Pemerintah desa didorong memperkuat pencegahan stunting melalui pemanfaatan Dana Desa secara tepat sasaran, terutama untuk mendukung kesehatan ibu hamil, bayi, balita, serta peningkatan kualitas hidup masyarakat.
Semarak.co – Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Mendes PDT), Yandri Susanto menekankan pentingnya menyesuaikan alokasi anggaran dengan kebutuhan kesehatan masyarakat, terutama pemenuhan gizi ibu hamil dan anak.
Upaya tersebut merupakan bagian dari penguatan pembangunan sumber daya manusia di tingkat desa. Pemerintah desa diharapkan menyeimbangkan pembangunan infrastruktur dengan peningkatan kualitas kesehatan masyarakat melalui program pencegahan stunting.
Pesan tersebut disampaikan Menteri Desa usai membuka dan memberikan sambutan dalam Workshop Evaluasi Kinerja Kader Pembangunan Manusia (KPM) dan Pemberian Penghargaan Desa Berkinerja Baik 2026 di Kota Bogor, Kamis (29/10/2026).
Kegiatan yang berlangsung pada dari tanggal 28 hingga 30 Oktober 2026 tersebut diselenggarakan melalui kerja sama Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal dengan Bank Dunia untuk mengevaluasi program pencegahan stunting.
Forum ini menjadi kesempatan untuk menilai pelaksanaan program pencegahan stunting sekaligus memberikan apresiasi kepada desa yang menunjukkan kinerja baik dalam mengintegrasikan pelayanan dasar bagi masyarakat.
Dana Desa Mesti disesuaikan dengan Kondisi Stunting
Menteri Yandri Susanto yang merupakan politisi Partai Golkar menegaskan bahwa Dana Desa merupakan instrumen penting untuk mendukung pencegahan dan percepatan penurunan stunting melalui program yang sesuai kebutuhan masyarakat setempat.
Pemerintah desa perlu memastikan penggunaan anggaran didasarkan pada persoalan nyata masyarakat, bukan sekadar menyalin program seragam tanpa mempertimbangkan kondisi wilayah dan kebutuhan keluarga.
Menurut Menteri Yandri, desa dengan prevalensi stunting tinggi perlu memprioritaskan anggaran untuk intervensi pencegahan dan penanganan, sedangkan desa yang berhasil dapat mempertimbangkan kebutuhan pembangunan lainnya sesuai ketentuan.
Pendekatan berbasis kondisi wilayah penting karena setiap desa menghadapi persoalan berbeda, mulai dari pemenuhan gizi hingga keterbatasan akses layanan kesehatan, sanitasi, air bersih dan ekonomi keluarga yang berkesinambungan.
Melalui pemetaan kebutuhan yang baik, pemerintah desa diharapkan mampu menentukan program prioritas yang memberikan dampak langsung kepada masyarakat sekaligus memperkuat efektivitas penggunaan anggaran pembangunan.
Pendataan akurat juga diperlukan agar keluarga yang membutuhkan dukungan memperoleh perhatian secara tepat, sehingga intervensi pemerintah desa dapat menjangkau sasaran dan menghasilkan manfaat berkelanjutan.
Perhatian terhadap Pemenuhan Gizi Ibu Hamil dan Anak
Pencegahan stunting memerlukan pemenuhan gizi sejak masa kehamilan hingga anak memasuki periode pertumbuhan, sehingga intervensi kesehatan harus direncanakan secara berkesinambungan dan tepat sasaran.
Ibu hamil, bayi baru lahir dan balita yang terpantau di Indonesia, merupakan kelompok yang memerlukan perhatian khusus melalui pemeriksaan kesehatan, pemantauan pertumbuhan, edukasi pola makan, serta pendampingan keluarga.
Pemerintah desa dalam hal ini dapat memperkuat dukungan terhadap kegiatan posyandu dan pendampingan keluarga melalui koordinasi dengan puskesmas, kader kesehatan serta instansi terkait sesuai kebutuhan masyarakat.
Pencegahan stunting tidak cukup dilakukan melalui pemberian makanan tambahan. Perubahan perilaku keluarga, pola asuh, kebersihan lingkungan, dan pemanfaatan layanan kesehatan juga perlu diperhatikan secara konsisten.
Dalam kegiatan tersebut, sembilan desa menerima penghargaan atas keberhasilan menjalankan konvergensi pencegahan dan percepatan penurunan stunting melalui penguatan koordinasi program serta pelayanan dasar masyarakat.
Pemberian penghargaan merupakan agenda tahunan Kemendes PDT yang dikoordinasikan Direktorat Jenderal Pembangunan Desa dan Perdesaan untuk mengapresiasi komitmen pemerintah desa dalam pencegahan stunting.
