Melalui Program Revitalisasi Satuan Pendidikan, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) memastikan rehabilitasi sekolah di Aceh tuntas paling lambat 2026 dan dapat kembali beroperasi secara normal pada tahun ajaran baru.
Semarak.co – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menegaskan, pemulihan sekolah pascabencana merupakan bentuk nyata kehadiran negara dalam menjamin hak anak atas pendidikan yang bermutu.
“Proses pembelajaran tidak boleh berhenti. Sekolah rusak berat akan dibongkar dan dibangun kembali melalui dana revitalisasi,” tegas Mendikdasmen, saat peresmian revitalisasi 23 satuan pendidikan yang dipusatkan di SMAN 1 Baktiya Aceh Utara, dirilis humas usai acara melalui WAGroup Mitra BKHumas Fortadik, Kamis (29/1/2026).
Secara nasional, pemerintah telah menyiapkan anggaran sebesar Rp2,4 triliun untuk pemulihan satuan pendidikan terdampak bencana di wilayah Sumatra. Untuk Aceh Utara, rehabilitasi dilakukan secara bertahap dengan target penyelesaian penuh pada 2026.
Berdasarkan data penanganan bencana per 15 Januari 2026, tercatat 171 satuan pendidikan terdampak bencana. Rinciannya, pada jenjang SMK terdapat 93 sekolah terdampak, dengan 99 data telah diverifikasi dan masuk dalam Perjanjian Kerja Sama (PKS) senilai Rp270 miliar.
Pada jenjang SLB, tercatat 20 sekolah terdampak, 15 data terverifikasi, dan 13 PKS senilai Rp3,98 miliar. Sementara itu, pada jenjang SKB/PKBM, terdapat 58 sekolah terdampak, dengan 7 data terverifikasi dan 2 PKS senilai Rp198 juta. Keseluruhan, nilai bantuan PKS yang telah diproses mencapai Rp274,18 miliar.
Dalam kunjungannya, Mendikdasmen meninjau sejumlah sekolah, di antaranya di SMK Kesuma Bangsa, SMPN 2 Mutiara Batu, dan SMKN Baktiya, dilanjutkan ke SMPN 7 Muhammadiyah, SDN 9 Jambo Aye, yang terdampak bencana.
Program revitalisasi tidak hanya berfokus pada perbaikan ruang kelas, tetapi juga mencakup pembangunan dan peningkatan fasilitas pendukung seperti toilet, perpustakaan, laboratorium, serta ruang praktik.
Upaya ini diarahkan untuk menciptakan keseimbangan antara ketersediaan sarana prasarana dengan jumlah peserta didik, sekaligus membangun lingkungan sekolah yang mendukung tumbuhnya karakter, rasa aman, dan kepercayaan diri warga sekolah.
Mu’ti menjelaskan bahwa sudah ada kesepakatan dengan TNI AD untuk pembangunan unit sekolah baru. “Kami bekerja sama dengan TNI. Untuk pembangunan kelas darurat, kami bekerja sama dengan berbagai lembaga yang memiliki komitmen dan kepedulian terhadap rehabilitasi di Aceh,” ujarnya.
Ia melanjutkan terdapat dua skema, khususnya untuk kelas darurat, melalui kerja sama dengan kementerian dan organisasi masyarakat agar prosesnya lebih cepat. Untuk unit sekolah baru dan beberapa bangunan lainnya, kami bekerja sama dengan Kepala Staf Angkatan Darat. Setelah dari sini, MoU akan segera dilaksanakan.
“Kami berharap kerusakan ringan dan sedang dapat selesai sebelum tahun ajaran baru 2026–2027. Untuk sekolah yang harus direlokasi dan dibangun baru dengan jumlah ruang kelas besar, bisa memakan waktu lebih dari setengah tahun,” tutupnya.
Mendikdasmen Tinjau Kelas Darurat dan Ajar Langsung Siswa di SMPN 22 Takengon Pascabencana
Mendikdasmen Abdul Mu’ti juga kunjungan kerja ke SMP Negeri 22 Takengon, Aceh Tengah, sekolah yang terdampak bencana banjir. Kunjungan ini menjadi bagian dari komitmen pemerintah memastikan layanan pendidikan tetap berjalan, aman, dan bermakna.
Mendikdasmen meninjau langsung ruang-ruang kelas darurat yang saat ini digunakan siswa untuk mengikuti proses pembelajaran. Di tengah keterbatasan sarana, sekolah tetap memanfaatkan Papan Interaktif Digital sebagai media pembelajaran digital, guna menjaga kualitas dan keberlanjutan proses belajar mengajar.
Tidak hanya meninjau, Mendikdasmen juga berinteraksi langsung dengan siswa melalui kegiatan mengajar di kelas. Di kelas IX, Menteri mengajar mata pelajaran Bahasa Inggris dan bernyanyi bersama memperkanalkan anatomi tubuh dalam bahasa inggris.
Sementara itu, di kelas VII dan VIII, Menteri turut terlibat dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) menggunakan papan interaktif digital. Suasana kelas berlangsung hangat dan interaktif, menunjukkan semangat belajar siswa yang tetap terjaga meski belajar di ruang darurat.
“Kondisi darurat tidak boleh menghentikan proses belajar anak-anak. Yang penting anak-anak tetap bisa belajar, tetap beraktivitas, dan bertemu teman-temannya. Ini bagian dari proses pemulihan agar mereka tidak stres,” ujar Mendikdasmen.
Mu’ti mengajak siswa dan guru untuk Senam Anak Indonesia Sehat, sebagai simbol penguatan pendidikan karakter, kebugaran jasmani, dan semangat kebersamaan di lingkungan sekolah. Kegiatan ini sekaligus menegaskan pentingnya perhatian pada kesehatan fisik dan mental. (hms/smr)





