BCA Syariah Bersiap Naik ke KBMI 2, Raup Laba Rp109,4 Miliar pada Semester I 2026

Direktur Pranata (kedua dari kanan) dan Direktur Lukman (paling kanan) mendampingi Direktur Utama BCA Syariah Yuli Melati Suryaningrum (tengah atau ketiga dari kanan) foto bersama usai paparan dalam Media Update BCA Syariah Kinerja Semester 1 – 2026. Foto: humas BCAS

PT Bank BCA Syariah (BCA Syariah) membukukan laba bersih setelah pajak atau Profit After Tax (PAT) sebesar Rp109,4 miliar hingga Juni 2026. Angka ini tumbuh 9,2% secara tahunan dibanding Rp100,1 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Semarak.co – Direktur Keuangan BCA Syariah Pranata mengatakan, kinerja tersebut ditopang fungsi intermediasi yang berjalan baik serta penyaluran pembiayaan yang tetap memperhatikan kualitas. Realisasi ekonomi makro di awal tahun ini memang penuh tantangan dan berbeda dari ekspektasi semula akibat faktor geopolitik global.

Bacaan Lainnya

“Kendati demikian, efisiensi yang kami lakukan serta fokus pada penyaluran pembiayaan berkualitas membuat BCA Syariah tetap mampu tumbuh di atas rata-rata industry,” ujar Pranata dalam pemaparan kinerja keuangan BCA Syariah semester I 2026, Selasa (11/8/2026).

Sepanjang 6 bulan pertama 2026 atau semester I 2026, rinci Pranata, total pembiayaan BCA Syariah mencapai Rp13,6 triliun, tumbuh 20,5% secara tahunan dari Rp11,2 triliun pada Juni 2025. Pertumbuhan ini berada di atas rata-rata pertumbuhan pembiayaan perbankan nasional maupun perbankan syariah yang berada di kisaran 10,8%.

Berdasarkan segmen, pertumbuhan tertinggi berasal dari pembiayaan konsumer yang meningkat 43,5% secara tahunan menjadi Rp2,47 triliun. Selanjutnya, pembiayaan segmen usaha kecil dan menengah (SME) tumbuh 24% menjadi Rp1,11 triliun, sedangkan pembiayaan komersial naik 15,5% menjadi Rp9,98 triliun.

Pertumbuhan pembiayaan tersebut turut mendorong total aset BCA Syariah menjadi Rp20,7 triliun per Juni 2026, meningkat 17% secara tahunan. Di tengah ekspansi pembiayaan, BCA Syariah tetap menjaga prinsip kehati-hatian. Rasio pembiayaan bermasalah atau Non Performing Financing (NPF) Gross tercatat 1,8%, sedangkan NPF Net berada di level 0,4%.

Sementara itu, Financing at Risk (FAR) tercatat sebesar 5,38%. Dari sisi pendanaan, Dana Pihak Ketiga (DPK) BCA Syariah mencapai Rp15,4 triliun, tumbuh 10,2% secara tahunan. Perseroan juga terus memperkuat komposisi dana murah atau Current Account Saving Account (CASA) yang mencapai 42,4% dari total DPK.

Pranata menambahkan, pertumbuhan tersebut ditopang oleh giro yang meningkat 23% secara tahunan dan tabungan sebesar 4,5%. “Penguatan CASA menjadi salah satu strategi perseroan untuk menjaga biaya dana di tengah persaingan likuiditas di industri perbankan,” ujarnya.

Dari sisi permodalan dan profitabilitas, rasio kecukupan modal atau Capital Adequacy Ratio (CAR) berada di level 24%. Sementara itu, tingkat pengembalian ekuitas (Return on Equity/ROE) meningkat menjadi 7%, dibandingkan 6,4% pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Di bagian lain dari paparan kinerja perusahaan pada semester I  2026, BCA Syariah tengah mempersiapkan kapasitas bisnis untuk menghadapi kemungkinan peningkatan status menjadi Kelompok Bank Berdasarkan Modal Inti (KBMI) 2.

Direktur BCA Syariah Lukman Hadiwidjaja mengatakan, peluang tersebut terbuka apabila perseroan memperoleh suntikan modal dari induk usaha, PT Bank Central Asia Tbk (BCA). Menurut dia, tambahan modal menjadi salah satu opsi untuk mendorong BCA Syariah naik kelas.

Namun, keputusan mengenai penambahan modal sepenuhnya berada di tangan perusahaan induk. Penguatan permodalan dapat ditempuh melalui sejumlah skema, mulai dari konsolidasi dan kolaborasi hingga penambahan modal secara organik maupun anorganik.

Meski belum menetapkan target waktu untuk naik ke KBMI 2, BCA Syariah memilih memperkuat kesiapan internal terlebih dulu. Lukman mengatakan bahwa perseroan sedang menyiapkan infrastruktur serta kapasitas bisnis agar mampu mengakomodasi pertumbuhan apabila status KBMI 2 terealisasi.

“Kalau tiba-tiba ada tambahan modal untuk kita langsung KBMI 2, alhamdulillah karena tentu saja itu bisa kita lakukan untuk bagaimana BCA Syariah bisa melayani lebih luas lagi, lebih kuat dan menjadi sahabat berkah lebih besar lagi,” kata Lukman dalam konferensi pers di Jakarta, Jakarta, Selasa (22/8/2026).

“Nah bagi kita di BCA Syariah tentu yang paling penting bagi kita adalah bagaimana kita menyiapkan diri, menyiapkan diri termasuk rencana jangka panjang dan juga infrastruktur yang membuat capacity kita itu ready seandainya,” terangnya.

Kesiapan tersebut sejalan dengan pertumbuhan bisnis BCA Syariah sepanjang semester I 2026. Hingga Juni 2026, total aset BCA Syariah tercatat Rp 20,7 triliun. Nilai tersebut meningkat 17,2 persen secara tahunan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Pertumbuhan lebih tinggi terlihat pada penyaluran pembiayaan. BCA Syariah mencatat pembiayaan sebesar Rp 13,6 triliun atau tumbuh 20,5 persen secara tahunan. Dari sisi profitabilitas, laba bersih perseroan mencapai Rp 109 miliar pada semester I 2026. (net/idn/kpc/smr)

Pos terkait