Satu dari tiga remaja Indonesia memiliki masalah kesehatan mental sementara satu dari 20 remaja Indonesia memiliki gangguan mental dalam 12 bulan terakhir (Indonesia National Adolescent Mental Health Survey atau I-NAMHS, 2022).
Semarak.co – Di sisi lain, data U-Report Indonesia tahun 2020 menunjukkan bahwa 57% remaja merasa malu atau takut untuk memberi tahu orang lain tentang kondisi mentalnya. Merujuk dari beberapa fakta tersebut, negara berusaha hadir untuk mengatasi tantangan yang dihadapi para remaja sekarang ini.
Salah satu solusi dari Kemendukbangga/BKKBN adalah memberikan akses yang bisa diraih oleh para remaja yang mengalami potensi gangguan kesehatan mental, melalui PIK-R atau Pusat Informasi dan Konseling Remaja, serta Forum Generasi Berencana (Genre).
“Kedua forum inilah yang memberikan ruang kepada para remaja untuk bisa _ngobrol_, bisa diskusi, untuk bisa dididik menjadi konselor sebaya,” jelas Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional Wihaji dalam wawancara di salah satu program stasiun televisi swasta pada Selasa (27/10/2026).
PIK-R memiliki peran strategis karena dikelola dari, oleh, dan untuk remaja. PIK-R juga mengembangkan peran pendidik sebaya dan konselor sebaya yang telah mendapatkan pelatihan.
Sehingga mereka memiliki bekal keterampilan mendengarkan, memahami batas kemampuannya, menjaga privasi secara bertanggung jawab, dan mengenali kapan harus meminta bantuan orang dewasa atau tenaga profesional.
Para remaja dapat mengakses PIK-R melalui jalur pendidikan, yakni di sekolah-sekolah yang telah membentuk PIK-R, atau melalui komunitas masyarakat, seperti di desa/kelurahan atau kabupaten/walikota.
Sementara Forum Genre merupakan program di bawah naungan Kemendukbangga/ BKKBN yang dikembangkan dalam rangka penyiapan dan perencanaan kehidupan berkeluarga bagi remaja.
Melalui edukasi dan kampanye perubahan perilaku, Forum Genre berperan dalam pencegahan perkawinan anak, penyiapan kehidupan berkeluarga, serta pemberdayaan remaja sebagai agen perubahan di sekolah, kampus, dan komunitas. Forum Genre saat ini berada di tingkat nasional, Provinsi, Kabupaten/Kota dan Kecamatan.
Menteri Wihaji pun menyampaikan lebih lanjut bahwa peran orang tua juga penting dalam menjaga kesehatan mental remaja, terlebih di era digital dengan berbagai macam tantangan pengasuhan yang menyertai.
Seperti paparan konten di media sosial, ketergantungan gawai dan internet, tekanan media sosial dan perbandingan diri, komunikasi dan kedekatan yang menurun, serta tantangan untuk menjadi orang tua yang adaptif terhadap perkembangan zaman.
“Orang tua hari ini mesti bersama-sama belajar tentang bagaimana punya anak dalam kondisi peradaban baru, kasih kesempatan anak untuk berbicara,” tutur Menteri Wihaji dirilis humas usai acara melalui WAGroup Jurnalis Kemendukbangga/BKKBN, Selasa malam tadi (27/10/2026).
Wihaji menyampaikan program lain Kemendukbangga/BKKBN dalam mendukung pengasuhan remaja.
Yakni Bina Keluarga Remaja (BKR), kelompok yang beranggotakan orang tua (ayah/ibu) yang memiliki anak usia remaja (10–24 tahun dan belum menikah) untuk saling berbagi pengalaman dan informasi dalam melakukan pengasuhan dan pendampingan tumbuh kembang anak remajanya.
Melalui sejumlah ruang aman tersebut, Menteri Wihaji berharap para remaja memiliki akses untuk menemukan solusi dari berbagai tantangan, termasuk gangguan kesehatan mental, sehingga remaja Indonesia dapat tumbuh menjadi generasi masa depan yang berkualitas dan menjadi pemimpin bangsa.(hms/bkkbn/sam)





