Oleh Andy Syam Panaungi *)
semarak.co – Apakah algoritma yang mengendalikan pikiran dan emosi kita ataukah kita mampu mengendalikannya sendiri. Bagaimana membangun konsep pertahanan diri dari dampak negatif alogaritma? Algoritma hadir untuk mendukung dinamika dan pergerakan platform global media social
Seperti Instigram, Face Book, YouTube dll untuk merespon minat dan interaksi komunikasi. Ada 2 bentuk algoritma yaitu:
Filter Bubble, bekerja secara otomatis menyaring informasi berdasarkan interaksi pengguna sebelumnya. Kesukaan informasi tertentu akan disajikan berulang ulang seperti informasi hiburan, artist dll.
Bisa jadi informasi itu melampaui budaya pengguna yang bisa secara evolusi merubah pikiran mereka menerima budaya asing yang baru, hobby baru dalam kehidupan. Membangun pilihan hidup bertahan atau ikut arus tanpa disadari atau tidak.
Eacho Chamber, mengacu pada kesamaan pandangan serupa saling menguatkan opini. Terus menerus disajikan konten yang selaras dengan opini itu. Misalnya opini politik atau perang atau konflik yang macam macam corak dan dampaknya.
Bahkan ada yang bersifat provokatif dan hoax untuk membentuk opini public. Masalah kecil bisa berubah menjadi percikan api yang membesar dan membakar. Opini selain ada yang membangun kedamaian, juga bisa berdampak hasutan, pertentangan, sampai kepada gerakan politik dan sosial.
Begitulah, algoritma membawa dampak efek yang luar biasa. Sewaktu waktu bagaikan badai yang mengguncang publik. Sewaktu waktu bisa menciptakan butterfly effect yang dashyat. Algoritma Setiap saat menyajikan berbagai macam informasi yang bisa mengendalikan pikiran manusia dimanapun berada.
Membangun pikiran positif dan negatif secara instant dalam hitungan menit. Seketika keadaan bisa berubah dari kondisi damai menjadi konflik. Kecendrungan manusia lebih cepat terpengaruh pada pikiran negatif dari pada positif.
Algoritma mempengaruhi pengambilan keputusan instant individu tanpa pertemuan, tanpa rapat dan tanpa melalui organisasi. Algoritma bisa membuat pikiran manusia tersesat tanpa disadari kalau kurang bijak menerima data dan informasi yang sepihak.
Kadang mengandung kebohongan, fitnah, hasutan yang bersumber dari rasa iri, benci dan dengki. Emosi manusia cepat meledak karena terima informasi dari algoritma bisa membuat pikiran salah arah dan salah fatal mengambil keputusan
Satu satu pertahanan manusia menghadapi algoritma adalah hati nuraninya sebagai kekuatan otonom jiwa manusia. Hati nurani yang bersih dan jujur, mampu mengevaluasi dan kritis pada setiap informasi yang didapatkan dari algoritma.
Tetapi bila hati nurani tidak bersih dan tidak jujur, pikiran mudah terseret dan tersesat karena menerima informasi dari algoritma yang tidak benar dan mungkin provokatif. Bahkan mungkin pikiran kita bisa terseret pada fitnah dan hoax.
Bagaimana membersihkan hati nurani?
Berhenti dari kebiasaan berdusta. Mengendalikan diri dari sifat sifat iri, benci, dengki dan dendam. Hal itu membuat hati bersih dan membangun kedamaian dalam hati. Membuat pikiran bekerja secara objektif, menilai setiap informasi secara berimbang yang didapatkan dari algoritma
*) Pengamat Sosial Media Kepemimpinan Baru Masa Depan Indonesia
The Leadership
Hikmahjalan
Kearifan/Pencerah Kepemimpinan
Sumber: WAGroup KAHMI Nasional (postSabtu5/9/2026)





