Ultimatum keras dilontarkan Iran kepada Amerika Serikat (AS)-Israel. Hal itu dilontarkan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran. Ancaman keras yang dimaksud Teheran, yakni untuk memblokade total pengiriman minyak di kawasan Selat Hormuz.
Semarak.co – Langkah ini memicu reaksi berantai, yang terkeras datang dari Presiden AS Donald Trump yang bersumpah akan meluncurkan serangan balasan yang jauh lebih menghancurkan jika ekspor energi global terganggu.
Dalam laporan Reuters, yang dilansir CnbcIndonesia.com dan Wana News Agency pada 10/3/2026, juru bicara IRGC melalui media pemerintah menegaskan bahwa pihaknyalah yang memegang kendali penuh atas durasi konflik yang sedang berlangsung saat ini.
Hal tersebut termasuk keputusan terkait transir di Selat Hormuz, yang menjadi urat nadi perdagangan migas dunia. “Kami adalah pihak yang akan menentukan akhir dari perang ini,” tegas juru bicara tersebut, Selasa (10/3/2026).
Ketegangan ini bermula ketika IRGC menegaskan bahwa mereka tidak akan membiarkan satu tetes minyak pun keluar dari Timur Tengah selama serangan dari AS dan Israel terus berlanjut ke wilayah mereka.
Pernyataan ini muncul di tengah kekhawatiran pasar keuangan global terhadap pengangkatan Pemimpin Tertinggi baru Iran, Mojtaba Seyyed Khamenei, yang dianggap sebagai sinyal bahwa Teheran tidak akan mundur dalam waktu dekat.
Merespons gertakan pihak Teheran tersebut. Presiden AS Donald Trump langsung mengeluarkan peringatan sangat keras melalui sebuah konferensi pers dengan awak media pada hari Senin, 9 Maret 2026, waktu setempat.
Trump menyatakan bahwa militer AS telah memberikan kerusakan serius pada kekuatan tempur Iran dan memrediksi perang ini akan berakhir lebih cepat dari jadwal empat minggu yang ia tetapkan sebelumnya.
Trump memperingatkan bahwa intensitas serangan AS akan meningkat secara drastis jika Iran nekat mengganggu lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz, jalur yang melayani seperlima pasokan minyak dunia.
“Kami akan memukul mereka dengan sangat keras sehingga tidak mungkin bagi mereka atau siapa pun yang membantu mereka untuk dapat memulihkan bagian dunia itu lagi,” ujar Donald Trump dengan nada mengancam.
Tak berhenti di situ, Trump kembali memertegas ancamannya melalui sebuah unggahan di platform Truth Social. Ia merinci skala serangan yang akan dihadapi Iran jika jalur logistik energi internasional tersebut benar-benar ditutup.
“Jika Iran melakukan apa pun yang menghentikan aliran minyak di Selat Hormuz, mereka akan dihantam oleh Amerika Serikat 20 kali lebih keras daripada yang telah mereka terima sejauh ini,” tulis Donald Trump dalam unggahannya.
Saat ini, kondisi di lapangan (wilayah Teluk dan Timur Tengah) dilaporkan kian mencekam setelah sebuah kilang minyak di Teheran terkena serangan hingga menyebabkan kepulan asap hitam menyelimuti ibu kota Iran tersebut.
Eskalasi ini terjadi bersamaan dengan pengumuman dari militer Israel yang meluncurkan serangan baru ke wilayah tengah Iran serta Beirut, Ibukota Lebanon, sebagai balasan atas serangan lintas batas dari milisi Syiah Hizbullah.
Di sisi lain, jumlah korban jiwa terus berjatuhan sejak serangan udara dan rudal besar-besaran diluncurkan oleh AS dan Israel pada akhir Februari lalu. Duta Besar Iran untuk PBB mengungkapkan skala kehancuran yang dialami warga sipil akibat rentetan serangan tersebut.
“Setidaknya, 1.332 orang warga sipil negara Iran telah terbunuh dan ribuan orang lainnya luka-luka sejak AS dan Israel meluncurkan rentetan serangan udara dan rudal di seluruh wilayah Iran,” lapor pihak duta besar tersebut.
Dampak perang ini telah melumpuhkan Selat Hormuz secara efektif, membuat kapal-kapal tanker tidak dapat berlayar selama lebih dari sepekan dan memaksa produsen menghentikan pemompaan karena fasilitas penyimpanan yang penuh.
Hal ini sempat membuat harga minyak mentah Brent melonjak hingga 29% pada Senin ke level tertinggi sejak 2022, sebelum akhirnya turun 10% pada Selasa setelah adanya sinyal pelonggaran sanksi energi terhadap Rusia oleh Trump untuk menstabilkan pasokan.
Kondisi domestik AS juga mulai bergejolak akibat kenaikan harga bahan bakar yang menjadi isu sensitif negara Paman Sam menjelang pemilihan umum paruh waktu yang akan dihelat pada bulan November 2026 mendatang.
Berdasarkan jajak pendapat Kantor Berita Inggris, Reuters/Ipsos, mayoritas warga Amerika Serikat meragukan urgensi perang ini dan mencemaskan pembengkakan biaya hidup yang ditanggung mereka sejauh ini.
“Sebanyak 67% warga Amerika Serikat memerkirakan harga gas akan naik dalam beberapa bulan mendatang dan hanya 29% yang menyetujui perang ini,” tulis laporan hasil jajak pendapat tersebut yang dilakukan lembaga-lembaga dalam negeri AS.
Hingga saat ini, situasi di kawasan Timur Tengah dan khisusnya di wilayah kawasaan Persia Iran, masih sangat volatil dengan pergerakan pasar saham global yang naik-turun tajam mengikuti perkembangan di medan tempur.
Sementara itu, dunia kini sedang menunggu dengan kecemasan yang tinggi apakah ancaman blokade minyak Iran akan benar-benar terjadi, yang berisiko memicu respons militer berskala besar dari pihak Washington. (net/cic/rts/wna/ips/kim/smr)





