Penembakan Bermotif Islamofobia di Pinggiran Paris, Satu Orang Tewas dan Tujuh Terluka

Kekerasan bermotif kebencian rasial dan dugaan Islamofobia kembali mengguncang Prancis. Penembakan di kawasan Trappes dan La Verriere, pinggiran barat daya Paris, Prancis, menewaskan satu orang dan menyebabkan tujuh lainnya mengalami luka-luka.

Semarak.co – Peristiwa itu terjadi pada Jumat, 23 Oktober 2026. Seorang pria berusia 39 tahun yang diidentifikasi sebagai Kevin T. diduga melakukan serangkaian penembakan menggunakan senjata otomatis ketika melintas menggunakan kendaraan di kedua wilayah itu.

Kasus ini menjadi perhatian serius karena penyelidikan aparat menemukan indikasi kuat bahwa para korban dipilih berdasarkan penampilan fisik, terutama mereka yang dianggap beragama Islam, berasal dari Afrika Utara maupun keturunan Afrika sub-Sahara.

Jaksa antiterorisme Prancis, Olivier Christen, mengungkapkan, tersangka mengakui secara khusus menargetkan orang-orang yang menurut penilaiannya memiliki penampilan Muslim atau Afrika. Pengakuan memperkuat dugaan adanya motif diskriminasi rasial dan kebencian terhadap kelompok tertentu.

Salah satu korban meninggal dunia diketahui bernama Pengo Bossio Wangi, seorang pria berusia 26 tahun berkewarganegaraan Prancis yang berasal dari Republik Demokratik Kongo. Tujuh orang lainnya mengalami luka-luka, termasuk seorang anak perempuan berusia 11 tahun.

Menurut laporan Euronews, tersangka tidak hanya melakukan penembakan dari kendaraan, tetapi juga melancarkan serangan dengan berjalan kaki. Aksi tersebut berlangsung di beberapa lokasi dan menimbulkan kepanikan masyarakat sekitar.

Penyidik menyebut tersangka telah mempersiapkan aksinya jauh sebelum penembakan berlangsung. Sejak September 2026, dia diduga membeli sejumlah komponen senjata untuk meningkatkan kemampuan senapan mesin ringan jenis Sten yang digunakannya.

Penggeledahan di kediaman tersangka juga menemukan sejumlah barang berbahaya, termasuk komponen senjata, magasin, bayonet, serta benda-benda lain yang berkaitan dengan persenjataan. Aparat turut menemukan sejumlah stiker bernuansa nasionalisme ekstrem dan buku “Mein Kampf” karya Adolf Hitler.

Dilansir AFP dan Euronews (2/11/2026), temuan itu menjadi bagian penting penyelidikan untuk mengungkap latar belakang ideologis pelaku. Namun, keberadaan barang-barang tersebut harus dibedakan dari pembuktian hukum mengenai keterlibatan organisasi tertentu.

Dalam pemeriksaan, Kevin T. mengakui telah merencanakan penembakan, tetapi membantah memiliki tujuan terorisme. Dia juga dilaporkan tidak menunjukkan penyesalan atas perbuatannya sebagaimana disampaikan jaksa antiterorisme.

Pada 29 Oktober 2026, tersangka resmi menghadapi dakwaan awal pembunuhan dan percobaan pembunuhan yang berkaitan dengan tindakan terorisme, dengan pemberatan karena dugaan motif rasial. Jaksa meminta agar tersangka ditahan selama proses hukum berlangsung.

Kasus itu memunculkan kembali kekhawatiran mengenai meningkatnya sentimen anti-Muslim, rasisme dan diskriminasi terhadap masyarakat keturunan imigran di Prancis. Kelompok masyarakat sipil menyerukan perlindungan lebih kuat bagi kelompok minoritas.

Serangan ini juga berlangsung menjelang pemilihan presiden Prancis 2027, ketika isu imigrasi, identitas nasional dan keamanan menjadi bagian penting perdebatan politik. Sejumlah pihak memeringatkan agar kebencian rasial tidak semakin dinormalisasi dalam kehidupan publik. (net/afp/en/kim/smr)