Pemulihan layanan pendidikan pascabencana di Aceh dipercepat melalui kolaborasi Kemendikdasmen, pemerintah daerah, dan TNI AD. Sinergi menjadi upaya memastikan peserta didik tetap memperoleh layanan pendidikan aman dan layak meskipun sekolah terdampak bencana.
Semarak.co – Saat meninjau progres rehabilitasi dan rekonstruksi sekolah di Aceh, Mendikdasmen Abdul Mu`ti menegaskan bahwa pemerintah menargetkan sebagian besar sekolah terdampak dapat kembali digunakan pada tahun ajaran 2026/2027.
“Kami terima kasih kepada Pemerintah Provinsi Aceh, pemerintah kabupaten/kota, serta jajaran TNI AD yang telah bermitra dengan kami dalam proses revitalisasi, rehabilitasi, dan rekonstruksi sekolah-sekolah terdampak bencana,” ujarnya, dirilis humas melalui WAGroup Mitra BKHumas Fortadik, Jumat (26/6/2026).
Menteri menjelaskan bahwa untuk sekolah yang masih menunggu proses pembangunan atau relokasi, Kemendikdasmen telah menyediakan ruang kelas darurat yang lebih representatif agar kegiatan belajar mengajar tetap berlangsung.
“Mudah-mudahan proses revitalisasi, rehabilitasi, dan rekonstruksi dapat diselesaikan secepatnya sehingga anak-anak Aceh dapat kembali belajar secara optimal di sekolahnya,” katanya.
Salah satu sekolah yang tengah direhabilitasi adalah SD Negeri Utue. Sekolah yang berdiri sejak 1984 itu mengalami kerusakan pada sejumlah ruang kelas, plafon, toilet, dan sistem drainase yang menyebabkan genangan saat hujan.
Tahun ini, SD Negeri Utue mendapatkan total anggaran Rp1,83 miliar dengan menu rehabilitasi 5 ruang kelas, 3 paket toilet, 1 ruang administrasi, pembangunan 1 ruang UKS, 8 paket perabot ruang kelas, 1 paket perabot ruang perpustakaan, 2 paket perabot ruang UKS, dan 3 paket penataan lingkungan.
Komandan Pelaksana Rehabilitasi, Letkol Inf. Arino Vranta Sinurat, mengatakan bahwa SD Negeri Utue merupakan bagian dari program rehabilitasi 190 sekolah terdampak bencana di Aceh.
“Di Provinsi Aceh terdapat 190 sekolah yang direhabilitasi oleh TNI AD akibat dampak bencana hidrometeorologi. Khusus di SD Negeri Utue, kami mengerjakan tujuh ruang kelas, dua ruang administrasi, kamar mandi, pengadaan mebel, serta penataan lingkungan sekolah,” ujarnya.
Menurut Arino, pekerjaan dilakukan melalui pola swakelola tipe II yang menggabungkan tenaga profesional sipil dan personel TNI. “Kami melibatkan delapan tenaga tukang sipil dan tiga personel TNI yang bekerja bersama agar pembangunan berjalan efektif dan selesai sesuai target,” katanya.
Kepala SD Negeri Utue, Suwarni, mengapresiasi pola pembangunan yang tetap memungkinkan kegiatan belajar mengajar berlangsung. “Alhamdulillah, kami tidak perlu merelokasi siswa ke tempat lain. Pekerjaan dilakukan bertahap sehingga ruang yang masih layak dapat digunakan untuk belajar,” tuturnya.
Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Murthalamuddin, menjelaskan bahwa pemerintah terus melakukan percepatan penanganan sekolah terdampak. Dari hasil verifikasi, terdapat 2.920 sekolah terdampak bencana, dengan 188 sekolah rusak berat dan 63 sekolah harus direlokasi.
“Banyak sekolah yang terlihat masih menggunakan kelas darurat bukan karena tidak ditangani, tetapi karena proses revitalisasi sedang berlangsung. Yang terpenting, pembelajaran tetap berjalan sambil pembangunan dilakukan,” ujarnya.
Melalui kolaborasi Kemendikdasmen, pemerintah daerah, dan TNI AD, rehabilitasi sekolah di Aceh diharapkan tidak hanya memulihkan bangunan yang rusak, tetapi juga mengembalikan ruang belajar yang aman dan nyaman bagi ribuan peserta didik pascabencana.
Para murid SD Negeri Utue begitu bahagia dengan revitasliasi yang tengah berlangsung di sekolahnya. Mereka sudah tidak sabar untuk bisa menempati ruang kelas baru. Sambil menunggu kelasnya selesai, beberapa murid kelas 4A dan 4B belajar dalam satu kelas. “Senang sekali kalau sekolah kami bisa tambah bagus nanti,” ucap Farhan.
