Bendungan Jlantah Karanganyar Garapan Kementerian PU Siap Jaga Ketersediaan Air Saat Musim Kemarau

Kementerian Pekerjaan Umum (PU) telah menyelesaikan pembangunan Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) yang tersebar di 13 titik Pulau Yamdena, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Provinsi Maluku.

Di tengah ancaman kekeringan akibat El Nino, Bendungan Jlantah di Karanganyar, Jawa Tengah, yang dibangun Kementerian Umum (PU), menjadi andalan dalam menjaga ketersediaan air. Bendungan tidak hanya berfungsi sebagai pengendali air, tetapi juga menopang ketahanan pangan hingga energi.

Semarak.co – Menteri PU Dody Hanggodo mengatakan bendungan merupakan infrastruktur strategis yang memiliki peran vital dalam menjaga keberlanjutan produksi pangan. Keberhasilan pembangunan bendungan baru benar-benar dirasakan ketika air mengalir hingga ke lahan pertanian dan dimanfaatkan masyarakat.

Bacaan Lainnya

“Swasembada pangan, swasembada energi, dan swasembada air memerlukan tata kelola air yang tertib, berkelanjutan, dan benar-benar sampai kepada rakyat. Bendungan adalah hulu dari pelayanan itu,” kata Menteri Dody, dirilis humas usai acara melalui WAGroup Jurnalis PU608, Senin (20/7/2026).

Dengan kapasitas tampung mencapai 11,82 juta m3 dan luas genangan 54,77 hektare, bendungan ini dapat mereduksi banjir di area persawahan seluas 87 hektare serta mendukung ketahanan pangan melalui layanan jaringan irigasi seluas 1.494 hektare.

Melalui jaringan irigasi tersebut, bendungan ini mampu menjaga pasokan air ke sawah-sawah warga. Sebanyak 806 hektare di antaranya melalui jaringan yang tersebar di 15 Daerah Irigasi (DI). Dampaknya, indeks pertanaman meningkat signifikan dari 172% menjadi 272%, memungkinkan petani menanam lebih sering dalam setahun.

Selain itu, masih terdapat potensi pengembangan irigasi seluas 688 hektare yang tersebar di 20 Daerah Irigasi (DI), dengan indeks pertanaman yang sama. Bendungan ini sekaligus dapat mendukung program cetak sawah yang berada di saluran induk Jlantah dengan potensi luasan mencapai 229,90 hektar.

Tak hanya itu, Bendungan Jlantah juga menyediakan air baku sebesar 150 liter per detik yang dimanfaatkan untuk meningkatkan layanan air minum di tiga kecamatan. Cakupan layanan yang sebelumnya hanya 20% kini meningkat menjadi 100%.

Kontribusi Bendungan Jlantah ini juga memiliki manfaat terhadap pemenuhan energi listrik untuk mendukung swasembada energi sebesar 10,625 MW, yang terdiri dari Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) sebesar 0,625 MW dan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) sebesar 10 MW.

Pembangunan bendungan yang terletak di Kecamatan Jatiyoso, Kabupaten Karanganyar ini dilaksanakan melalui Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo, Direktorat Jenderal Sumber Daya Air sejak tahun 2019 hingga 2024, dengan total biaya mencapai Rp1,02 triliun.

Kehadiran bendungan tersebut diharapkan menjadi motor penggerak pembangunan daerah sekaligus sebagai solusi jangka panjang menghadapi krisis air, terutama saat musim kemarau El Nino.

JIAT di Pulau Yamdena Maluku Rampung, Petani Kini Bisa Panen hingga 3 Kali Setahun

Kementerian Pekerjaan Umum (PU) melalui Balai Wilayah Sungai (BWS) Maluku telah menyelesaikan pembangunan Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) yang tersebar di 13 titik Pulau Yamdena, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Provinsi Maluku.

Menteri PU, Dody Hanggodo menegaskan pembangunan JIAT merupakan langkah strategis untuk menjamin ketersediaan air, terutama saat musim kemarau yang dipicu fenomena El Nino. Dengan sistem irigasi yang lebih andal, produktivitas pertanian diharapkan meningkat signifikan.

“Melalui JIAT ini, kita ingin memastikan ketersediaan air sehingga produktivitas pertanian meningkat dan ketahanan pangan semakin kuat,” kata Menteri Dody.

Selain itu, Menteri Dody juga menekankan agar pengembangan JIAT tidak hanya berfokus pada pembangunan sumur dan pompa air tanah, tetapi juga dilengkapi dengan jaringan saluran tersier sesuai dengan kondisi morfologi lahan sehingga mampu mengalirkan air secara lebih efektif hingga ke lahan pertanian.

Manfaat nyata dari proyek ini telah dirasakan petani, salah satunya oleh Anggota Kelompok Tani (Poktan) di Desa Latdalam, Curcil B Watumlawar. Menurutnya, dengan cakupan layanan seluas 108 hektare dan jaringan sepanjang 10,8 kilometer, keberadaan JIAT di Desa Latdalam mampu meningkatkan ketersediaan air bagi lahan pertanian.

Sebelum adanya JIAT, para petani umumnya hanya dapat melakukan panen satu kali dalam setahun. Kini, berkat ketersediaan air yang lebih terjamin melalui pembangunan JIAT di Desa Latdalam, intensitas tanam meningkat sehingga petani dapat melaksanakan panen hingga tiga kali dalam setahun.

“Satu tahun kemarin itu kami cuma panen satu kali. Dan mungkin dengan adanya air, adanya sumur bor ini, kami selaku petani, kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk bisa melaksanakan panen dalam satu tahun bisa tiga kali panen,” ujar Curcil.

Pembangunan JIAT di Pulau Yamdena ini dilaksanakan PT Hutama Karya dengan menggunakan dana APBN 2025 Rp24,4 miliar. Proyek ini mencakup pembangunan 13 unit rumah pompa lengkap dengan panel dan pagar, 13 unit pompa submersible berbasis panel surya, 26 menara air, jaringan pipa High Density Polyethylene (HDPE) sepanjang 10.800 meter, serta 13 sumur bor.

Selain menjaga ketersediaan air, Kementerian PU juga terus memperkuat jaringan irigasi guna mendukung produktivitas pertanian di berbagai wilayah. Pada TA 2025, upaya tersebut dilakukan melalui rehabilitasi jaringan irigasi utama di 69 lokasi, peningkatan jaringan irigasi tersier melalui Program Percepatan Peningkatan Tata Guna Air Irigasi (P3TGAI) di 441 lokasi.

Berbagai program tersebut diharapkan mampu meningkatkan keandalan layanan irigasi sehingga pasokan air bagi lahan pertanian tetap terjaga meski menghadapi musim kemarau. (hms/smr)

Pos terkait