Serangan militer Israel kembali menelan korban jiwa di Jalur Gaza. Sedikitnya delapan warga Palestina, termasuk seorang anak, meninggal dunia dalam dua serangan terpisah pada Minggu (1/11/2026), memicu kekhawatiran dunia internasional.
Semarak.co – Serangan pertama menghantam kawasan Al-Mawasi, sebelah barat Khan Younis, Gaza selatan. Sumber medis Rumah Sakit Nasser menyebut lima orang tewas dalam insiden tersebut, termasuk lima anggota kepolisian menurut keterangan resmi.
Di Gaza City, serangan terpisah di Jalan Al-Thawra menewaskan tiga warga Palestina, termasuk seorang anak berusia empat tahun. Enam orang lainnya dilaporkan mengalami luka-luka menurut petugas medis rumah sakit setempat.
Rumah Sakit Al-Shifa menerima korban dari serangan di Gaza City, sementara Rumah Sakit Nasser menangani korban dari Khan Younis. Informasi tersebut disampaikan sumber medis kepada kantor berita internasional pada hari Ahad (1/11/2026).
Militer Zionis Israel menyatakan menyerang sejumlah militan di Khan Younis, tetapi tidak memberikan rincian lebih lanjut. Pihak militer belum segera berkomentar mengenai serangan di Gaza City hingga laporan resmi ini diterbitkan.
Israel menyebut Hamas kembali mempersenjatai diri dan melancarkan serangan, sehingga operasi militer terhadap kelompok itu ditingkatkan. Hamas membantah tuduhan tersebut dan menuding Israel merusak kesepakatan gencatan senjata yang telah disepakati.
Menurut Kementerian Kesehatan Gaza, seperti dilansir Anadolu Agency, Al Jazeera dan ABC News (2/11/2026), sejak gencatan senjata berlaku pada 10 Oktober 2025, sedikitnya 1.580 warga Palestina tewas dan 5.711 lainnya terluka akibat serangan Israel selama periode itu.
Kesepakatan yang dimediasi Amerika Serikat (AS) juga mengatur rekonstruksi Gaza. Namun, perundingan masih tersendat karena belum tercapai kesepakatan mengenai pelucutan senjata Hamas dan penarikan pasukan Israel dari wilayah Palestina tersebut permanen.
Situasi kemanusiaan tetap memprihatinkan. Sebagian besar dari lebih dua juta penduduk Gaza bertahan di wilayah terbatas, menghadapi kerusakan permukiman, keterbatasan layanan dasar, serta ancaman serangan yang terus berlanjut setiap hari. (net/aa/alz/an/smr)