Murid lainnya yang bernama Salman berjanji akan terus belajar dengan giat. Kedatangan Mendikdasmen ke sekolahnya menambah semangat dan keceriaan guru dan anak-anak untuk terus berjuang meraih cita-cita.
“Saya akan giat belajar, bermain dengan rukun, dan menjadi anak yang pemberani,” ujar Salman yang dewasa nanti ingin menginguti jejak idolanya yaitu pesepak bola, Neymar.
Revitalisasi Sekolah Membawa Efek Berantai: Pendidikan Meningkat, Ekonomi Warga Ikut Tumbuh
Langkah nyata pemerataan kualitas pendidikan terus berlangsung di provinsi Kalimantan Barat. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) kembali membenahi wajah sekolah agar menjadi lingkungan belajar yang aman, nyaman dan ramah teknologi.
Pembenahan sarana dan prasarana ini bertujuan agar semangat murid dalam belajar semakin meningkat. Hal ini disampaikan oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, saat meresmikan hasil Revitalisasi Satuan Pendidikan tahun 2025 di SD Negeri 05 Kecamatan Pontianak Timur, Kalimantan Barat, pada Kamis (25/6).
Menurut Mu’ti, revitalisasi merupakan program prioritas Presiden untuk membangun dan menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, lingkungan pendidikan yang nyaman, dan secara fisik memberikan lingkungan agar anak-anak lebih bersemangat belajar.
“Revitalisasi ini bukan tujuan akhir, tetapi bagian dari usaha, bagian dari kebijakan yang keluarannya pada peningkatan mutu pendidikan. Peningkatan mutu pendidikan itu diharapkan dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia,” ujar Mendikdasmen.
Selain pembaruan dalam semangat belajar, program revitalisasi ini juga membawa dampak di masyarakat. Melalui mekanisme swakelola bersama Tim Pembangunan Persiapan Satuan Pendidikan (P2SP), proyek ini memberdayakan masyarakat sekitar dan orang tua murid sebagai tenaga kerja.
Pendekatan konsep swakelola tidak sekadar menghasilkan bangunan yang aman dan kokoh, melainkan juga memberikan dampak positif pada perekonomian masyarakat sekitar sekolah serta menumbuhkan rasa memiliki yang kuat terhadap sekolah dari komunitas lokal.
Sejalan dengan revitalisasi fisik sekolah, Kemendikdasmen juga memperkuat transformasi pembelajaran melalui penyediaan Interactive Flat Panel (IFP), peningkatan kompetensi guru, serta pelaksanaan pembelajaran mendalam (deep learning).
Dampak program tersebut mulai dirasakan oleh SD Negeri 05 Kecamatan Pontianak Timur. Sebelum direvitalisasi, bangunan sekolah yang telah berusia tua memiliki pencahayaan, sirkulasi udara, dan fasilitas pembelajaran yang terbatas sehingga belum sepenuhnya mendukung pelaksanaan pembelajaran. Sekarang, suasana sekolah telah berubah.
“Para siswa kini datang dengan gembira dan bangga. Para guru bekerja dengan tenang dan kenyamanan yang lebih besar sehingga mereka sepenuhnya dapat mencurahkan perhatian pada pembelajaran dan pembentukan karakter para siswa,” ujar Bona Ventura, Kepala SD Negeri 05 Kecamatan Pontianak Timur.
Menurut Bona, revitalisasi satuan pendidikan lebih dari sekadar pembangunan fisik. Masyarakat sekitar sekolah juga merasakan efek positif terhadap peningkatan ekonomi mereka.
“Bagi warga sekolah, revitalisasi ini tidak hanya berdiri tegak, tetapi menjadi bukti bahwa pemerintah hadir dalam membangun pendidikan hingga ke ruang yang paling kecil,” katanya.
Pada skala nasional, revitalisasi ini terus berlanjut. Tahun 2025 telah selesai revitalisasi 16.167 satuan pendidikan di seluruh Indonesia dengan tingkat penyelesaian 100%. Tahun 2026, pemerintah menargetkan revitalisasi 11.744 satuan pendidikan melalui APBN.
Presiden Prabowo Subianto memberikan tambahan lagi program revitalisasi sejumlah 60.000 satuan pendidikan. Total sekolah yang akan memperoleh revitalisasi pada tahun ini mencapai 71.744 satuan pendidikan. (hms/smr)





