Tutup Akademi Keluarga Indonesia Tahun 2026, Wamendukbangga/Wakil Kepala BKKBN Isyana Ajak 134 Peserta Rangkul Remaja Lainnya

Wakil Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Wakil Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka.Foto: humas Kemendukbangga/BKKBN

Kegiatan Akademi Keluarga Indonesia Tahun 2026 resmi ditutup oleh Wakil Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Wakil Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka di Kantor Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN pada Kamis (29/10/2026).

Semarak.co – Kegiatan berlangsung selama dua hari dan diikuti oleh para peserta yang terdiri dari 134 siswa serta 67 kepala sekolah menengah atas/sederajat dari 34 Provinsi di Indonesia.

“Saya sangat meyakini bahwa seluruh peserta di sini adalah anak-anak yang tangguh, memiliki kemampuan yang luar biasa, tapi yang perlu kita ingat adalah masih banyak rekan-rekan kita yang belum memiliki keberuntungan yang sama seperti kita, bisa mengikuti agenda seperti Akademi Keluarga Indonesia ini,” ujar Isyana.

“Kita harus juga bisa merangkul mereka agar remaja-remaja lain yang mungkin memiliki permasalahan akhirnya bisa mendapatkan solusi dari Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-R),” Wamen Isyana mengajak para peserta Akademi Keluarga Indonesia angkatan kedua tersebut.

PIK-R sendiri merupakan wadah kegiatan yang dikelola dari, oleh, dan untuk remaja guna memberikan akses informasi, pelatihan dan konseling tentang Perencanaan Kehidupan Berkeluarga bagi Remaja (PKBR).

Adapun PIK-R menjadi salah satu kriteria dalam mengikuti Akademi Keluarga Indonesia, yaitu sekolah berstatus Sekolah Siaga Kependudukan (SSK) dan/atau memiliki PIK-R.

Dalam PIK-R juga dikembangkan peran pendidik sebaya dan konselor sebaya yang telah mendapatkan pelatihan, sehingga mereka memiliki bekal keterampilan mendengarkan, memahami batas kemampuannya, menjaga privasi secara bertanggung jawab, dan mengenali kapan harus meminta bantuan orang dewasa atau tenaga profesional.

Wamen Isyana pun mendorong para remaja untuk tidak perlu malu dan tidak takut untuk mengakui jika memerlukan bantuan, bahkan dari tenaga profesional, karena melalui pertolongan tersebut para remaja dapat memperoleh solusi yang tepat.

Selain itu, Wamen Isyana juga mengemukakan bahwa bimbingan dari para kepala sekolah juga sangat penting, dan berharap sekolah dapat menyelenggarakan PIK-R karena dinilai sangat dibutuhkan oleh para remaja dengan berbagai tantangan yang saat ini dihadapi di tengah perkembangan teknologi yang sangat cepat serta keberadaan media sosial.

Pada kesempatan yang sama, salah satu peserta Akademi Keluarga Indonesia Tahun 2026, Kepala SMA Negeri Keguruan Kabupaten Sorong Provinsi Papua Barat Daya Ririn Sri Rahayu mengungkapkan kebahagiaan atas keikutsertaan dalam kegiatan tersebut.

Dia merasa acara ini sangat bermanfaat untuk masa depan para siswa karena terdapat pembahasan materi empat pilar yang saling melengkapi yakni Karakter dan Kesiapan Berkeluarga, Ekologi Kependudukan, Literasi dan Etika Digital, serta Optimalisasi Bonus Demografi.

Di samping itu, materi lain yang diperoleh para peserta, antara lain tentang pengelolaan kesehatan jiwa, pembangunan karakter dan bela negara untuk para siswa, serta _sharing session_ tentang integrasi kurikulum Akademi Keluarga Indonesia dan penjelasan rencana tindak lanjut bagi para kepala sekolah.

“Sangat bahagia dan _excited_ karena dari Papua sampai Aceh saya dapat banyak teman, dan gak menyangka dapat Juara 1. Setelah dari sini, saya akan berikan dampak berupa edukasi dan aksi nyata untuk teman-teman di sekolah,” ujar Aisyah Latif.

Aisyah Latif adalah Peserta Terbaik dari MAN 1 Padang Panjang, yang turut memberikan kesan dan pesan setelah mengikuti Akademi Keluarga Indonesia Tahun 2026.

Di akhir, Wamen Isyana berpesan kepada seluruh peserta agar materi yang diterima dari Akademi Keluarga Indonesia Tahun 2026 dapat disebarluaskan dan diinformasikan kepada para remaja lain, baik di sekolah maupun di komunitas masing-masing.

Sehingga anak-anak muda dapat mengisi peluang jendela bonus demografi di Indonesia dan menjadi pemimpin di masa yang akan datang.(hms/bkkbn/sam).