Persija Menang, Sepak Bola tetap Menang

Geisz Chalifah. Foto: internet

Oleh Geisz Khalifa *)

semarak.co – Persib bermain bagus. Persija bermain disiplin. Pada akhirnya, Persija menang 2–1. Pertandingan berlangsung keras, tetapi tetap harus menjadi pertandingan. Rivalitas boleh panas, tetapi persaudaraan jangan hilang. Terima kasih Jakmania.

Malam ini kita menunjukkan bahwa mendukung Persija tidak harus dengan kericuhan. Kita boleh fanatik, tetapi tidak perlu merendahkan lawan. Dan terima kasih Persib. Kalian bermain bagus dan telah memberikan pertandingan yang menarik. Kalian layak mendapatkan penghormatan.

Persija menang, kita bergembira.

Persib pulang, kita beri penghormatan.

Pulanglah dengan gembira dan lapang.

Keduanya telah memberikan yang terbaik.

Rivalitas cukup di lapangan.

Jangan ada yang terluka.

Jangan ada yang dirusak.

Kita boleh mencintai klub dengan fanatik, tetapi tidak harus membenci mereka yang berbeda. Cukuplah JIS yang pernah dikorbankan oleh para politisi bangsat. Jangan ada lagi stadion yang dirusak, jangan lagi fasilitas, jangan lagi Jakarta yang menjadi korban.

Malam ini Persija menang.

Rayakan dengan kepala tegak,

dengan hati tetap lapang.

Persija menang.

Sepak bola tetap menang.

 

Artikel opini sebelum atau menjelang pertandingan big match el clasico ala Indonesia, Persija vs Persib

 

Jakmania, Jangan Kehilangan Kelas. Menang Rayakan, Kalah Hormati. (Catatan Anak Persija Sebelum Jakmania Lahir). Geisz khalifa.

Saya bicara begini bukan sebagai orang yang baru mengenal Persija. Sejak SD, saya sudah menjadi fans berat Persija. Saya ikut klub bola MBFA bertahun-tahun, sampai SMA. Saya hafal nama-nama pemain Persija. Saya mengikuti pertandingan, mengenal pemainnya, dan menjadi pendukung fanatik.

Dulu, menonton Persija bukan soal nyaman. Naik bus PPD atau Mayasari Bakti sudah cukup. Kadang hanya satu kaki yang bisa berpijak di tangga. Bagian dalam bus sudah penuh sesak. Yang penting sampai stadion.  Yang penting melihat Persija. Menang atau kalah, saya tetap Persija.

Juara atau tersisih, tetap Persija. Karena pada masa itu, mencintai Persija tidak membutuhkan banyak alasan. Yang penting Persija. Dan jangan lupa satu hal. Ketika saya sudah menjadi pendukung Persija, Jakmania belum ada. Belum ada organisasi suporter seperti sekarang.

Belum ada atribut, struktur, koreografi, dan segala macam identitas yang melekat pada Jakmania. Jakmania mungkin belum lahir. Bisa jadi ketuanya pun belum lahir. Tapi Persija sudah saya cintai. Karena itu, ketika hari ini Persija bertanding melawan Persib, tentu saya berharap Persija menang.

Sangat berharap. Tapi ada sesuatu yang menurut saya jauh lebih penting daripada sekadar tiga poin. Saya berharap Jakmania menjadi tuan rumah yang baik. Karena ketika Persija bermain di Jakarta, yang diuji bukan hanya sebelas pemain di lapangan. Yang ikut diuji adalah kedewasaan suporternya.

Kita boleh fanatik.

Boleh berisik.

Boleh menyanyi sampai suara habis.

Boleh membuat stadion bergemuruh.

Itu bagian dari sepak bola.

Tapi jangan pernah merasa bahwa menjadi fanatik berarti harus kehilangan akal sehat.

Jangan menghina.

Jangan merusak.

Jangan menyerang.

Jangan membuat orang lain takut hanya karena kita ingin menunjukkan bahwa kita paling mencintai Persija. Persija adalah kebanggaan Jakarta. Dan Jakmania adalah salah satu wajah yang paling terlihat ketika kebanggaan itu dibawa ke stadion.Maka jangan rusak nama besar Persija hanya karena 90 menit pertandingan.

Kalau Persija menang, rayakan.

Kalau Persija kalah, hormati.

Karena sepak bola adalah pertandingan.

Hari ini kita menang.

Besok bisa kalah.

Hari ini kita mengejek.

Besok mungkin kita yang diejek.

Tetapi setelah peluit panjang berbunyi, semuanya selesai.

Jangan sampai karena sepak bola kita kehilangan persaudaraan. Saya mencintai Persija sejak sebelum Jakmania ada. Dan justru karena itu, saya ingin melihat Jakmania tumbuh menjadi suporter yang besar. Bukan hanya besar jumlahnya.

Tetapi besar kelasnya. Besar mentalitasnya. Besar martabatnya. Kalau mau menunjukkan bahwa kita Jakarta, tunjukkan dengan cara kita bersikap. Persija boleh keras di lapangan. Jakmania boleh bergemuruh di tribun.

Tapi jangan brengsek. Karena menjadi suporter fanatik tidak berarti harus menjadi manusia yang kehilangan akal sehat. Menang, rayakan. Kalah, hormati. Dan setelah pertandingan selesai, kita pulang sebagai orang Jakarta yang tetap punya harga diri. Salam Persija.

*) Pendukung Persija

 

Sumber: WAGroup KAHMI Nasional (postJumat11/9/2026/geisz)