PBB Catat 397 Serangan Pemukim Israel di Tepi Barat, Kekerasan terhadap Warga Palestina Meningkat

Badan organisasi dunia, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mencatat bahwa peningkatan kekerasan kepada pemukim Zionis Israel terhadap Palestina di berbagai wilayah khususnya di Tepi Barat, dengan total 397 insiden sepanjang bulan Oktober 2026.

Semarak.co – Data tersebut memerlihatkan meningkatnya terus ancaman terhadap keselamatan masyarakat Palestina, termasuk petani, keluarga serta penduduk desa yang tinggal berdekatan di permukiman Israel.

Dilansir OCHA, Mediaindonesia.com dan Antaranews.com (4/11/2026), angka tersebut menjadi perhatian internasional karena mencerminkan tekanan keamanan yang terus dihadapi masyarakat Palestina di tengah konflik berkepanjangan.

Kekerasan Terjadi Saat Musim Panen Zaitun

Pada periode tanggal 20 hingga tanggal 26 Oktober 2026 saja, OCHA mencatat bahwa 62 serangan yang berdampak pada 49 komunitas Palestina di berbagai wilayah Tepi Barat selama sepekan tersebut berlangsung menurut OCHA.

Dari jumlah mingguan tersebut, 38 insiden berkaitan dengan musim panen zaitun, ketika petani menghadapi kekerasan, pencurian hasil panen, perusakan kebun, serta pembatasan akses menuju lahan pertanian mereka pada musim panen.

Serangan selama musim panen mengancam sumber penghidupan keluarga petani, sebab pohon zaitun dan hasil panennya menjadi bagian penting ekonomi masyarakat Palestina di wilayah itu selama bertahun-tahun, sekaligus menopang kebutuhan keluarga.

OCHA juga melaporkan 57 warga Palestina, termasuk sembilan anak, mengalami luka selama pekan tersebut akibat kekerasan pemukim maupun tindakan pasukan Israel di Tepi Barat yang diduduki selama periode pelaporan tersebut.

Dari korban luka itu, 23 orang terdampak serangan pemukim, sedangkan 34 lainnya terluka akibat tembakan atau kekerasan fisik yang dilakukan pasukan Israel, menurut laporan OCHA dalam periode tujuh hari tersebut.

Puluhan Keluarga Palestina Terpaksa Mengungsi

Di sejumlah lokasi, kekerasan turut mengganggu akses air dan kebutuhan dasar. OCHA melaporkan keluarga peternak di Khirbet Ras al Ahmar terpaksa meninggalkan tempat tinggal mereka sementara waktu akibat tekanan berulang.

Sebanyak 24 keluarga penggembala, terdiri atas 94 orang termasuk 40 anak Palestina, mengungsi akibat pembatasan akses dan serangan berulang di kawasan Tubas, menurut laporan kemanusiaan PBB dari wilayah utara Tepi Barat Palestina.

Situasi ini memperlihatkan dampak kekerasan yang melampaui korban luka, karena pembatasan jalan, gangguan infrastruktur dan ancaman terhadap lahan pertanian turut menekan kehidupan masyarakat Palestina di berbagai komunitas terdampak.

OCHA menyatakan pemantauan masih berlangsung dan angka 397 hanya mencakup insiden hingga 26 Oktober 2026 sehingga belum menggambarkan keseluruhan kejadian sepanjang Oktober tahun ini hingga laporan tersebut diterbitkan oleh PBB.

Catatan PBB tersebut kembali menyoroti perlunya perlindungan warga sipil, akses kemanusiaan, serta jaminan keselamatan petani Palestina ketika menjalankan kegiatan ekonomi dan kehidupan sehari-hari tanpa intimidasi maupun ancaman kekerasan yang berulang. (net/ocha/mic/anc/kim/smr)