik-detik Israel Musnah: Skenario yang Begitu Indah

Gedung Institut Sains Weizmann bukanlah sekadar kampus tempat mahasiswa mengejar gelar sambil ngopi dan debat algoritma di Israel kini hancur lebur terkena rudal Iran sebagai serangan balasan. Foto: internet

Oleh Agus Wahid *)

Semarak.co – “Israel tak akan pernah kalah”, ujar seseorang dari negeri Konoha ini, berbusana layaknya ustadz, terkesan santri, mengomentari bombardir Iran terhadap negeri Zionis dalam masa 15 hari terakhir ini.

Bacaan Lainnya

Sebuah renungan, apakah pendapatnya berpijak pada serangkaian fakta historis atau hanya mitos karena berangkat dari entitas bangsa Israel sebagai manusia pilihan Allah? Jika kita cermati dari sejak berdirinya negeri Israel Zionis pada 14 Mei 1948, fakta historis bicara.

Pertama, begitu Golda Meir yang dibantu Inggris mendeklarasikan negara Israel sebagai negara merdeka, sejumlah negara Arab langsung mengepung. Mesir – di bawah Raja Farouk – langsung mengirimkan pasukan dan tank-tanknya ke Tel Aviv.

Raja Abudullah I (1882 – 1951) dari Yordania juga mengirimkan pasukannya, ke ibukota Israel itu. Syiria di bawah Presiden Syukri al-Kuwaiti (masa pemerintahan 17 Agustus 1943 – 24 Oktober 1945) tak ketinggalan: ikut menggempur Israel yang baru berusia sebiji jagung.

Dan Arab Saudi – di bawah Raja Abdulaziz ibn Abdul Rahman al-Saudi (Raja pertama Kerajaan Saudi Arabia dari 1932 – 1953) sama-sama terpanggil: menggempur Israel. Serangan gabungan negara-negara Arab itu nyaris memusnahkan Israel yang baru berdiri.

Data historis menunjukkan, posisi Israel yang terjepit langsung “djawab” oleh Inggris, yang kala itu dipimpin Winston Churchill selaku Perdana Menteri Inggris, keturunan Yahudi. Jawabannya bukan hanya dengan eksplorasi kekuatan politik diplomatiknya, tapi dengan menurunkan senjata-senjata modern dan personel militernya.

Langsung menghadapi kekuatan gabungan Arab itu.  Hasilnya, pasukan gabungan Arab yang kalah canggih persenjataannya dan miskin pengalaman perang terpukul mundur. Israel pun selamat.

Yang sangat menyedihkan, pada 1950, terbit UU Properti Absentee yang mengizinkan Israel menyita paksa properti warga Palestina. Fakta historis ini memperkuat premis: Israel tak mungkin kalah.

Kebijakan perampasan properti warga Palestina membikin kemarahan besar bagi sejumlah bangsa Arab. Maka, sebagai hal kedua, pada 1956, meletus lagi perang Arab-Israel 1956. Hasilnya, kekuatan gabungan Arab semakin tereduksi.

Bukan hanya mampu memukul mundur kekuatan gabungan Arab, tapi Israel – dengan dibantu Inggris – Israel melebarkan wilayah jajahannya, dalam bentuk pembangunan pemukiman yang demikian massif. Untuk kepentingan penduduk Israel.

Inggris – selaku pemegang otoritas wilayah Palestina berdasarkan Perjanjian Sykes-Picot pada 1916 – pun kian memproteksi kepentingan Israel yang membutuhkan daerah pemukiman Yahudi. Kebijakan itu menuai reaksi anak bangsa Palestina dan sejumlah negara Arab.

Namun, reaksinya selalu ditumpas oleh kekuatan Inggris. Satuan bangsa Arab kian merasakan ancaman kehadiran Israel di wilayah Palestina. Puncaknya, pada Juni 1967, meletuslah konflik besar-besaran Arab-Israel.

Sebuah perang selama enam hari yang tercatat dalam sejarah Timur Tengah sebagai Perang Youm Kippur, kekuatan Arab bukan hanya kalah, tapi akibat kekalahan kekuatan gabungan Arab itu membuat sekitar 78% wilayah Palestina yang berluas 26.790 km2 tercaplok.

Para gangster Zionis seperti Manahim Begin, Yitzak Rabin, Yitzak Shamir – di bawah payung kekuasaan Inggris – melakukan pengusiran sekitar 750.000 warga Palestina. Sejarah mencatat, Perang Youm Kippur itu mengakibatkan perubahan peta Palestina.

Sejarah mencatat keputusan paksa dari negara pemenang perang dengan menerapkan Palestine Partition (pembagian wilayah Paestina).  Negeri Hasyimiet ini terbagi secara tidak adil di antara Israel dan Palestina (wilayah Gaza dan Tepi Barat).

