Para Menteri menjalani pelantikan Menteri Kabinet Indonesia Maju di Istana Negara, Jakarta, Rabu (23/10/2019). Presiden Joko Widodo resmi melantik 34 Menteri, 3 Kepala Lembaga Setingkat Menteri, dan Jaksa Agung untuk Kabinet Indonesia Maju. Foto: tribun-Timur.com di internet

Sempat beredar isu reshuffle dilakukan hari ini, Rabu (21/4/2021). Presiden Joko Widodo (Jokowi) akan melakukan reshuffle 6 nama menteri, termasuk Menteri Koperasi (Menkop) dan UKM Teten Masduki serta Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo.

semarak.co-Seperti kebiasaan dilakukan Jokowi dalam reshuffle kabinet pada hari Rabu, ternyata hari ini hal itu belum terjadi. Selain beberapa menteri yang akan diganti, nama-nama baru pun bermunculan. Sejumlah nama menteri baru pun muncul masuk menggantikan sejumlah menteri yang akan diganti.

Melansir artikel TribunPekanbaru.com dengan judul Heboh Jokowi Bakal Reshuffle Kebinet Besok? 6 Menteri Bakal Diganti Sosok Baru? Pengamat politik M Qodari mengatakan, dalam pemerintahan reshuffle kabinet itu hal biasa.

“Politik itu dinamis maupun orangnya. Pasti ada perencanaan (reshuffle kabinet) tetapi jumlah pastinya dinamis,” ujar Pengamat Politik M Qodari ketika dikonfirmasi, Senin (19/4/2021) seperti dilansir tribun-Timur.com, Rabu (21/4/2021).

Dikutip dari Tribunpekanbaru, sebanyak 5 hingga 6 menteri masuk dalam reshuffle kabinet, belum termasuk 1 kepala badan yang akan dirombak. Lantas siapa saja menteri yang diisukan diganti?

  1. Menristek Bambang Brodjonegoro. Kemenristek kini telah dilebur ke dalam Kemendikbud. Sehingga otomatis Kemenristek kini tidak ada lagi. Menristek saat ini dipimpin Bambang Brodjonegoro yang otomatis tidak menjabat Menristek lagi setelah kementerian itu digabung Kemendikbud.

Pengamat politik Universitas Al Azhar, Ujang Komarudin, menilai Bambang Brodjonegoro yang kini menjabat Menristek, cocok memimpin Kemendikbudristek. “Bambang juga cocok karena dia berangkat dari akademisi. Namun semua tergantung Jokowi, karena bisa juga menterinya sosok lain,” ungkapnya.

BACA JUGA :  LPDB Koperasi dan UMKM Gandeng Santri dalam Beri Pendampingan ke Penerima Dana Bergulir

Ia juga memprediksi Bambang Brodjonegoro akan digeser ke Kepala Otoritas Ibu Kota Negara.

  1. Mendikbud Nadiem Makarim. Nama Menteri Pendidikan dan Kebudayan (Mendikbud) Nadiem Makarim santer terdengar akan diganti Jokowi. Pasalnya kini, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah dilebur dengan Kementerian Riset dan Teknologi.

“Hari ini dikatakan bahwa misalnya Menristek tidak ada lagi karena digabung Kemendikbud. Kalau soal hukum Kemensos dan KKP seperti yang lalu diganti dengan wajah baru karena menterinya ada msalah hukum. Kalau sekarang ini karena pembentukan kementerian Ristek digabung Kemendikbud. Apalagi sering pro dan kontra,” kata M Qodari.

Siapa sosok pengganti Nadiem pun mulai muncul. Sekjen PP Muhammadiyah Abdul Mu’ti, layak dipertimbangkan menjadi kandidat menggantikan Nadiem Makarim. “Rasanya PP Muhammadiyah pasti dukung kalau Prof. Abdul Mu’ti jadi Mendikbudristek,” kata Qodari, Selasa kemarin (13/4/2021).

Qodari menambahkan, sudah saatnya Kementerian Pendidikan dikembalikan pada Muhammadiyah yang telah berpengalaman mengelola sekitar 162 perguruan tinggi di seluruh Indonesia.

