Oleh DE *)
Semarak.co – Timnas sepakbola Indonesia kita bak roller coaster. Naik dulu. Lalu turun tajam. Sampai dasar lagi. Era Shintai Yong, tim nas kita bisa menahan Australia imbang tanpa gol. Mengalahkan Qatar di Doha. Menundukkan Arab Saudi di Saudi.
Tiga tim itu lolos ke Putaran Final Piala Dunia 2026. Sayang, tim kita gagal lolos. Di tengah jalan, Erick Pecat Shintai Yong. Diganti Patrick Kulevert asal Belanda. Malah babak belur. Gatot. Gagal total ke Putaran Final Piala Dunia. Setelah itu, Erick panggil pelatih asal Inggris lengkap dengan perangkatnya.
Apa mau dikata. Menang 5-1 0 atas Kamboja. Lalu, unggul 3-0 Atas Timor Leste. Namun, kalah telak 0-3 dari Vietnam di rumah sendiri, Pakan Sari, Cibinong. Semalam ditahan imbang Singapura 1-1. Dimana penduduknya hanya sejumlah rakyat Provinsi Jambi. Babak belur: enggak lolos ke semifinal Piala AFF.
Padahal, ratusan miliar udah ludes mendatangkan pemain2 Londo dan naturalisasi lainnya. Erick pasti pusing. Sudah naik kelas. Eh malah degradasi. Kita akhirnya kembali sekelas Laos, Kamboja, dan Timor Leste. Boro-boro mau lolos ke Putaran Final Piala Dunia. Kelas regional saja enggak lolos.
Makanya: Erick harus sadar. Tidak ada yang instan. Butuh proses. Naturalisasi harganya mahal. Tidak mau berjibaku demi merah putih. Habis main, pulang ke negara asalnya. Kantong tebal. Tidak ada penyelesalan. Apalagi air mata.
Ya, naturalisasi sama dengan pemain asing. Ukurannya hanya uang. Sampai kapan Erick merogoh kantong terus? Apalagi, ia bukan Menteri BUMN. Malah jadi Menpora yang hitunganya tekor melulu. Wallahu alam. Tabik. Kecewa sama tim nasional kita semalam. Enggak jelas arahnya.
Kadang ke Blok M. Kadang mutar2 di bundaran HI. Kadang arah Tanah Abang. Mereka bukannya menjebol gawang Singapura. Malah, nyari2 di mana gawangnya sehingga berputar-putar ke Blok M, Bundaharan HI, dan Tanah Abang. Kasihan tuh TV diomelin mulu gara2 tim nas gagal ke semifinal Piala AFF.
Sumber: WAGroup Froum Wartawan Kebangsaan (FWK), Sabtu (8/8/2026/rajapane)





