Upaya mewujudkan lanjut usia (lansia) yang mandiri, produktif, dan sejahtera melalui program Lanjut Usia Berdaya (SIDAYA) terus diperkuat Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN.
Semarak.co – Salah satu upaya yang dilakukan ialah melalui kegiatan Literasi Perkoperasian bagi Lansia bertema Lansia Berdaya, Mandiri Finansial melalui Literasi Koperasi yang diselenggarakan secara hybrid Jumat (23/10/2026) dari kantor Kemendukbangga/BKKBN melalui Zoom Meeting dan kanal YouTube resmi Kemendukbangga/BKKBN.
Kegiatan ini merupakan bagian dari Rencana Aksi Sinergi Peta Jalan Pembangunan Kependudukan (PJPK) Tahun 2026, dengan target memberikan edukasi perkoperasian kepada 1.000 peserta. Berdasarkan data yang disampaikan dalam kegiatan, proporsi penduduk lansia di Indonesia telah mencapai 11,97% atau sekitar satu dari delapan penduduk (SUPAS, 2025).
Kondisi ini menegaskan pentingnya menyiapkan lansia agar tetap berdaya, termasuk melalui peningkatan pemahaman mengenai peluang ekonomi, pengelolaan usaha, dan partisipasi dalam kegiatan perkoperasian.
Deputi Bidang Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Keluarga Kemendukbangga/BKKBN, Nopian Andusti, menegaskan bahwa pembangunan kependudukan harus mencakup seluruh tahapan siklus hidup manusia, termasuk lansia.
“Para lansia bukan sekadar pemangku kenangan masa lalu, melainkan penentu kualitas peradaban masa depan. Pengalaman, kearifan, dan keterampilan yang dimiliki lansia merupakan aset berharga yang perlu didukung melalui wadah dan ekosistem yang tepat agar mereka tetap berdaya dan bermakna,” ujar Nopian di sambutan.
Nopian menjelaskan bahwa lansia tangguh perlu didukung melalui tujuh dimensi, yakni spiritual, fisik, intelektual, emosional, sosial kemasyarakatan, profesional atau vokasional, serta lingkungan. Literasi koperasi menjadi salah satu upaya memperkuat dimensi vokasional dan ekonomi agar lansia memiliki kesempatan untuk tetap produktif dan mandiri.
Koperasi dapat menjadi wadah bagi lansia untuk mengembangkan usaha bersama, memasarkan produk kerajinan dan kuliner, memanfaatkan keterampilan yang dimiliki, serta memperluas akses pasar dengan semangat kekeluargaan dan gotong royong.
Pengembangan kegiatan ini juga diharapkan terhubung dengan kelompok Bina Keluarga Lansia (BKL) dan Sekolah Lansia, sehingga pemberdayaan ekonomi dapat berjalan beriringan dengan penguatan kesehatan, interaksi sosial, dan kualitas hidup lansia.
Hadir sebagai narasumber Tenaga Ahli Bidang Literasi Perkoperasian dari Kementerian Koperasi (Kemenkop) Anton Ragil Susilo menjelaskan bahwa koperasi merupakan badan usaha yang dimiliki dan dijalankan bersama oleh para anggotanya dengan berlandaskan asas kekeluargaan.
Berbeda dari perusahaan yang hak suaranya dapat ditentukan oleh besarnya kepemilikan saham, koperasi menerapkan prinsip kesetaraan melalui mekanisme satu anggota satu suara. Koperasi adalah wadah berkumpul. Banyak temannya melalui wadah koperasi, tapi berkumpul juga ada hasilnya,” jelas Anton.
Koperasi dapat menghimpun potensi, pengalaman, dan keterampilan para lansia untuk dikembangkan menjadi kegiatan ekonomi produktif yang memberikan manfaat bagi anggota. Dalam paparannya, Anton juga menjelaskan beragam bentuk koperasi yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan potensi anggota.
Antara lain koperasi produsen, konsumen, jasa, pemasaran, serta simpan pinjam. Bagi lansia, koperasi dapat menjadi wadah untuk memasarkan hasil kerajinan tangan, makanan olahan, produk usaha rumahan, maupun hasil pertanian komunitas secara bersama-sama.
Melalui pengelolaan yang profesional, transparan, dan akuntabel, koperasi berpeluang memperluas akses pasar, meningkatkan efisiensi usaha, serta memberikan manfaat ekonomi bagi anggota, termasuk melalui pembagian Sisa Hasil Usaha (SHU) sesuai ketentuan dan partisipasi anggota.
“Pelaksanaan literasi ini juga menekankan pentingnya pemahaman mengenai hak dan kewajiban anggota, legalitas koperasi, tata kelola organisasi, serta mekanisme pengelolaan usaha dan pembagian SHU,” imbuh Anton dirilis humas usai acara melalui WAGroup Jurnalis Kemendukbangga/BKKBN, Sabtu (24/10).
Ditambahkan Anton, pengetahuan tersebut diperlukan agar lansia dan keluarga pendamping dapat mengenali koperasi yang dikelola secara bertanggung jawab serta lebih bijak dalam mengambil keputusan keuangan.
Kegiatan ini turut diarahkan untuk meningkatkan kapasitas penyuluh keluarga berencana, Tim Pendamping Keluarga (TPK), pengelola BKL, dan Pengurus Sekolah Lansia agar mampu mendukung edukasi perkoperasian di lingkungan masing-masing.
Kembali Nopian mengatakan, melalui kegiatan ini Kemendukbangga/BKKBN berharap literasi perkoperasian dapat ditindaklanjuti dengan pengembangan koperasi lansia dan kelompok usaha bersama yang terintegrasi dengan BKL serta Sekolah Lansia.
“Sinergi antara pemerintah, komunitas, keluarga, dan gerakan koperasi diharapkan membuka lebih banyak ruang bagi lansia untuk berpartisipasi sesuai kemampuan dan pengalamannya,” ujar Nopian.
Dengan demikian, lanjut dia, lansia tidak hanya memperoleh kesempatan meningkatkan kemandirian finansial, tetapi juga tetap aktif, percaya diri, dan terhubung dengan lingkungan sosialnya dalam mewujudkan lansia berdaya melalui SIDAYA. (hms/kbn/smr)





