Direktur Akses Pembiayaan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Hanifah Makarim (bawah) dan Pelaku usaha asal Yogyarakarta di bawah label Lawe, Adinindyah dalam acara virtual yang digelar pihak British Council, Rabu (16/9/2020). Foto: internet

Pelaku usaha sosial kreatif atau creative and social enterprises (CSE) Indonesia membutuhkan asupan informasi yang memadai hingga platform digital guna memudahkan mereka bertemu dan menarik investor untuk menanamkan modalnya di sektor ini.

semarak.co– Direktur Akses Pembiayaan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) Hanifah Makarim mengungkapkan, selama ini sudah banyak investor yang berminat berinvestasi di sektor sosial kreatif Indonesia, namun terbentur keterbatasan akses dari pelaku usaha ke investor maupun sebaliknya.

“Mereka tidak tahu bagaimana dan di mana menemukan investor tersebut,” ujar Hanifah dalam peluncuran laporan Lanskap Usaha Sosial-Kreatif di Indonesia via daring (dalam jaringan) atau secara online, Rabu (16/9/2020).

Kita, lanjut Hanifah, harus lebih meningkatkan informasi kepada usaha sosial kreatif atau membuat platform untuk bisa mencocokkan mereka sehingga pelaku usaha tahu bagaimana mendapatkan pendanaan dan investor juga bisa memiliki satu wadah untuk menemukan calon partner mereka.

Hal ini, kata dia, menjawab temuan penelitian dari British Council, AVPN (Asian Venture Philanthropy Network) dan Badan PBB untuk Bidang Ekonomi dan Sosial di Asia Pasifik (UN–ESCAP) terhadap 1388 usaha di Indonesia pada tahun 2019.

Meski usaha sosial-kreatif mengalami pertumbuhan pesat dalam lima tahun terakhir, namun sebagian besar CSE di Indonesia belum pernah memperoleh pendanaan eksternal.

Sebanyak 45 persen usaha sosial kreatif di Indonesia menggunakan sumber keuangan pribadi untuk mendanai usahanya dan kurang dari 1% pernah mengakses investasi ekuitas. Selain karena akses yang terbatas ke investor, para pelaku usaha juga kesulitan untuk memenuhi persyaratan agunan dan menyediakan penjamin.

Pihak British Council, AVPN, dan UN ESCAP menyarankan perlu adanya kesamaan antara investor dan CSE untuk mengelola ekspektasi penyandang dana agar saluran pendanaan terbuka. Di sisi lain, perlu ada upaya juga untuk memetakan secara lebih akurat sumber-sumber daya yang relevan untuk memenuhi kebutuhan bersama.

Selain itu, dibutuhkan kerangka kebijakan yang memberikan insentif bagi usaha-usaha yang memiliki nilai sosial, misalnya melalui pengurangan pajak atau subsidi jaminan sosial, dan dukungan untuk mendorong program yang menyalurkan investasi ke CSE yang berpotensi menghasilkan imbal balik keuangan, sosial dan lingkungan.

Sementara itu, pelaku usaha asal Yogyakarta yang berfokus pada pelestarian kain tenun di bawah label Lawe, Adinindyah, berpendapat, peluang mendapatkan pendanaan dari investor salah satunya bisa melalui penyediaan produk usaha yang cocok dengan kebutuhan investor.

“Seperti menemukan teknologi yang bisa membangun bahan baku yang dianggap lebih aman, misalnya teknologi membuat kulit alami dari organisme mikroskopis dan juga memperoleh dampak besar,” kata dia.

Kemudian, para pelaku usaha juga perlu melatih diri memanfaatkan dana usaha yang sudah didapatkan untuk meningkatkan citra usaha mereka. Saat ini, mereka bisa memanfaatkan berbagai program coaching yang tersedia misalnya dari pihak universitas, pemerintah, atau lembaga tertentu.

Hal semacam ini juga dilakukan Adinindyah. Dia mengatakan, bekerjasama dengan lembaga yang mempunyai program pelatihan bisa mendukung pertumbuhan bisnis skala kecil.

“Organisasi layanan bisnis yakni untuk sisi coaching dan mentoring, lalu bisnis penting memperoleh mentoring dan coaching. Lawe merupakan anggota dua BSO (Business Support Organization) yang keduanya mendukung pertumbuhan bisnis skala kecil. Kami berbagai pengetahuan dan pelatihan secara berkala,” kata dia.

Dari pelatihan, pelaku usaha bisa mendapatkan beragam hal sesuai kebutuhan bisnis mereka, mulai dari hal kecil semisal cara memotret produk mereka, berpromosi di media sosial. Lalu, belajar memisahkan uang dari hasil keuntungan ke uang pribadi, menemukan pasar kreatif hingga menetapkan strategi bisnis mereka.

