Akui Sudah Sangat Lelah, Pep Guardiola Menangis di Laga Perpisahan

Josep “Pep” Guardiola akhirnya resmi berpisah dan mengakhiri kebersamaannya dengan klub Inggris Manchester City. Dalam perpisahannya dengan sang pelatih, The Citizens malah dikalahkan 1-2 oleh Aston Villa pada pekan terakhir Premier League.

Semarak.co – Hasil itu memang menutup perjalanan City dengan cara yang kurang sempurna, tetapi suasana emosional di Stadion Etihad justru menjadi sorotan utama dalam malam perpisahan sang pelatih legendaris yang banyak memberikan prestasi mentereng.

Bacaan Lainnya

Manchester City sempat membuka harapan kemenangan melalui gol penyerang sayap kanan Antoine Semenyo pada babak pertama. Namun, tim tamu asuhan Unai Emery mampu bangkit di paruh kedua pertandingan.

Dua gol dari Ollie Watkins memastikan Aston Villa mampu membalikkan keadaan sekaligus “merusak” pesta perpisahan Guardiola. Usai peluit panjang dibunyikan, Guardiola terlihat tidak mampu menyembunyikan emosinya.

Ia menangis di tengah lapangan ketika para pemain, staf, dan suporter memberikan penghormatan terakhir atas dedikasinya selama satu dekade di Etihad Stadium, kota Manchester yang banyak kenangan dan drama tangis kesedihan dan kesenangan.

Situasi menjadi semakin mengharukan lantaran pertandingan tersebut juga menjadi laga terakhir bagi dua pemain senior The City, sang kapten Bernardo Silva dan John Stones. Dan Guardiola pun menangis di laga perpisahan itu, dan mengaku dirinya sudah sangat lelah.

Pep Guardiola mengaku sebenarnya bukan sosok orang yang mudah menangis. Namun, ia tidak bisa menahan perasaannya ketika melihat Bernardo Silva mulai larut dalam emosi di hadapan ratusan ribu suporter City yang mengharu biru menyaksikan momen itu.

“Saya bukan orang yang gampang menangis, tetapi ketika melihat Bernardo menangis, saya ikut terbawa suasana. Momen itu terasa sangat spesial dan emosinya begitu besar,” ujar Pep Guardiola, yang membawa City menjadi tim terkuat di Eropa dan bahkan dunia.

Pelatih asal Spanyol itu juga mengenang perjalanan panjangnya bersama The City sebagai periode paling berkesan dalam kariernya. Meski pernah menangani Barcelona dan Bayern Munchen, Pep menyebut kenangan selama 10 tahun di Manchester memiliki tempat tersendiri dalam hidupnya.

Setelah sukses membawa The Citizens  mendominasi sepak bola Inggris dan dataran Eropa, Guardiola merasa keputusan mundur merupakan langkah terbaik untuk semua pihak. Ia menegaskan, dirinya kini benar-benar kehabisan energi usai menghadapi tekanan luar biasa selama bertahun-tahun.

“Saya sangat lelah, benar-benar sangat lelah. Saya merasa sudah memberikan semuanya untuk klub ini,” kata Guardiola dalam wawancara setelah pertandingan, seperti dilansir Disway.id dan Goal.com pada hari Senin, 25 Mei 2026.

Ia juga menambahkan bahwa untuk sementara waktu dirinya tidak akan merindukan dunia sepak bola karena membutuhkan jeda panjang untuk memulihkan fisik dan mentalnya selama menjadi pelatih. Penuh tekanan dan melelahkan.

Guardiola tak kuasa menahan tangis di laga terakhirnya bersama Man City, menegaskan dirinya butuh istirahat total karena sangat lelah. Sejak datang ke Manchester pada 2016, Guardiola memimpin City dalam 593 pertandingan dengan torehan 423 kemenangan.

Di bawah arahan tangan dinginnya, klub yang dulu selalu disebut “Sang Tetangga Berisik” oleh si merah Manchester United, telah meraih total 20 trofi bergengsi, termasuk enam gelar Premier League, satu Liga Champions, tiga Piala FA dan lima Piala Liga Inggris.

Namun, bagi Pep Guardiola, kesuksesan terbesar dalam hidupnya sebagai pelatih di Etihad, bukan sekadar koleksi trofi. Ia merasa hubungan dengan orang-orang di klub jauh lebih penting dibanding penghargaan individu maupun gelar juara.

“Yang membuat saya bahagia bukan hanya piala di lemari, tetapi kenangan bersama para pemain, staf, dan para pendukung sejak hari pertama saya datang,” ucap bekas pelatih Barcelona yang lama sekali membesut tim dengan sang megabintang Lionel Messi.

Guardiola juga menilai, waktunya di City memang sudah selesai dan klub membutuhkan energi baru untuk memulai era berikutnya. Ia bersyukur manajemen memahami keputusannya dan memberikan dukungan penuh atas langkah tersebut.

Kini, Guardiola berencana mengambil istirahat panjang dari sepak bola sebelum menentukan masa depannya. Meski demikian, dengan reputasi dan prestasi luar biasa yang dimilikinya, banyak pihak meyakini mantan pelatih Barcelona itu tidak akan lama jauh dari dunia kepelatihan. (net/di/gc/kim/smr)

Pos terkait