Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump bakal mengumumkan rencana Rekonstruksi Gaza dan Pasukan Penjaga Perdamaian pada tanggal 19 Februari 2026 mendatang. Rencana itu, kata Trump di Istana Gedung Putih, Washington, akan memakan biaya miliaran dolar AS.
Semarak.co – Presiden Amerika Serikat Donald Trump dijadwalkan akan mengumumkan rencana rekonstruksi Jalur Gaza senilai miliaran dolar AS dalam pertemuan perdana “Dewan Perdamaian” (Board of Peace) pada 19 Februari 2026 mendatang.
Selain pendanaan, Trump juga akan merinci penempatan pasukan stabilisasi yang dimandatkan oleh Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB). Kabar itu dilaporkan oleh Kantor Berita Inggris, Reuters, yang dilansir Arrahmah.id pada Kamis (12/2/2026).
Laporan Reuters menyebutkan bahwa pertemuan yang akan digelar di Washington, bakal dihadiri oleh sekitar 20 negara, termasuk sejumlah kepala negara. Dewan Perdamaian ini sebelumnya telah diperkenalkan oleh Trump dalam Forum Ekonomi Davos di Swiss bulan lalu.
Keanggotaan dewan ini mencakup hampir seluruh negara besar di Timur Tengah, seperti Arab Saudi, Qatar, Uni Emirat Arab (UEA) dan Turki, serta negara-negara lain termasuk Pakistan, Armenia, Azerbaijan dan Indonesia.
Terkait pasukan keamanan, Indonesia telah menyatakan kesiapan untuk mengerahkan hingga 8.000 prajurit ke Gaza di bawah rencana BOP. Pernyataan ini disampaikan Presiden Prabowo Subianto setelah bertemu dengan Kepala Staf Angkatan Darat, Jenderal Maruli Simanjuntak.
“Kami hanya memersiapkan diri jika kesepakatan tercapai dan kami harus mengirimkan pasukan penjaga perdamaian,” ujar Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto kepada awak media di Jakarta, kemarin.
Meskipun Trump mendorong negara-negara kaya seperti Arab Saudi, Qatar dan UEA untuk mendanai pembangunan kembali Gaza, tantangan besar masih membayangi. Qatar secara tegas menolak untuk “menulis cek” guna memerbaiki kerusakan yang disebabkan oleh militer Israel.
“Kami bukan pihak yang akan membayar untuk membangun kembali apa yang dihancurkan pihak lain, Israel telah meratakan tanah ini,” tegas Perdana Menteri Qatar, Mohammed bin Abdulrahman al-Thani, dilaporkan Reuters.
Di sisi lain, negara-negara Arab dan Muslim juga ragu untuk mengirimkan pasukan. Mereka khawatir tentara mereka akan terjebak di antara milisi Hamas yang belum sepenuhnya melucuti senjata dan tentara Israel yang masih menduduki sekitar 53% wilayah kantong tersebut.
Ada kekhawatiran bahwa kehadiran pasukan internasional hanya akan menjadi “pelindung” bagi pendudukan Israel. Saat ini, Gaza terbagi oleh apa yang disebut sebagai “Garis Kuning”. Israel menduduki 53% wilayah, sementara sisanya dikuasai Hamas.
Meski gencatan senjata telah diberlakukan, pelanggaran terus terjadi melalui serangan udara Israel yang menewaskan ratusan warga sipil. Guna menjalankan fungsi administratif, AS telah mendukung komite teknokrat Palestina.
Komite Teknokrat Palestina tersebut yang melaporkan kepada Nickolay Mladenov, Perwakilan Tinggi untuk Gaza yang dikenal memiliki hubungan dekat dengan negara Timur Tengah yang kaya minyak, Uni Emirat Arab (UEA). (net/aid/rts/kim/smr)