Menurut penelitian dari British Council, AVPN dan Badan PBB untuk Bidang Ekonomi dan Sosial di Asia PAsifik (UN – ESCAP), sebanyak 22 persen usaha sosial di Indonesia merupakan jenis usaha kreatif seperti busana, fotografi, wisata, dan lainnya.

Kemudian, dari sisi tingkat partisipasi, kalangan perempuan dan anak muda lebih banyak di bidang ini dibandingkan jenis usaha lainnya.Jumlah rata-rata pekerja perempuan yang bekerja di sektor usaha sosial kreatif yakni 3,8 persen. Angka ini lebih tinggi dari jumlah rata-rata pekerja perempuan di semua sektor usaha, yakni 0.6%.

Sementara jumlah rata-rata anak muda berusia di bawah 35 tahun yang dipekerjakan di CSE adalah 3.9 persen, sedangkan di sektor usaha lain hanya 0,7%.

Temuan penelitian juga memperlihatkan, ada potensi pertumbuhan ekonomi yang ditawarkan usaha sosial kreatif dengan menciptakan lapangan kerja bagi perempuan, anak muda dan penyandang disabilitas untuk turut berpartisipasi aktif dan berkontribusi pada pembangunan.

“Usaha sosial kreatif dibentuk untuk tujuan yang tidak semata-mata menghasilkan pendapatan saja, tetapi lebih penting lagi untuk mengatasi kesenjangan dan kurangnya kesempatan ekonomi bagi anak muda, perempuan, dan penyandang disabilitas,” ujar Country Director British Council Indonesia, Hugh Moffatt.

Dia mengatakan, dalam kerangka program Developing Inclusive and Creative Economies (DICE), penelitian ini bisa berkontribusi dan menyebarkan gagasan untuk memperkuat sektor usaha sosial-kreatif serta bertukar pengetahuan dan pengalaman negara Inggris-Indonesia untuk kesejahteraan bersama.

Kemenparekraf mengajak masyarakat menyaksikan wisata secara virtual pada ajang Dieng Culture Festival. Acara yang digelar pada 16-17 September 2020 itu dapat disaksikan melalui berbagai platform media sosial di antaranya YouTube, Facebook, Instagram, dan Mice.id.

Deputi Bidang Produk Wisata dan Penyelenggara Kegiatan (Events) Kemenparekraf/Baparekraf Rizki Handayani menjelaskan DCF merupakan salah satu ajang wisata unggulan di Jawa Tengah dan masuk dalam daftar Top 100 National Calendar of Events 2020 Kemenparekraf.

“Event ini selalu dinanti oleh wisatawan. Kemenparekraf terus mendukung kegiatan yang tahun ini dilaksanakan secara virtual. Kami berharap event virtual ini tetap memiliki daya tarik meski harus disaksikan lewat media sosial,” ujar Rizki dalam rilis di Jakarta, Rabu (16/9/2020).

Dieng Culture Festival merupakan acara tahunan khas Dataran Tinggi Dieng, Jawa Tengah, yang menampilkan berbagai kesenian dan budaya dengan inti acara pemotongan rambut gimbal anak-anak Dieng.

Keunikan ritual ini ialah pemotongan rambut dilaksanakan atas permintaan anak dan harus memenuhi permintaan anak yang akan diruwat.

Ketua Panitia Dieng Culture Festival Alif Fauzi mengatakan konsep penyelenggaraan tahun ini berbeda dengan tahun sebelumnya, yakni menyesuaikan standar operasional prosedur penanganan COVID-19, sehingga diselenggarakan secara virtual.

“Tahun ini, kami hanya mengundang 50 peserta untuk datang menyaksikan acara secara langsung. Acara tahun ini memang berbeda. Kita harus prihatin dengan situasi COVID-19 yang juga belum tuntas, jadi acara Dieng Culture Festival yang ke-11 ini digelar secara virtual hybrid, target kami adalah masyarakat bisa menyaksikan DCF ini dengan rasa aman,” ujarnya.

Selain secara virtual, terang Alif, ada beberapa acara yang dihapuskan seperti kirab budaya, penerbangan lampion, kongkow budaya, dan kegiatan yang menimbulkan kerumunan massa. Hal ini bertujuan untuk menghindari adanya penyebaran COVID-19.

“Ada beberapa memang yang tidak kami gelar, contohnya hal-hal yang mengundang orang untuk berkerumun itu kami tiadakan, seperti penerbangan lampion, kirab budaya, kongkow budaya,” ujarnya. (net/smr)

LEAVE A REPLY