Lagi, Amerika Serikat (AS) dengan seenaknya menuduh negara lain. Kali ini negara saingan beratnya, negeri Tirai Bambu, China. Negara Xi Jinping dituduh menguji coba nuklir. Tentu saja China menyangkal menguji coba senjata pamungkas pada 22 Juni 2020 sebagaimana yang dituduhkan AS.
Semarak.co – Pemerintah China membantah telah menguji coba ledakan nuklir secara diam-diam pada 22 Juni 2020 sebagaimana yang dituduhkan AS. Beijing menegaskan tetap berkomitmen untuk moratorium uji coba senjata nuklir.
“Kami dengan tegas menentang narasi palsu ini dan menolak tuduhan AS yang tidak berdasar,” kata Duta Besar China untuk Perlucutan Senjata Nuklir, Shen Jian. “Serangkaian tindakan negatif AS di bidang pengendalian senjata nuklir adalah sumber risiko terbesar bagi keamanan internasional.”
“China selalu menghormati komitmennya terhadap moratorium uji coba nuklir,” imbuh Shen Jian, demikian dilansir portal berita Indonesia Sindonews.com dari media Grand Pinnacle Tribune, pada hari Minggu (8/2/2026).
Tuduhan Paman Sam disampaikan oleh Wakil Menteri Luar Negeri untuk Pengendalian Senjata dan Keamanan Internasional Thomas G DiNanno dalam kesempatan Konferensi Perlucutan Senjata di Jenewa, Swiss pada hari Jumat.
“Saya dapat mengungkapkan bahwa pemerintah AS mengetahui China telah melakukan uji coba ledakan nuklir, termasuk memersiapkan uji coba dengan daya ledak yang ditetapkan dalam ratusan ton,” kata DiNanno.
“Militer China berupaya menyembunyikan pengujian (senjata nuklir) dengan mengaburkan ledakan nuklir karena mereka menyadari bahwa uji coba ini melanggar komitmen larangan uji coba,” lanjutnya lagi.
“China telah menggunakan ‘decoupling’ (pemutusan hibungan antara dua hal atau lebih) sebuah metode untuk mengurangi efektivitas pemantauan seismik, untuk menyembunyikan aktivitas mereka dari dunia,” imbuh dia lagi.
Presiden AS Donald Trump pada bulan Oktober memerintahkan militer AS untuk segera melanjutkan proses pengujian senjata nuklir, dengan mengatakan bahwa negara-negara lain juga melakukannya tetapi tanpa memberikan detail atau mengidentifikasi mereka.
Para diplomat di Konferensi Perlucutan Senjata mengatakan tuduhan AS itu baru mengkhawatirkan. China, seperti AS, telah menandatangani tetapi belum meratifikasi Perjanjian Pelarangan Uji Coba Nuklir Komprehensif (CTBT), yang melarang uji coba nuklir eksplosif.
Rusia telah menandatangani dan meratifikasinya, tetapi menarik ratifikasinya pada tahun 2023. Robert Floyd, kepala badan pengatur perjanjian yang berbasis di Wina, Austria, mengatakan sistem pemantauan internasional badan tersebut tidak mendeteksi peristiwa.
Sistem pemantauan internasional badan yang dimaksud, yakni peristiwa apa pun yang konsisten dengan karakteristik ledakan uji coba senjata nuklir pada saat dugaan uji coba ledakan nuklir China seperti yang dituduhkan Washington.
Analisis lebih rinci selanjutnya, kata Floyd, tidak mengubah penentuan. Daryl Kimball, direktur Arms Control Association, mengatakan AS harus membawa bukti kredibel apa pun, Rusia atau China melakukan uji coba nuklir rahasia ke badan pengatur perjanjian dan melakukan pembicaraan teknis dengan China dan Rusia.
“Setiap dimulainya kembali uji coba oleh AS sebagai tanggapan terhadap tuduhan tersebut tidak hanya tidak perlu secara teknis tetapi juga bodoh dan kontraproduktif karena akan memicu reaksi berantai uji coba nuklir oleh negara-negara bersenjata nuklir lainnya,” katanya.
Perjanjian New START 2010 yang berakhir pada hari Kamis membuat Rusia dan Amerika Serikat untuk pertama kalinya sejak 1972 tanpa batasan yang mengikat pada penempatan rudal dan hulu ledak strategis mereka.
Trump ingin menggantinya dengan perjanjian baru yang mencakup China, yang dengan cepat meningkatkan persenjataannya sendiri. Sementara itu, Washington mengatakan akan terus memodernisasi kekuatan nuklirnya sendiri.
“Rusia dan China tidak seharusnya mengharapkan Amerika Serikat untuk berdiam diri sementara mereka menghindari kewajiban mereka dan memerluas kekuatan nuklir mereka. Kami akan memertahankan pencegahan nuklir yang kuat, kredibel dan modern,” tulis Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio.
Itu dikatakan Rubio dalam sebuah unggahan di platform penerbitan daring Substack. DiNanno mengatakan dalam Konferensi Perlucutan Senjata di Jenewa: “Saat ini, Amerika Serikat menghadapi ancaman dari berbagai kekuatan nuklir.”
“Singkatnya, perjanjian bilateral hanya dengan satu kekuatan nuklir tidaklah tepat pada tahun 2026 dan seterusnya,” lanjut DjNanno. Dia mengulangi proyeksi AS bahwa China akan memiliki lebih dari 1.000 hulu ledak nuklir pada tahun 2030. (net/snc/gpt/kim/smr)





