Serangan kelompok Houthi dari Yaman meningkatkan ketegangan di Arab Saudi setelah bandara, fasilitas minyak dan jalur transportasi menjadi sasaran ancaman. Gangguan penerbangan turut memicu kekhawatiran terhadap keamanan regional dan pasokan energi dunia.
Semarak.co – Laporan Reuters dan The National (27/10/2026), menyebut Houthi mengklaim menyerang Bandara Internasional King Khalid di Riyadh serta stasiun pemompaan minyak pada jalur pipa East-West. Namun, pemerintah Saudi belum mengonfirmasi secara langsung klaim serangan terbaru itu.
Gangguan Penerbangan Meluas
Data perusahaan analitik penerbangan Cirium menunjukkan 4.071 dari 4.736 penerbangan terjadwal di Bandara Riyadh dibatalkan antara 8 hingga 25 Oktober 2026. Angka itu setara sekitar 86% dari seluruh jadwal penerbangan komersial.
Gangguan tersebut meluas ke sejumlah bandara lain di negara Arab Saudi. Secara nasional, lebih dari 7.800 keberangkatan dibatalkan atau tidak beroperasi pada periode yang sama, setara sekitar 45% jadwal penerbangan.
Bandara Riyadh mulai membuka kembali sebagian operasional pada 25 Oktober setelah penutupan yang dimulai 10 Oktober. Terminal pertama melayani penerbangan domestik, sementara terminal kedua menangani layanan internasional maskapai nasional Saudi.
Penutupan sebelumnya terjadi setelah serangan yang diklaim kelompok Syiah Houthi menewaskan 13 orang dan melukai lebih dari 300 lainnya. Peristiwa itu disebut serangan paling mematikan di Arab Saudi selama satu dekade terakhir.
Fasilitas Minyak Menjadi Perhatian Dunia
Pada Senin, Houthi kembali mengklaim menargetkan bandara Riyadh dan fasilitas pemompaan minyak di jalur East-West. Koalisi pimpinan Saudi menyatakan mencegat rudal menuju ibu kota serta menghancurkan peluncur rudal di Sanaa.
Jalur pipa East-West penting karena mengangkut minyak mentah menuju Laut Merah, sehingga mengurangi ketergantungan ekspor Saudi pada Selat Hormuz. Gangguan fasilitasnya berpotensi menambah tekanan terhadap pasar energi internasional.
Meski demikian, kerusakan pada fasilitas minyak belum dikonfirmasi oleh otoritas Saudi. Klaim pihak bertikai perlu dibedakan dari informasi terverifikasi, sementara perkembangan keamanan dan jadwal penerbangan dapat berubah sewaktu-waktu di lapangan.
Ketegangan berlangsung ketika pejabat Arab Saudi, Turki dan Pakistan bertemu dengan pejabat Iran di Teheran untuk membahas penurunan eskalasi. Upaya diplomatik itu diharapkan mencegah konflik meluas di kawasan Timur Tengah.
Reuters dan The National (27/10/2026)





