Perkuat Pendidikan Bermutu, Kemendikdasmen Akselerasi Pembelajaran Mendalam yang Berkesadaran

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti.

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) berkomitmen memperkuat berbagai program prioritas pendidikan pada 2026. Fokus utama diarahkan pada upaya menghadirkan pendidikan yang bermakna bagi setiap anak bangsa.

Semarak.co – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menegaskan, program prioritas seperti revitalisasi satuan pendidikan, digitalisasi pembelajaran, serta peningkatan kualitas dan kesejahteraan guru tetap menjadi pilar utama.

Bacaan Lainnya

“Capaian tahun-tahun sebelumnya telah menjadi fondasi penting untuk melakukan akselerasi program ke depan,” ujarnya, saat pembukaan Konsolidasi Nasional (Konsolnas) Pendidikan Dasar dan Menengah 2026, dirilis humas melalui WAGroup Mitra BKHumas Fortadik, Selasa malam (10/2/2026).

Salah satu terobosan besar yang terus diperluas adalah pendekatan Pembelajaran Mendalam (Deep Learning). Sepanjang 2025, lebih dari 52 ribu kepala sekolah telah mengikuti pelatihan untuk memimpin transformasi pembelajaran, disertai 186 ribu pendidik dan tenaga kependidikan yang berhasil menuntaskan pelatihan.

Ke depan, perluasan implementasi Pembelajaran Mendalam akan terus dilanjutkan sebagai bagian dari upaya memperkuat kualitas proses belajar mengajar. Langkah ini diambil karena Kemendikdasmen meyakini bahwa kunci generasi Indonesia Emas 2045 terletak pada guru yang berkualitas dan sistem pembelajaran yang berkesadaran.

“Inisiatif pembelajaran mendalam kami lakukan agar proses belajar menjadi lebih bermakna, berkesadaran, dan menggembirakan melalui olah pikir, olah hati, olah rasa, dan olah raga secara holistik dan terpadu,” tegas Menteri Mu’ti.

Mengubah Stigma dan Memanusiakan Murid

Implementasi Pembelajaran Mendalam mulai menunjukkan dampak positif di satuan pendidikan, terutama dalam mengubah persepsi murid terhadap mata pelajaran yang selama ini dianggap sulit.

Angga Dwi Pratama, seorang guru matematika di SMP Islam Al-Azhar Kelapa Gading, Surabaya, menceritakan pengalamannya menerapkan metode ini sejak awal 2025. Menurut Angga, salah satu tantangan terbesar dalam pembelajaran adalah stigma murid terhadap mata pelajaran tertentu, seperti matematika.

“Dulu anak-anak kalau dengar jam matematika sudah mengeluh. Sekarang, before-after-nya jelas sekali. Mereka lebih antusias karena penasaran hari ini kita akan bahas isu apa lagi. Belajar itu sekarang tujuannya bukan sekadar untuk lebih tahu sesuatu, tapi untuk menyelesaikan masalah,” jelas Angga.

Ia menambahkan bahwa peran guru sangat penting dalam metode ini. Guru tidak boleh hanya terpaku pada materi teknis, tetapi juga rajin berliterasi dan peka terhadap fenomena yang sedang tren di kalangan generasi Z dan Alpha agar diskusi di kelas tetap relevan dan hidup.

Komitmen Pelatihan dan Tantangan Adaptasi

Di Kabupaten Bangka Selatan, Pembelajaran Mendalam telah menyentuh 140 guru dan kepala sekolah melalui metode pelatihan intensif. Cik Aden, Kepala Bidang Pembinaan SMP, Dinas Pendidikan Kabupaten Bangka Selatan, mengungkapkan bahwa banyak guru merasa ‘tercerahkan’ dengan pendekatan ini.

“Para guru sangat antusias, bahkan ada yang merasa metode ini sangat relevan dan berkomitmen penuh. Meski ada kekhawatiran terkait standar penerapan yang benar di kelas, kami terus mendorong pengimbasan ke sekolah-sekolah sekitar agar semangat ini menular,” tutur Cik Aden. (hms/smr)

Pos terkait