Yang membikin hati tersayat, bukan hanya tercaploknya sebagian besar tanah Palestina, Kota Jerussalem pun akhirnya harus terbagi dua: Jerussalem Timur untuk Palestina dan Jerussalam Barat untuk Israel. Pembagian ini mendorong Yahudi Zionis memindahkan ibukotanya, dari Tel Aviv ke Kota Suci Jerussalam.

Sebuah pencaplokan yang membikin tragedi sejarah pahit hingga kini. Bukan hanya umat muslim Palestina dilarang beribadah di masjid al-Qud, tapi umat muslim sedunia babhkan umat Nasrani pun tak bebas berkunjung ke masjid al-Qud dan sekitarnya (kota Jerussalem).

Harus kita catat, lika-liku perang Arab – Israel memperkuat premis: Israel tak terkalahkan. Premis ini terus berlaku. Ketika 1973 – sebagai hal ketiga – sejarah konflik Arab – Israel pecah lagi. Perang yang dikomando Presiden Mesir, Anwar Sadat tergolong sukses besar bagi kekuatan Arab.

Benteng andalan Isarel (Barlev) yang notabene tak mungkin tertembus oleh lawan, kala itu berhasil diporakperandakan. Sejarah mencatat, dalam perang 1973 ini, Mesir berhasil merebut kembali Gurun Sinai. Jordan berhasil merebut Dataran Tinggi Golan.

Lebih dari itu, Arab Saudi yang menutup keran minyaknya selama sekitar 1 jam (stop ekspor) mengakibatkan Eropa diperhadapkan krisis energi listrik. Banyak industri yang mandeg operasi. Malam hari, Eropa seperti kota “mati”. Saat itu kebetulan sedang datang musim dingin.

Maka, masyarakat Eropa pun banyak yang menderita kedinginan. Dampak politiknya, ketika itu banyak pemimpin negara-negara Eropa, termasuk Jepang, mengakui keberadaan Palestinian liberation Organization (PLO) di bawah kepemimpinan Jasser Arafat.

Namun, fakta di lapangan menunjukkan, ketika pertahanan kekuatan Israel telah kocar-kacir, sejarah mencatat, pasukan gabungan negara-negara Arab berhadapan langsung dengan kekuatan Amerika Serikat. Tidak hanya personelnya, tapi juga persenjataannya yang jauh lebih canggih.

Akhirnya, Anwar Sadat yang memimpin operasi militer gabungan itu pun menyadari: tak mungkin mengalahkan Israel, apalagi memusnahkan. Kesadaran itu pun mendorong Anwar Sadat sebagai komandan utama dalam Perang 1973 dipaksa harus melakukan perundingan damai dengan Israel.

Sejarah mencatat – meski beselang sekitar lima tahun pasca Perang 1973 –Kota Camp David menjadi saksi perdamaian Mesir – Israel. Pada 17 September 1978, tercapai kesepakatan damai di antara dua negara itu. Perlu kita catat, Perjanjian Camp David – di satu sisi – memecah kesatuan politik tempur negara-negara Arab.

Di sisi lain, Mesir dikecam bahkan dikucilkan dari pergaulan politik Dunia Arab. Dan – hal ini yang paling krusial – Israel berhasil melumpuhkan salah satu kekuatan utama negara-negara Arab. Kesimpulannya, Israel pun bukan hanya selamat, tapi kian digdaya. Lagi-lagi, premis “Israel tak mungkin kalah” terbukti.

Dan sejarah mencatat, sejak perang 1973, praktis negara-negara Arab yang telah pecah persekutuannya tak terlihat lagi perlawanannya terhadap Israel. Hal ini membuat negeri Zionis kian agresif melakukan penjajahannya terhadap bangsa Palestina.

Jika ada perlawanan, bersifat kelompok-kelompok kecil seperti Hizbullah yang bermarkas di Libanon Selatan. Atau, perlawanan Intifada dari anak bangsa Palestina dan sejumlah perlawanan sporadiknya justru kian diburu dengan kekuatan penuh dari Israel. Tentara Zionis kian liar dalam pendudukannya di Tanah Palestina.

Mereka terus mengejar dan membantai penduduk bangsa Palestina, tanpa mengenal usia dan jender. Anak-anak dan kaum wanita menjadi santapan rutin. Tidak hanya kepada penduduk Palestina yang melakukan perlawanan, penduduk sipil pun diburu setiap rumahnya.

Bahkan, tak henti-hentinya melakukan pembantaian, termasuk sejumlah ledakan. Pembantaian itu terus berlangsung. Sudah beberapa dekade: sekitar 77 tahun. Namun, pada 2024 – 2025 ini terdapat pemandangan yang sangat perbeda.