Yandri berharap penghargaan tersebut tidak berhenti sebagai pengakuan atas capaian, tetapi mendorong desa penerima menjadi contoh dalam membangun program terintegrasi dan memperkuat pendampingan keluarga.
Praktik baik dari desa berprestasi dapat menjadi bahan pembelajaran bagi wilayah lain untuk mengembangkan pendekatan sesuai kebutuhan lokal tanpa mengabaikan karakteristik masyarakat masing-masing.
Kader Pembangunan Manusia Berperan Penting
Keberhasilan pencegahan stunting oleh pemerintah nantinya tidak terlepas dari peran Kader Pembangunan Manusia (KPM), yang mendukung pemantauan layanan dasar, pendataan sasaran, serta koordinasi program di tingkat desa.
Melalui evaluasi, kinerja kader dapat ditinjau untuk mengetahui efektivitas pendampingan, mengidentifikasi kendala pelaksanaan, memperbaiki koordinasi serta meningkatkan kualitas program pada periode berikutnya.
KPM perlu bekerja bersama-sama dengan pemerintah desa, tenaga kesehatan, kader posyandu, dan masyarakat luas agar keluarga yang membutuhkan dukungan tidak terlewat dari pendataan serta memperoleh akses layanan.
Data kondisi ibu hamil, bayi dan balita perlu diperbarui secara berkala sebagai dasar penentuan sasaran intervensi, penyusunan prioritas anggaran dan evaluasi perkembangan program, demikian Menteri Desa Yandri Susanto.
Kolaborasi Lintas Sektor untuk Menurunkan Stunting
Kemudian, Menteri Desa juga menekankan pentingnya konvergensi program dan kerja sama lintas sektor karena persoalan stunting berkaitan dengan kesehatan, kemiskinan, ketahanan pangan, sanitasi, air bersih, dan pola pengasuhan.
Pemerintah desa perlu menyelaraskan program pembangunan dengan pelayanan pemerintah daerah dan fasilitas kesehatan agar dukungan anggaran saling melengkapi serta menjawab kebutuhan masyarakat secara terpadu.
Pengentasan kemiskinan turut menjadi bagian penting pencegahan stunting karena keterbatasan ekonomi dapat menyulitkan keluarga memenuhi kebutuhan pangan bergizi dan mengakses pelayanan kesehatan secara memadai.
Program pembangunan desa perlu menghubungkan peningkatan kesejahteraan keluarga dengan kualitas kesehatan anak melalui dukungan ekonomi masyarakat, edukasi gizi, dan perbaikan lingkungan yang direncanakan secara terpadu.
Penguatan Evaluasi dan Pengawasan Dana Desa
Optimalisasi Dana Desa yang digelontorkan pada masyarakat perlu disertai pengawasan agar penggunaan anggaran sesuai perencanaan, ketentuan, dan tujuan program, dengan sasaran jelas serta indikator keberhasilan yang terukur.
Evaluasi tidak cukup menilai penyerapan anggaran atau jumlah kegiatan. Pemerintah desa juga perlu memperhatikan jangkauan layanan, keterlibatan keluarga sasaran, keberlanjutan pendampingan, serta perkembangan kesehatan masyarakat.
Musyawarah desa dapat menjadi ruang membahas kebutuhan masyarakat dan menetapkan prioritas pembangunan, sementara keterlibatan warga membantu memastikan program sesuai persoalan lapangan serta dapat dipertanggungjawabkan.
Dengan perencanaan berbasis data, pendampingan konsisten dan koordinasi antar lintas sektor, Dana Desa bisa diharapkan akan memberikan manfaat yang lebih besar bagi peningkatan kualitas hidup masyarakat luas di seluruh Indonesia.
Pembangunan Desa Tak Cuma Berorientasi Infrastruktur
Mendes Yandri menegaskan bahwa pembangunan desa harus mencakup pembangunan manusia secara menyeluruh, dengan memperhatikan kesehatan, pemenuhan gizi, dan kesejahteraan keluarga sesuai kebutuhan setiap wilayah.
Infrastruktur tetap penting, tetapi peningkatan kualitas kesehatan dan kesejahteraan keluarga harus berjalan beriringan agar pembangunan desa memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dalam jangka panjang.
Penurunan terhadap stunting membutuhkan konsistensi perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Keberhasilan tidak cukup diukur melalui kegiatan jangka pendek, tetapi juga keberlanjutan pelayanan dan perkembangan kesehatan anak.
Sementara, penghargaan kepada sembilan desa berkinerja baik diharapkan mendorong lahirnya inovasi lokal serta meningkatkan keterlibatan masyarakat dan lembaga terkait dalam memperkuat program pencegahan stunting.
Melalui optimalisasi Dana Desa dan kolaborasi berbagai pihak, percepatan penurunan stunting diharapkan berjalan lebih terarah untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan mempersiapkan generasi masa depan yang sehat. (net/kim/smr)





