Guru Besar Universitas Indonesia (UI), Sri Edi Swasono menganggap hal yang darurat untuk segera diselesaikan bangsa Indonesia hari ini adalah krisis konstitusi dan krisis kepemimpinan. Foto: internet

Guru Besar Ekonomi Universitas Indonesia (UI) Prof. Sri Edi Swasono mengatakan, tak ada permintaan maaf dari Partai Komunis Indonesia (PKI) terhadap apa yang dilakukan mereka terhadap ayahnya hingga saat ini. Pada 1948, kutip Sri Edi, ayahnya, Moenadji Soerjohadikoesoemo ditembak mati PKI.

semarak.co– “Beliau digelandang ke penjara oleh PKI ketika disuruh pilih Soekarno-Hatta atau Amir-Muso. Ayah saya pilih Soekarno-Hatta, ya tentu ditembak mati,” ungkap Prof Sri Edi ketika dihubungiRepublika.co.id, Senin malam (18/9/2020).

Saat itu, kenang Sri Edi, ayahnya yang merupakan seorang hakim di Pengadilan Ngawi, bersama enam pejabat lainnya di Ngawi dikubur bersama-sama setelah ditembak. Mereka dikubur dalam satu liang lahat di Dungus, Madiun, Jawa Timur (Jatim).

“Di sebelah Timur Bengawan Madiun di Ngawi. Dua minggu kemudian baru ditemukan liang lahat itu berkat petunjuk Lurah Dungus. Masing-masing bisa diidentifikasi berkat dr. Soeroto, Dokter Kepala RS Ngawi,” kata dia.

PKI, kata Sri Edi, membunuh banyak orang dengan cara yang kejam. Banjir darah tidak hanya di Ngawi, tetapi juga di seluruh Kabupaten di Karesidenan Madiun. “PKI yang berontak membunuhi rakyat. Kalau saja G-30S/PKI 1965 PKI yang menang, kita yang mereka bunuh lagi seperti para jenderal yang dibunuh di Lubang Buaya,” sindir Sri Edi.

BACA JUGA :  Sampoerna Tutup Sementara dan Pastikan Produknya Tidak Terpapar, Manajemen: Tak Ada PHK Selama Wabah Corona

PKI tidak pernah meminta maaf atas kejadian tersebut. Ia, bersama dengan enam saudaranya, menjadi anak yatim. Menurut dia, pembunuhan adalah kekejaman yang membawa keyatiman.

“Keyatiman adalah kesengsaraan, penderitaan, dan kepedihan berkepanjangan. Ibu saya saat itu baru berusia 31 tahun, dengan anak tertua 13 tahun, terkecil baru satu tahun,” kisah dia.

Hingga akhirnya tiga tahun lalu ibu dari Sri Edi wafat pada usia 97 tahun. Selama 66 tahun, ibunya membesarkan Sri Edi dan keenam saudaranya seorang diri dengan status janda. “Kami bersyukur jasad ayah saya masih dapat ditemukan. Tapi jasad Pak Soehoed, keponakan ayah saya, tidak ditemukan,” ujarnya.

Bangsa Indonesia jangan lupa sejarah kekejaman PKI yang luar biasa kejam bahkan super biadab. Untuk itu, jangan lengah akan bangkitnya PKI. Jelas sudah keturunan PKI tetap satu tujuan: PKI Bangkit dengan segala cara.

Membentuk negara komunis. Ini adalah tugas kita bersama, membasmi bangkitnya PKI. “PKI tidak pernah meminta maaf telah membunuh manusia-manusia tak bersalah,” tegas Prof. Sri Edi.

BACA JUGA :  Abbey Ibrahim Rilis Lagu Anak Adikku Tersayang, Baim dan Artika Sari Devi Bangga

 

sumber: republika.co.id di WA Group Jurnalis Kemenag

LEAVE A REPLY