Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyebut Iran akan menjadi bodoh jika tak membuat kesepakatan dengan Amerika Serikat (AS) yang mencakup Teheran tidak memiliki program nuklir dan rudal, “tidak ada senjata nuklir dan tidak ada rudal,” katanya.
Semarak.co – Ucapan Donald Trump yang menyebut Iran akan menjadi “bodoh” tersebut jika negeri para Mullah itu tidak mau mencapai kesepakatan apa pun, yang harus mencakup “tidak ada senjata nuklir dan tidak ada rudal”.
“Saya pikir mereka ingin membuat kesepakatan. Saya pikir akan sangat bodoh jika mereka tidak melakukannya. Terakhir kali kita mematikan tenaga nuklir mereka dan kita harus melihat apakah kali ini kita akan mengambil lebih banyak lagi,” kata Trump.
Trump mengucapkan itu dalam sebuah wawancara dalam program “Kudlow” di Fox Business Network, seperti yang dilansir Sindonews.com dari Kantor Berita Inggris, Reuters, pada hari Kamis, 12 Februari 2026 di Washington DC.
Teheran telah melanjutkan pembicaraan dengan Washington pekan lalu di Oman. Namun belum ada kesepakatan yang signifikan dari perundingan itu. Trump, yang memerintahkan serangan AS terhadap situs nuklir Teheran selama perang 12 hari Israel dengan Iran pada bulan Juni lalu, mengatakan kesepakatan apa pun di masa depan haruslah kesepakatan yang “baik”.
Ketika ditanya apakah menurutnya kesepakatan apa pun dengan Teheran dengan rezim saat ini akan benar-benar bertahan, Donald Trump mengatakan, bahwa “Anda tahu, itu pertanyaan yang bagus,” ucap Trump di Ibukota AS.
“Banyak orang mengatakan ‘tidak’. Dan saya akan mengatakan bahwa saya lebih suka membuat kesepakatan yang akan menghasilkan kesepakatan yang bagus. Tidak ada senjata nuklir, tidak ada rudal, tidak ini, tidak itu,” tegasnya.
“Semua hal berbeda yang Anda inginkan. Namun beberapa orang khawatir, mereka sangat tidak jujur terhadap kami selama bertahun-tahun, sangat tidak jujur,” paparnya. Dia mengaku telah melakukan pembicaraan dengan PM Israel Benjamin Netanyahu pada hari Rabu.
Namun tidak mencapai kesepakatan “definitif” tentang bagaimana melanjutkan hubungan dengan Iran. Dia bersikeras bahwa negosiasi dengan Teheran akan terus dilakukan untuk melihat apakah kesepakatan dapat dicapai.
Netanyahu, yang diperkirakan akan menekan Trump untuk memerluas diplomasi dengan Iran di luar program nuklirnya dan memasukkan batasan persenjataan rudalnya, menekankan bahwa kepentingan keamanan Israel harus diperhitungkan.
Tetapi tidak memberikan tanda-tanda bahwa presiden tersebut membuat komitmen yang diinginkan Netanyahu. Dalam pertemuan ketujuh mereka sejak Trump kembali menjabat tahun lalu, Netanyahu — yang kunjungannya lebih tertutup dari biasanya dan tertutup bagi pers.
Dia berupaya memengaruhi putaran diskusi AS berikutnya dengan Iran setelah perundingan nuklir diadakan di Oman Jumat lalu. Kedua pemimpin tersebut berbicara secara tertutup selama lebih dari dua setengah jam dalam apa yang digambarkan Trump sebagai “pertemuan yang sangat baik”.
Namun mengatakan tidak ada keputusan besar yang dibuat dan tidak menerima permohonan Netanyahu secara terbuka. Trump mengancam akan menyerang Iran jika tidak tercapai kesepakatan, sementara Teheran berjanji akan membalas.
Sehingga hal itu akan memicu kekhawatiran akan terjadinya perang yang lebih luas ketika AS mengerahkan pasukannya di Timur Tengah. Dia telah berulang kali menyuarakan dukungan bagi keamanan Zionis Israel, sekutu lama AS dan musuh bebuyutan Iran.
“Tidak ada keputusan pasti yang dicapai selain saya bersikeras bahwa negosiasi dengan Iran terus dilakukan untuk melihat apakah kesepakatan dapat diwujudkan atau tidak,” kata Trump dalam postingan media sosialnya setelah pertemuan dengan Netanyahu.
“Jika bisa, saya memberi tahu Perdana Menteri bahwa itu akan menjadi pilihan,” lanjut dia, seperti dikutip dari Kantor Berita Inggris, Reuters, pada hari Kamis (12/2/2026). “Jika tidak bisa, kita harus melihat apa hasilnya nanti,” imbuh Trump.
Trump kemudian menyebutkan bahwa terakhir kali negara Persia itu memutuskan untuk tidak menyetujui perjanjian yang sudah disepakati tersebut, Paman Sam lalu menyerang situs nuklirnya pada bulan Juni 2025 lalu. (net/snc/rts/fbn/kim/smr)





