Presiden Israel Isaac Herzog menerima hasil resmi pemilihan parlemen dan memulai konsultasi pembentukan pemerintahan baru, langkah yang memersempit peluang Benjamin Netanyahu memertahankan kekuasaan politiknya setelah pemilu nasional pekan lalu.
Semarak.co – Komisi Pemilihan Pusat menyatakan pemeriksaan terhadap 9.069 tempat pemungutan suara tidak menemukan penyimpangan yang memengaruhi integritas maupun hasil pemilu parlemen Israel pada 27 Oktober 2026, sebelum hasil akhir diumumkan secara resmi.
Dilansir Al Jazeera, Associated Press
Reuters dan The Guardian (5/11/2026), partai Likud pimpinan Netanyahu memeroleh 53 kursi, sementara blok oposisi Gadi Eisenkot 48 kursi. Kedua kubu belum mencapai ambang mayoritas 61 kursi parlemen dari total 120 anggota parlemen nasional.
Dua partai Arab, Ra’am dan Joint List, mengamankan total 19 kursi, perolehan bersejarah yang menempatkan mereka sebagai penentu penting dalam negosiasi pembentukan pemerintahan Israel berikutnya dari total 120 anggota parlemen nasional.
Netanyahu dan sejumlah sekutunya sebelumnya memertanyakan hasil pemilu serta menuduh adanya kecurangan tanpa bukti. Komisi pemilihan menolak tuduhan setelah menuntaskan pemeriksaan pengaduan yang diterima dari sejumlah kelompok politik Israel.
Herzog meminta seluruh pemimpin partai menerima kenyataan politik dan mengutamakan kompromi. Ia mengingatkan, tidak ada kubu yang memeroleh kemenangan mutlak dalam pemungutan suara demi mencegah pemungutan suara ulang nasional.
Setelah konsultasi dengan partai-partai, Herzog akan menunjuk anggota parlemen yang dinilai paling mampu membangun koalisi. Kandidat terpilih memperoleh 28 hari, dengan kemungkinan perpanjangan 14 hari demi meraih dukungan mayoritas anggota parlemen.
Jika Netanyahu maupun Eisenkot gagal membentuk pemerintahan mayoritas, Israel berpotensi menggelar pemilihan parlemen baru pada awal tahun depan, memperpanjang ketidakpastian politik di tengah tantangan keamanan serta menambah ketidakpastian politik nasional Israel.
Peta Kekuatan Politik Israel
Perkembangan pemilu negara Zionis Israel tersebut menjadi tantangan serius bagi PM Benjamin Netanyahu yang telah lama mendominasi politik Israel. Kehilangan mayoritas parlemen membuat posisinya semakin sulit dipertahankan.
Sementara itu, Gadi Eisenkot memiliki peluang membangun pemerintahan alternatif dengan dukungan partai-partai oposisi dan kelompok politik Arab. Namun, perbedaan kepentingan antarkelompok masih menjadi hambatan.
Partai-partai Arab menyatakan kesediaan mendukung upaya mengakhiri pemerintahan Netanyahu. Meski demikian, kerja sama tersebut menghadapi perbedaan pandangan mengenai keamanan, perang, dan kebijakan terhadap Palestina.
Pergantian pemerintahan berpotensi memengaruhi arah kebijakan negara Zionis Israel terhadap Gaza, Tepi Barat, Palestina, Lebanon serta hubungan diplomatik dengan negara Paman Sam dengan negara-negara Timur Tengah. (net/alz/ap/rts/tg/kim/smr)