Beberapa hal yang perlu kita garis-bawahi – pertama – pembantaian yang menelan ribuan warga Palestina ternyata menggerakan hati nurani berbagai anak bangsa di seluruh dunia. Belahan Eropa – dengan antusias – menunjukkan keberpihakan politiknya pro Palestina.

Sejumlah negara Asia terutama Korea Selatan, China, Rusia dan negara-negara Asia Selatan dan Tenggara juga menunjukkan empatinya terhadap nasib bangsa Palestina. Yang luar biasa menariknya, masyarakat Amerika saat ini demikian demonstratif dan massif menunjukkan keberpihakan politiknya terhadap nasib bangsa Palestina.

Lebih dari itu, di sejumlah negara Eropa dan AS, mereka pun menyuarakan yel-yel “free Palestine, Free Palestine”, sebuah sikap politik yang kini juga ditunjukkan oleh para pemimpin mereka dari masing-masing negara yang dulunya anti Palestina. Sungguh mengejutkan pemandangan pro kemanusiaan itu.

Dan yang lebih luar biasa lagi, penduduk sipil Israel sendiri – menurut sumber AI – sekitar 39.000 orang menggeruduk Benyamin Netanyahu untuk mundur dari pemerintahannya. Dan sekitar 10.000 pasukannya melakukan diserse (mundur dari satuannya) secara bersama-sama.

Pemandangan itu – sebagai hal kedua – tak lepas dari serangan Iran yang bertubi-tubi selama 15 hari terakhir. Ribuan rudal balistik dan hyperponicnya diarahkan ke sejumlah wilayah strategis Israel seperti Kirya (Pentagonnya AS), kota-kota metropolitan Telaviv, Haifa, Beersheba dan sejumlah daratan Israel lainnya.

Wilayah itu dibombardir tanpa ampun. Tekad Iran hanya satu: memusnahkan negara Israel dari peta bumi. Tekad ini mendapat dukungan penuh dari empat negara pemilik, produsen dan pengendali rudal-rudal berhulu ledak nuklir seperti Korea Utara, Rusia, China dan Pakistan.

Sebuah dukungan yang membuat AS pun ngeri atau harus berhitung jika tetap membela kepentingan militer Israel. Kita saksikan, gedung-gedung pencakar langit di Israel sudah berubah menjadi puing-puing. Wilayah bunker yang dirasakan aman bahkan dijadikan tempat persembunyian Netanyahu pun hancur.

Penduduk Israel pun berhamburan ke daerah-daerah pegunungan. Mereka meraung-raung, memohon, “Please stop the war… Please. Apologize me, Iran….”, sebuah jeritan dan permohonan ampun yang tentu dipandang sebelah mata. Memang, Iran yang menggempur Israel.

Tapi, mengapa tidak meminta maaf kepada bangsa Palestina yang sudah dijajah selama 77 tahun dengan sangat keji dan biadab? Mengapa mereka tak pernah empati terhadap bangsa Palestina yang dibantai secara keji dan diporakpandakan propertinya dan dibiarkan hidup di bawah terpaan matahari dan udara yang super dingin ketika malam, serta kelaparan yang berkepanjangan?

Manusia yang tak punya empati, pantaskah dibalas dengan “susu”? Ke mana kalian wahai manusia syayathin? Ketika bangsa Palestina sedang penuh penderitaan, kalian mentertawakan dan “nyukurin”. Kini, kalian minta belas kasihan? Sorry ye, sorry ye…

Tak kalah pentingnya, dukungan serangan Iran juga mendapat dukungan politik internasional dari negara-negara Islam dan Arab, termasuk Turki. Mereka memang tidak membantu secara persenjataan untuk menggempur Israel.

Tapi, ketika pesawat tempur Israel ataupun AS yang melintasi dirgantara mereka, langsung dicegat. Dan itulah yang dilakukan Turki dan Rusia beberapa hari lalu. Kini, Israel tidak hanya sedang diperhadapkan amuk rudal Iran dalam jumlah tak terbatas.

Tapi, masyarakat sipilnya pun – karena krisis pangan dan keuangan – berubah menjadi manusia-manusia ganas. Penjarahan di mana-mana. Pusat-pusat perbelanjaan yang masih ada diserbu. Sementara, demo meluas di mana-mana.

Sekali lagi, bukan hanya minta perang segera dihentikan, tapi rakyat Israel terus mendesak agar Knesset (parlemen) Israel segera mengimpeach posisi Netanyahu yang masih keras kepala. Meski sedikit beda, Donald Trump pun menghadapi tekanan domestik yang luar biasa.

Meski belum lama ini Kongres AS tidak mengabulkan desakan “Fraksi” Democrat untuk impeachment Trump, namun demo massif AS yang meluas berpotensi besar untuk melengserkan Trump. Bisa jadi, digiring sebagai aktor (penjahat) perang.

