Gandeng Pemda dan Masyarakat, Badan Bahasa Revitalisasi 120 Bahasa Daerah pada 2025

Kepala Badan Bahasa Hafidz Muksin menyatakan, hingga 2025, revitalisasi telah dilakukan terhadap 120 bahasa daerah di 38 provinsi.

Di tengah arus globalisasi, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) terus menjalankan Program Revitalisasi Bahasa Daerah (RBD) dengan fokus pada generasi muda.

Semarak.co – Kepala Badan Bahasa Hafidz Muksin menyatakan, hingga 2025, revitalisasi telah dilakukan terhadap 120 bahasa daerah di 38 provinsi melalui kolaborasi pemerintah pusat, daerah, satuan pendidikan, dan masyarakat sebagai wujud komitmen menjaga keberlanjutan bahasa.

Bacaan Lainnya

“Ini menjadi tanggung jawab kita bersama agar bahasa daerah tetap hidup dan digunakan oleh generasi muda,” ujarnya, pada Gelar Wicara Hari Bahasa Ibu Internasional 2026, di Jakarta, dirilis humas usai acara melalui WAGroup Mitra BKHumas Fortadik, Kamis (19/2/2026).

Hafidz menegaskan bahwa bahasa ibu bukan sekadar alat komunikasi, melainkan jembatan yang menghubungkan hati, menghidupkan sejarah, serta membawa nilai budaya dan karakter bangsa. “Ketika sebuah bahasa daerah hilang, maka hilang pula sebagian jati diri kita,” tegasnya.

Ketua Harian KNIU Ananto Kusuma Seta mengingatkan sejarah lahirnya peringatan Hari Bahasa Ibu Internasional yang berakar dari perjuangan bahasa di Bangladesh. Ia menegaskan bahwa pemuda merupakan pencipta bersama pendidikan masa depan. Bahasa ibu merupakan fondasi literasi dan pendidikan multibahasa.

“Bahasa ibu memuat tata krama dan nilai-nilai kemanusiaan. Bahasa daerah menguatkan bahasa Indonesia sebagai pemersatu bangsa. Di saat yang sama, generasi muda juga perlu menguasai bahasa asing untuk berdaya saing global tanpa kehilangan identitas nasional,” tegasnya.

Perwakilan UNESCO Indonesia Gunawan Zakki menekankan pentingnya peran generasi muda dalam pelestarian bahasa daerah. Menurutnya, pemuda memiliki kemampuan berbagi, berjejaring, dan berkreasi, termasuk melalui konten digital yang dapat menyisipkan bahasa daerah.

Praktik Baik Penerapan Bahasa Ibu dalam Pendidikan

Bupati Kabupaten Sumba Timur Umbu Lili menyampaikan, rendahnya literasi menjadi salah satu faktor tingginya angka putus sekolah. Melalui kerja sama dengan (Inovasi untuk Anak Sekolah Indonesia) INOVASI, pemda memiliki kebijakan melalui pembelajaran di kelas awal dengan menggunakan bahasa daerah sebagai bahasa pengantar.

“Hasilnya signifikan. Anak-anak yang sebelumnya belum lancar membaca kini menunjukkan peningkatan kemampuan literasi. Karena itu, kami menginstruksikan penggunaan bahasa daerah di kelas awal dengan dukungan guru senior yang menguasai bahasa setempat,” ujarnya.

Kepala SDN Aebowo, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur, Maria Ugha, menyampaikan bahwa mayoritas peserta didik kelas awal belum memahami bahasa Indonesia karena sehari-hari menggunakan bahasa ibu.

Ketika pembelajaran menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar, siswa tidak merespons, merasa stress dan mengalami kesulitan memahami materi. Kondisi tersebut mendorong sekolah melakukan penyesuaian dengan menjadikan bahasa daerah sebagai bahasa pengantar di kelas awal.

Melalui pelatihan bersama INOVASI, guru  diberikan pendampingan dalam menerapkan strategi pembelajaran berbahasa daerah di kelas awal dengan metode bermain, bernyanyi, penggunaan kartu huruf, membaca gambar, hingga menulis secara bertahap. Hasilnya, suasana kelas menjadi lebih aktif dan menyenangkan. (hms/smr)

Pos terkait