Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) RI berkolaborasi dengan media massa dalam memperkuat literasi publik dan membangun narasi zakat adalah arsitektur pembangunan nasional, bukan semata aktivitas filantropi. Kolaborasi diwujudkan salah satunya melalui acara Z-Talk: Zakat Menguatkan Indonesia di Gedung BAZNAS RI, kawasan Matraman, Jakarta Timur, Senin (2/2/2026).
Semarak.co – Acara Z-Talk merupakan salah satu kegiatan tatap muka antara pimpinan BAZNAS dengan praktisi/pimpinan media massa. Tujuan agenda ini sebagai wadah untuk meningkatkan komunikasi dan koordinasi antara pimpinan di lingkungan BAZNAS dengan awak media massa serta untuk motivasi dan produktivitas kerja.
Hadir Pimpinan BAZNAS RI Bidang Pengumpulan H. Rizaludin Kurniawan, Pimpinan BAZNAS Saidah Sakwan, Pemimpin Redaksi Kompas.com Amir Sodikin, Pemimpin Redaksi Republika Andi Muhyiddin, dan publik figur Fairuz A. Rafiq sekaligus sebagai pemandu acara.
Rizaludin menjelaskan terkait strategi penghimpunan BAZNAS RI. Penguatan strategi penghimpunan yang dilakukan BAZNAS, yakni melalui komunikasi yang masif dan berkelanjutan, serta perluasan kanal pembayaran.
Saat ini, terang Rizaluddin, BAZNAS telah bekerja sama dengan lebih dari 120 kanal digital, puluhan perbankan, serta membangun Unit Pengumpul Zakat (UPZ) di berbagai komunitas, platform, dan institusi pendidikan.
“Perbaikan menyeluruh dari sisi layanan dan komunikasi berdampak pada meningkatnya retensi donatur. Dalam dua tahun terakhir, tingkat retensi donatur yang sebelumnya berhenti dapat dijaga hingga sekitar 60 persen,” kata Rizaludin dalam paparannya.
Pimpinan BAZNAS RI Saidah Sakwan menekankan, optimalisasi penghimpunan harus diiringi dengan penyaluran ZIS yang tepat sasaran dan berdampak nyata. Indonesia masih menghadapi tantangan besar dengan jumlah penduduk miskin sekitar 25,4 juta jiwa, terutama pada kelompok miskin ekstrem.
Tujuan akhir dari berbagai program yang dijalankan BAZNAS adalah mendorong mustahik keluar dari garis kemiskinan dan bertransformasi menjadi muzaki secara berkelanjutan. “Jadi problem sekarang ini ternyata adalah kebutuhan akses. Baznas hadir untuk mengembangkan potensi zakat dan memperkuat kelompat masyarakat,” ujarnya.
Bentuknya dengan memberi pemenuhan hak dasar. “Banyak masyarakat tidak bisa akses dana ke rumah sakit, lalu tidak punya akses dana untuk perbaikan rumah. Nah, Baznas membuka akses kepada mereka yang membutuhkan,” tutur Saidah sambil memberi contoh.
Aktor senior Diding Boneng, terang Saidah, sudah kita beri akses dana untuk memperbaiki rumahnya. Kemudian artis komedia Fahmi Bo diberi akses dana bantuan perobatan ke rumah sakit yang merawatnya. “Sedangkan untuk yang masuk masyarakat miskin ekstrem, Baznas punya program produktif,” ujarnya.
Seperti gerai Z-Kopi, Z-Mart, Z- Chicken, Z – Food, Z – Auto, dan lainnya. “Jadi dalam hal ini, semua diarahkan sebagai intervensi Baznas bagaimana bisa dinaikkan kelas sosialnya. Jadi derajat yang kita inginkan dari mustahik jadi muzaki tercapai,” imbuhnya.
Disampaikan Saidah bahwa dana zakat itu sifatnya year on year (yoy) yang artinya harus habis dalam satu tahun dari pengumpulannya. “Duit di Baznas itu tidak dikapitalisasi. Ada memang yang minta Baznas investasi karena melihatnya duitnya banyak. Walau sebenarnya bisa, tapi bukan untuk itu tujuannya,” tepisnya.
Pemimpin Redaksi Kompas.com Amir Sodikin menilai bahwa zakat memiliki posisi strategis dalam sistem ekonomi modern karena berfungsi sebagai instrumen distribusi kekayaan yang mampu mencegah ketimpangan sosial dan memperkuat ekonomi keluarga.
Menurutnya, zakat tidak hanya bertujuan menggugurkan kewajiban agama, tetapi menjadi mekanisme aktif untuk mengalirkan likuiditas langsung ke masyarakat bawah. “Zakat adalah arsitektur ekonomi yang sejak awal dirancang untuk menghindari ketimpangan,” tutur Amir.
“Dalam Islam, distribusi kekayaan tidak menunggu trickle down effect, tetapi diwajibkan mengalir langsung dari pemilik modal kepada masyarakat yang membutuhkan,” demikian Amir seperti dirilis humas usai acara melalui WAGroup Baznas Media Center (BMC), Senin malam (2/2/2026).
Lebih lanjut, Amir menekankan pentingnya peran media dalam menarasikan zakat sebagai solusi pembangunan. BAZNAS perlu dipahami publik bukan hanya sebagai lembaga filantropi, tapi sebagai institusi pembangunan sosial-ekonomi yang bekerja secara sistematis dan terukur.
“Kepercayaan publik lahir dari narasi yang kuat dan konsisten. Program-program BAZNAS yang menyasar kemiskinan ekstrem, penguatan ekonomi, hingga mendorong mustahik naik kelas harus terus dikomunikasikan secara luas,” ujar Amir dalam paparannya.
Pemimpin Redaksi Republika Andi Muhyiddin menyampaikan, media dan lembaga filantropi memiliki kesamaan peran, yakni membangun dan menjaga kepercayaan publik. Ia menilai zakat merupakan potensi sosial besar yang dapat menjadi sistem distribusi keadilan.
“Lalu instrumen penguatan ekonomi umat, sekaligus pilar ketahanan sosial. Media tidak cukup hanya meliput, tetapi juga perlu bertransformasi menjadi penggerak kesadaran publik. Zakat harus diposisikan sebagai solusi nyata bagi persoalan sosial dan ekonomi,” kata Andi pada saat kesempatannya.
Melalui forum ini, BAZNAS RI bersama insan media sepakat untuk memperkuat kolaborasi dalam membangun narasi zakat yang berdampak, inklusif, dan relevan dengan tantangan pembangunan nasional, demi mewujudkan Indonesia yang lebih kuat dan berkeadilan. (hms/smr)





