Transformasi birokrasi yang berkelanjutan menuntut perubahan cara pandang dalam mengelola organisasi pemerintahan. Birokrasi dituntut tidak hanya adaptif terhadap perkembangan teknologi, tapi juga mampu membangun budaya kerja yang kolaboratif serta berorientasi pada penguatan kualitas sumber daya manusia.
Semarak.co – Wakil Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Wamen PANRB) Purwadi Arianto mengatakan, transformasi sejati tidak pernah dimulai dari teknologi, tetapi dari kesadaran manusia yang menjalankannya.
“Teknologi hanyalah alat, sementara perubahan lahir dari budaya kerja, kepemimpinan, dan keberanian untuk mengubah cara berpikir,” ujar Wamen PANRB Purwadi di peluncuran buku Membangun Organisasi Cerdas dan Humanis: 107 Cerita dari Kemenko PMK di 2025 di Jakarta, Senin (9/2/2026).
Buku itu, nilai Wamen PANRB Purwadi, tidak sekadar menjadi dokumentasi kinerja, tetapi refleksi jujur atas proses transformasi organisasi yang dijalani Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK).
“Di tengah kuatnya narasi transformasi digital pemerintah, buku ini menegaskan bahwa perubahan yang berkelanjutan harus berangkat dari manusia, nilai, dan budaya kerja,” imbuh Wamen PANRB Purwadi dirilis humas PANRB usai acara melalui WAGroup JURNALIS PANRB, Senin malam (9/2/2026).
Disampaikan pendekatan Smart Ministry yang dibangun melalui tiga pilar utama, yakni manusia, penyederhanaan kerja dengan dukungan teknologi, serta kolaborasi lintas sektor, merupakan fondasi penting dalam menciptakan kinerja birokrasi yang adaptif dan berorientasi pada nilai publik.
ASN yang sehat, dihargai, dan terus belajar dinilai lebih siap merespons kompleksitas tantangan pembangunan. Pada pilar penyederhanaan kerja, transformasi digital dipandang bukan sekadar penambahan aplikasi, melainkan upaya menyederhanakan proses dan mengubah budaya kerja.
Teknologi harus dimanfaatkan untuk mendukung praktik kerja yang lebih ringkas, terintegrasi, dan konsisten, bukan sekadar melapisi prosedur lama dalam format digital. Transformasi bukan tentang siapa yang paling modern atau memiliki aplikasi terbanyak, tetapi tentang siapa yang paling siap berubah.
“Dan melalui buku ini, kami melihat kesiapan itu. Melalui peluncuran buku ini, Kementerian PANRB berharap praktik-praktik baik yang dibagikan dapat menjadi inspirasi bagi kementerian, lembaga, dan pemerintah daerah dalam membangun birokrasi Indonesia yang profesional, adaptif, dan humanis,” tutupnya. (hms/smr)





