Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menggunakan kata-kata kasar dalam postingan barunya yang mengancam infrastruktur Iran pada Ahad. Ia juga menuliskan nama Allah dengan nada melecehkan dalam unggahan terbarunya di akun media sosial (medsos) pribadinya Truth Social.
Semarak.co – Presiden AS Trump menggunakan kata-kata kasar itu untuk mendesak Iran membiarkan kapal melewati Selat Hormuz. Trump juga mengancam akan menyerang lebih lanjut infrastruktur energi dan transportasi Iran.
“Selasa akan menjadi Hari penyerangan Pembangkit Listrik dan Hari penyerangan Jembatan yang semuanya dirangkai menjadi satu, di Iran. Belum ada serangan seperti ini!!! Buka Selatnya, Sialan, dasar bajingan gila atau kamu akan tinggal di Neraka – LIHAT SAJA! Segala puji bagi Allah. Presiden DONALD J TRUMP,” begitu kira-kira terjemahan dari unggahan Trump.
Diketahui bahwa dalam bahasa aslinya, yaitu bahasa Inggris dan unggahan itu lebih menjijikkan. Pada Sabtu (4/4/2026), Trump mengancam akan menghujani Iran dengan neraka jika negara itu menolak untuk membuat kesepakatan atau membuka Selat Hormuz dalam 48 jam ke depan.
Iran telah menolak usulan gencatan senjata sementara dan menginginkan diakhirinya perang secara permanen dengan jaminan kuat bahwa AS tidak akan menyerang lagi. Kegilaan terbaru Trump ini setelah Iran berhasil menembak jatuh sejumlah pesawat militer AS.
Seperti dikutip dari laman berita msn.com yang dilansir republika.co.id, Senin (6/4/2026), disebutkan bahwa sejauh ini yang dipastikan Pentagon ditembak jatuh adalah satu unit F-15E.
Kendati demikian, Iran mengeklaim dan menunjukkan sejumlah foto bahwa mereka juga menembak jatuh satu pesawat Warthog dan setidaknya dua helikopter Black Hawk. Dua unit pesawat C-130 juga dilaporkan kena pertahanan udara Iran.
Di bagian lain dilaporkan Arrahmah.id, Senin, 6 April 2026 / 18 Syawal 1447 10:06 , ketegangan di Timur Tengah mencapai titik kritis setelah Pemerintah Iran secara resmi menolak ultimatum 48 jam yang dilayangkan Presiden AS Donald Trump.
Teheran memperingatkan bahwa pintu neraka justru akan terbuka bagi Amerika Serikat dan sekutunya jika serangan terhadap kedaulatan Iran terus dilanjutkan. Jenderal Ali Abdollahi Aliabadi, petinggi Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya, menyebut ancaman Trump sebagai tindakan yang tidak seimbang dan bodoh.
Pernyataan ini muncul sebagai respons atas unggahan Trump di Truth Social yang mengancam akan menghancurkan jaringan listrik Iran jika Selat Hormuz tidak segera dibuka. Eskalasi militer di lapangan meningkat drastis pada Sabtu (4/4/2026).
Serangan gabungan AS-‘Israel’ dilaporkan menghantam area sekitar Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Bushehr. Serangan tersebut menewaskan satu orang dan memicu evakuasi darurat bagi seluruh staf ahli asal Rusia yang tersisa di lokasi tersebut.
Selain Bushehr, serangan udara juga menyasar beberapa titik strategis lainnya, antara lain: zona Petrokimia Khusus Mahshahr, melukai 5 orang di wilayah barat daya Iran. Pos perbatasan Shalamcheh, menewaskan seorang warga Irak dan memaksa penutupan jalur perbatasan dengan Irak.
Infrastruktur pendidikan, Menteri Sains Iran melaporkan 30 universitas telah diserang, memaksa aktivitas akademik dialihkan sepenuhnya ke sistem daring. Iran merespons tekanan militer tersebut dengan meluncurkan serangan drone dan rudal yang menargetkan infrastruktur vital di negara-negara Teluk pada Ahad (5/4/2026).
Laporan mengonfirmasi adanya kerusakan pada pabrik petrokimia di Bahrain dan Abu Dhabi. Di Kuwait, serangan Iran menghantam dua pembangkit listrik dan sebuah pabrik desalinasi air yang memaksa fasilitas tersebut berhenti beroperasi. Kantor Kementerian Keuangan Kuwait juga dilaporkan mengalami kerusakan akibat hantaman drone.
Pihak berwenang Iran, melalui Kantor Berita Fars, mengklaim telah menyiapkan kejutan besar bagi militer Amerika Serikat. Selain target militer, Teheran juga merilis daftar perusahaan besar AS di kawasan tersebut yang masuk dalam daftar target serangan, termasuk raksasa teknologi seperti Apple, Google, Microsoft, serta institusi finansial JP Morgan.
Saat ini, ‘Israel’ dilaporkan dalam posisi siaga penuh untuk menyerang fasilitas energi utama Iran dan hanya menunggu instruksi final dari Washington. Dengan sisa waktu kurang dari 48 jam dari ultimatum Trump, kawasan Selat Hormuz kini menjadi titik paling rawan dalam konflik global tahun 2026 ini. (net/msn/rep/arh/smr)





