Dari Guangzhou ke Chengdu, kita menyusuri jejak Islam di China. Dari masjid Xianxian di Guangzhou dan masjid Huangcheng di Chengdu. Ini mewakili dua simpul utama dalam sejarah Islam di negeri Tirai Bambu China. Apa saja yang ada di masjid itu?
Semarak.co – Sekitar dua ribu kilometer ke arah tenggara, di kota pelabuhan Guangzhou, China, berdiri masjid Xianxian atau juga dikenal dengan Masjid Huaisheng atau “Masjid Pengingat Nabi”. Ini masjid yang dibangun di masa Dinasti Tang di sekitar tahun 627 Masehi.
Masjid tersebut didirikan oleh Sa’ad bin Abi Waqqas, sahabat Nabi Muhammad Salallahu alaihi wassalam, utusan awal Islam ke negeri China. Wakil Ketua Asosiasi Islam China, Wang Wenjie menjelaskan Sa’ad bin Abi Waqqas kali pertama datang ke Cina disambut baik oleh Kaisar Dinasti Tang.
Saat itu, Sa’ad mendapatkan izin dari Kaisar Dinasti Tang untuk memerkenalkan Islam kepada masyarakat. “Abi Waqqas bertemu dengan Kaisar dari Dinasti Tang untuk mempromosikan budaya Islam di China,” ujar Ketua Asosiasi Islam Guangdong, Jumat siang, 17 Oktober 2025.
Kaisar Dinasti Tang memberikan izin ke Abi Waqqas untuk mengenalkan praktik Islam di sini. Kemudian ia mendirikan masjid yang pertama di Guangzhou,” lanjutnya. Wang Wenjie menceritakan bahwa Sa’ad bin Abi Waqqas, paman dari nabi, adalah satu dari sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga.
Selain di Guangdong, ia juga memerkenalkan Islam ke wilayah China bagian selatan. Sambil menyusuri jalan setapak nan asri karena dikelilingi rerimbunan pohon dan taman, Wang Wenjie menjelaskan adanya sejumlah tugu peringatan hingga makam yang di dalam lingkungan masjid itu.
Salah satunya adalah makam yang diisi oleh tiga kuburan dari para jenderal Muslim Hui yang telah gugur dalam memertahankan kota Guangzhou di negeri China saat tentara Dinasti Qing tengah gencarnya mengepung kota.
Berikutnya, kelompok makam kedua yang berisi makam para imam di masjid itu yang terlihat mencolok dengan kain penutup makam dengan pita berwarna merah, biru dan ungu. Selanjutnya makam Saad bin Abi Waqqas yang berada di gedung tersendiri.
Makam tersebut tampak tak pernah sepi dari peziarah yang tak mau ketinggalan kesempatan mendaraskan doa dan membaca Al-Quran. Lebih jauh Wang Wenjie menjelaskan, saat ini tengah berlangsung proses konstruksi dari bangunan di kompleks masjid.
Ia memerkirakan pembangunan tersebut akan selesai dalam beberapa bulan mendatang. Adapun bentuk arsitektur Masjid Xianxian diwarnai dengan atap bergelombang dan struktur kayu, juga adanya sejumlah gerbang kayu dan halaman luas.
Hal tersebut menunjukkan masjid dengan wujud yang akrab bagi masyarakat China. Arsitektur China klasik itu terlihat bercampur unsur Islam seperti atap kayu bersusun, kaligrafi Arab di dinding, dan orientasi kiblat ke barat.
Dibandingkan dengan suasana di Guangzhou, atmosfer berbeda terasa di masjid Huangcheng yang berada di tengah kota Chengdu, Sichuan. Masjid yang didirikan pada sekitar abad ke 16 ini memiliki gaya campuran arsitektur tradisional China.
Gaya campuran arsitektur itu seperti atap melengkung, ukiran naga dan tanpa kubah besar dengan simbol Islam seperti kaligrafi Arab dan ruang mihrab. Imam Chen Kun menjelaskan, dalam perkembangannya, agama Islam di Chengdu terus meningkat dari tahun ke tahun.
Kegiatan di dalam masjid juga berlangsung aktif merangkul para muslimin yang datang dari berbagai penjuru daerah. “Saat Ramadan, kami menyediakan makanan-minuman untuk berbuka puasa dan menggelar salat Tarawih,” kata Imam Chen Kun.
Salat Idul Fitri dan Idul Adha atau Salat Id, juga dilakukan di dalam lingkungan masjid,” kata sang imam. “Ajakan salat berupa azan tidak menggunakan loudspeaker,” katanya melanjutkan, seperti dilansir Tempo.co pada 18 Oktober 2025 lalu.
Selain bangunan utama masjid disertai dengan lapangan luas untuk melakukan salat, terdapat bangunan berisi sejumlah koleksi kuno berupa artefak yang menggambarkan bagaimana penyebaran agama Islam masuk ke China dan tak jarang beririsan dengan sejarah masjid Huangcheng.
Salah satu yang mencolok adalah dinding yang berada di dekat gerbang masuk kompleks masjid bertuliskan kalimat syahadat dengan karakter China. Ada juga sejumlah kursi lengkap dengan meja yang berusia ratusan tahun dan masih digunakan di ruangan perpustakaan.
Di situ, selain bisa meminjam dan membaca buku berisi ajaran agama Islam tanpa harus membayar biaya keanggotaan, para pengunjung masjid bisa menggelar diskusi dan pengajian di sejumlah kursi lengkap dengan meja yang berusia ratusan tahun dan masih digunakan
Seperti layaknya museum yang menampilkan benda-benda kuno, bangunan pendamping masjid berisi gambaran kronologi perjalanan penyebaran agama Islam di Cina, juga sejumlah detail terkait dengan keterlibatan para imam di masjid Huangcheng.
Ada juga maket tiga dimensi yang menunjukkan detail bangunan masjid, lalu ada sejumlah lembaran bentuk pembelajaran agama Islam di masa lampau. Naskah pembelajaran agama tersebut tak hanya diperuntukkan untuk tingkat atas, namun juga untuk pemula.
Tak hanya itu. Museum tersebut juga menampung beberapa Al Quran kuno dan klasik, lengkap dengan alat-alat berupa papan cap kayu yang kini telah berwarna hitam dan digunakan untuk menyalin ayat-ayat suci Al Quran di masa lampau.
Ada juga foto-foto yang menunjukkan peristiwa bersejarah dengan sejumlah Presiden China ketika menjabat dan bagaimana hubungannya dengan perkembangan kegiatan beragama Islam saat itu, di masa-masa awal masuknya Islam.
Berikutnya, ada dua manekin mengenakan pakaian imam saat bertugas di dalam negeri dengan warna hijau tosca dan ornamen China. Lainnya mengenakan pakaian imam berwarna hitam berbordir bendera China dan tulisan Arab di kantong bagian kiri. Pakaian hitam ini digunakan imam ketika bertugas ke luar negeri. (net/tc/kim/smr)





