Rasa takut pada anak-anak Gaza kini tak lagi hanya terkait dengan suara pesawat tempur. Ketakutan itu telah meluas, mencakup setiap suara keras, bahkan laut itu sendiri. Anak-anak ini lahir di masa perang, tumbuh besar di dalam tenda-tenda pengungsian.
Semarak.co – Dan mereka tak mengenal dunia selain pengeboman, pengungsian, dan kehancuran. Ingatan awal mereka pun tercemar, hingga segala sesuatu yang tampak normal di mata orang lain justru terasa asing dan menakutkan bagi mereka.
Di Gaza, ketakutan tidak hanya dimulai saat serangan udara terjadi, tetapi terbangun bersama setiap suara mendadak. Ia menemani anak-anak saat bermain, saat tidur, bahkan dalam momen-momen pertama mereka mengenal kehidupan.
Semua itu mengungkap dampak psikologis yang sangat mendalam yang ditinggalkan oleh bertahun-tahun perang terhadap satu generasi yang tak pernah mengenal arti rasa aman. Ketika sebagian anak melihat laut untuk pertama kalinya.
Mereka tak memandangnya sebagai ruang bermain atau napas kehidupan. Yang mereka dengar dari debur ombak itu hanyalah “sesuatu yang asing”. Suara debur ombak, yang biasanya menenangkan bagi banyak orang.
Suara debur ombak itu berubah dalam ingatan mereka, lalu menjadi bunyi yang senantiasa memicu kecemasan, seolah telinga mereka hanya dilatih untuk mengenali dentuman ledakan keras yang berdentum-dentum tanpa akhir.
Ayah dari bocah perempuan yang bernama Samar Al-Jadi, menceritakan bagaimana suara pengeboman dan teror itu masih melekat begitu kuat dalam ingatan putrinya. “Baf”… satu kata yang merangkum rasa ketakutan nan sangat.
Hasan Al-Jadi, ayah Samar yang berusia sekitar dua tahun, mengatakan kepada media ternama Arab, Al Jazeera Net dan dilansir arrahmah.id pada 7 Januari 2026, bahwa putrinya merasa takut terhadap hal-hal yang sangat sederhana.
Dia mencontohkan saat mengajak Samar menaiki mobil, anak itu langsung dan spontan dilanda ketakutan hebat. Rasa takut yang sama juga muncul ketika ia melihat laut. Hasan menjelaskan, putrinya baru pertama kali melihat mobil dalam hidupnya.
Selama perang berkecamuk di wilayahnya, dia terbiasa berpindah-pindah dengan menggunakan gerobak yang ditarik seekor hewan. Pengalaman pahit itu tentu meninggalkan jejak-jejak kelas pada perilaku kesehariannya.
Ia menambahkan bahwa suara pengeboman dan rasa teror masih hidup dalam ingatan putrinya. Suara-suara itu membentuk ketakutan terus-menerus terhadap bunyi keras dan segala sesuatu di sekitarnya, termasuk mainan, mobil, bahkan laut.
Setiap kali mendengar suara (dentuman bom) keras, Samar akan berlari ke pelukan ayahnya sambil mengucapkan kata “baf”, merujuk pada suara ledakan yang sejak awal tertanam dalam kesadarannya sebagai simbol bahaya.
Hasan menegaskan bahwa meski usianya masih sangat kecil, putrinya sudah mengenal pengeboman dan kehancuran. Saat melihat bangunan yang hancur, Samar menunjuk sambil berkata “baf”, menandakan bahwa bangunan itu telah dibom.
Itu merupakan sebuah pemandangan yang mencerminkan betapa dalam dampak psikologis perang terhadap generasi yang menghabiskan dua tahun pertama hidupnya di bawah bayang-bayang ledakan dan ketakutan.
“Tidak dibom?”, pertanyaan anak yang mengguncang nurani.
Ketakutan ini bukanlah kasus tunggal. Aktivis Palestina, Nour Abu Nada, mendokumentasikan melalui sebuah video di akun Instagram pribadinya reaksi anaknya ketika melihat laut untuk pertama kali setelah dua tahun perang.
Dia menceritakan, anaknya tidak terpukau oleh luas cakrawala atau birunya laut. Pertanyaan yang keluar hanya satu: “Tidak dibom?” Sebuah adegan yang mencerminkan bagaimana pencarian rasa aman kini mendahului rasa takjub dalam kesadaran masa kanak-kanak.
Abu Nada menambahkan bahwa perang tidak hanya mengubah wajah tempat, tetapi juga menyusun ulang pertanyaan-pertanyaan di hati anak-anak. Ketakutan berubah menjadi obsesi harian, dan rasa aman menjadi impian yang bahkan lebih besar daripada laut itu sendiri.
Video tersebut menyebar luas di media sosial, disertai komentar-komentar yang menegaskan bahwa apa yang dialami anak Abu Nada juga dialami oleh banyak anak seusianya — anak-anak yang tumbuh di tengah perang pemusnahan selama dua tahun.
Seorang warganet menulis, “Tubuhku merinding dan air mataku jatuh. Kata-katanya seperti anak panah yang menembus mata dunia.” Yang lain berkomentar, “Pertanyaan ‘tidak dibom?’ itu mengejutkan, seolah ia baru sadar bahwa masih ada hal-hal yang normal.”
Sejumlah pengguna media sosial menyoroti bahwa, karena terlalu sering menyaksikan pengeboman dan kehancuran di Jalur Gaza, anak itu tak lagi mampu membayangkan adanya tempat yang belum diserang.
Mereka juga mengingatkan bahwa laut sendiri pernah menjadi sasaran serangan, meski bom, seganas apa pun, tak mampu menghancurkannya sebagaimana menghancurkan bangunan dan kawasan permukiman yang luluh lantak.
Di tengah penderitaan ini, sejumlah keluarga dan lembaga lokal menyerukan intervensi segera dari organisasi internasional yang peduli pada anak-anak. Mereka menuntut penyelenggaraan kegiatan rekreatif dan program dukungan psikologis berbasis permainan dan musik.
Semua itu sangat berguna untuk membantu anak-anak melepaskan diri dari trauma yang tertanam dalam ingatan mereka, serta meringankan dampak suara ledakan, pengeboman, dan teror yang secara terus-menerus. (net/aid/alz/kim/smr)