  1. Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo. Informasi terbaru muncul spekulasi Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo akan digantikan rekannya sesama kader Partai Nasdem. Anggota DPR Fraksi NasDem, Muhammad Rapsel Ali, kabarnya akan menggantikan Syahrul jadi Menteri Pertanian.
BACA JUGA :  HIMBARA Borobudur Symphony 2018, Malam Ini Mariah Carey Live In Concert

Rapsel telah dipanggil Jokowi ke Istana belum lama ini untuk berdiskusi. Sama dengan Syahrul, Rapsel berasal dari Sulawesi Selatan. Rapsel juga dikenal sebagai menantu Wakil Presiden Maruf Amin. “Mungkin Rapsel Ali dipanggil, kebetulan matching dari Sulsel juga,” ujar Qodari.

  1. Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi. Kabar yang berhembus juga menyebutkan politikus PAN akan mengisi kursi Menteri Perhubungan yang kini dijabat oleh Budi Karya Sumadi. PAN diprediksi akan bergabung dalam pemerintahan Jokowi.

Dua nama calon menteri dari PAN yang beredar di publik yakni politikus senior PAN Asman Abnur dan Sekjen PAN, Eddy Soeparno. Lalu kemana Budi Karya selanjutnya. Qodari memprediksi Budi Karya akan menempati posisi strategis lainnya jika diganti dari Menteri Perhubungan.

  1. Menteri Koperasi dan UMKM. Yang mengejutkan munculnya nama tokoh muda Nahdlatul Ulama (NU) Witjaksono. Sejumlah media memberitakan Witjaksono yang juga Ketua Umum Serikat Nelayan Nahdlatul Ulama (NU) telah dipanggil Jokowi berdiskusi mengenai UMKM dan kehidupan nelayan. Berhembus Witjaksono menjabat Menkop dan UKM.
  2. Kepala BKPM. Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) saat ini masih dijabat Bahlil Lahadalia. Sebelumnya pejabat KSP Ali Mochtar Ngabalin mengatakan Bahlil masih akan dipercaya Presiden Jokowi. Ngabalin memperkirakan Bahlil akan ditunjuk sebagai Menteri Investasi/Kepala BKPM.

Senada dengan Nadiem, Bahlil dinilai Ngabalin sebagai menteri milenial dan orang berprestasi. Dalam beberapa kesempatan di depan publik, Presiden Jokowi memuji kinerja Bahlil.

BACA JUGA :  Pasar Mitra Tani yang Dikelola Kementan Bukan untuk Saingi Pasar Tradisional

Misalnya saat Jokowi memberikan arahan di acara Rakornas Investasi Tahun 2020 di Jakarta. “Saya senang kepada Pak Bahlil, kalau menyampaikan gamblang, jelas, arahnya ke mana juga kelihatan,” ujar Presiden Jokowi kala itu.

2 Catatan. Terkait wacana reshuffle kabinet tersebut, Direktur Eksekutif Citra Institute Yusa Farchan memberikan tiga catatan penting. Pertama, reshuffle kabinet harus memberi efek positif sekaligus mengembalikan kepercayaan publik bagi terselenggaranya tata kelola pemerintahan yang akuntabel, kredibel, dan berorientasi pada kepentingan publik.

“Reshuffle bukan hanya wacana dan urusan kelompok elite tetapi juga menyangkut hajat hidup orang banyak. Sirkulasi dan penyegaran anggota kabinet diperlukan untuk memastikan terselenggaranya good governance berbasis kepentingan publik yang lebih luas,” katanya, Senin (19/4/2021) di Jakarta.

Dalam konteks ini, menurut Yusa, dibutuhkan figur menteri yang tidak hanya kompeten, tetapi juga inovatif, berani, dan mampu menciptakan terobosan-terobosan segar dalam kebijakan pemerintahan.

Kedua, reshuffle tentu merupakan hak prerogatif Presiden. Publik hanya bisa berspekulasi sekaligus menaruh harapan besar atas bongkar pasang kabinet tersebut. Yang baru bisa dipastikan, reshuffle akan menyasar dua pos kementerian berdasarkan perubahan nomenklatur baru. Pertama, pos Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Dikbud/Ristek). Kedua, Kementerian Investasi. (net/smr)

LEAVE A REPLY