Kini, sejumlah wilayah AS seperti Los Angeles, New York sudah membara melakukan perlawanan anti Trump. Trump pun – nampaknya sebagai strategi (akal bulus) – berubah sikap politiknya: mulai mendukung kebijakan Iran. Bahkan, memarahi Netanyahu. Maka, saat ini Israel “seorang diri”, tanpa back up.

Bahkan, rezim Netanyahu harus berhadapkan dengan rakyatnya sendiri dan pasukannya yang desertif. Peta politik mutakhir dunia ini, terutama di wilayah Israel itu sendiri dan AS, di sisi lain, tekad Iran yang tak akan henti serang negeri Zionis, hal ini memberikan prediksi: negeri Zionis akan segera musnah.

Yang bisa menyelamatkan keberadaan Israel adalah memenuhi prasyarat Iran: Israel harus menarik seluruh kekuatannya dari bumi Palestina, sekaligus tidak menghalangi kemerdekaannya. Yang menjadi pertanyaan, apakah prasyarat itu merujuk wilayah Palestina yang terbagi sesuai ketentuan Palestine Partition?

Atau wilayah Palestina sebelum Israel mendirikan negaranya?  Dengan mencermati bargaining positon Iran yang jauh lebih kuat, wilayah Israel memang sudah selayaknya direbut kembali dan diserahkan kepada bangsa Palestina seutuhnya, tanpa syarat.

Bangsa Yahudi yang congkak dan biadab itu layak mendapatkan hukuman kembali sebagai bangsa diaspora: tak bernegara lagi. Tiadanya bangsa Yahudi – at least di kawasan Timur Tengah – akan membuat duri itu tercabut dari kawasan itu. Inilah konsep teoritis menciptakan perdamaian di kawasan Sahara itu.

Mencermati panorama politik terakhir itu, kita bisa menjelaskan, premis “Israel tak akan pernah kalah” bukan hanya mitos, tapi fakta atau opini yang keliru total. Pandangan itu menggambarkan tidak mencermati dinamika politik mutakhir.

Atau, tak menganalisis sejarah diaspora bangsa Yahudi dari beberapa abad silam. Juga, gagal paham mengapa bangsa Yahudi harus dihukum “tak bernegara” atau tak memiliki wilayah. Karakter licik dan suka berkhianat, termasuk tidak taat pada seruan Allah merupakan landasan hostoris kediasporaannya.

Akhir kata, hampir seabad terakhir ini bangsa Yahudi melakukan pengrusakan di muka bumi, tanpa perintang. Tidak hanya merusak alam semesta, tapi juga umat manusia. Yang menampak jelas adalah anak bangsa Palestina menjadi keganasannya.

Tapi – tak bisa dipungkiri – seluruh elemen bangsa di dunia ini juga dirusak, melalui agenda ekonomi kapitalistik yang super liberal, melalui persebaran rekadaya virus seperti yang belum lama ini pandemik ke seluruh dunia dan masih banyak lagi.

Harus kita catat, Allah memperingatkan kita. “Janganlah kalian membuat kerusakan di muka bumi”. (Q.S. Al-Baqarah: 11). Dan fakta sejarah mencatat, bangsa Yahudi sudah demikian tak terbatas melakukan pengrusakan. Sudah melampaui  batas (taghut). Dan tergolong tak ada yang mampu meladeninya.

Tapi, Allah – pada tahun lalu – mengirimkan sejumlah tentaranya dalam bentuk air bah, temperatur menyengat, angin terpedo, bahkan kekuatan brigadier al-Qassam. Mereka sempat memprorakpandakan kekuatan Israel.

Namun, peringatan Allah itu justru dijawab dengan angkuh: kian mengganas terhadap bangsa Palestina. Bahkan, mengancam Iran: jangan coba-coba membantu Palestina. Ancamannya pun ditindaklanjuti dengan “memancing” Iran: mengirimkan rudalnya ke negeri Ayatullah.

Melihat arogansi Yahudi Zionis itu, Allah membangkitkan kesadaran kaum ideolog Iran: saatnya meluluhlantahkan Israel. Para sekutunya, AS ataupun lainnya pun kini tak berkutik.

Maka, kita bisa tegaskan, pemandangan sekitar 15 hari terkakhir di bumi Israel bisa jadi merupakan jawaban kemurkaan-Nya terhadap bangsa Yahudi, melalui keberadaannya di negara Isreal Zionis. Itulah jawaban Allah. Demikian “indah” skenario Allah. Tak terbaca sebelumnya. Perlu dijadikan renungan bagi seluruh umat manusia di dunia ini.

Bekasi, 02 Juli 2025

*) Penulis Analis Politik

 

Sumber: WAGroup INDONESIA ADIL MAKMUR (postRabu2/7/2025/)

Pos terkait