Krisis air bersih kembali melanda Kelurahan Kalianyar, Tambora, Jakarta Barat, dalam beberapa hari terakhir. Diketahui ribuan warga setempat mengeluhkan matinya aliran air PAM Jaya selalu pengelola dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Kalaupun mengalir, debit air dinilai terlalu kecil untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Semarak.co – Akibatnya, warga terpaksa mencari sumber air alternatif dengan membeli air galon tambahan atau menggunakan pasokan air dari pihak swasta yang lebih mahal. Kondisi ini bukan lagi sekadar gangguan teknis, berdampak langsung pada kesehatan, sanitasi, dan aktivitas harian masyarakat.
Memang diakui beberapa Ketua Rukun Tetangga (RT) setempat bahwa Perusahaan Air Minum (PAM) Jaya telah mengirimkan 4 mobil tangki air bersih ke lokasi terdampak. Namun, bantuan tersebut dinilai hanya solusi sementara.
Anggota Lembaga Musyawarah Kelurahan (LMK) Kalianyar Tambora Oki Septian mengapresiasi respons cepat PAM Jaya. Tapi, kata Oki, warga membutuhkan solusi permanen. Krisis ini memicu kritik terhadap ambisi PAM Jaya untuk IPO (Initial Public Offering) atau penawaran saham perdana dan cakupan layanan 100% pada 2029.
“Kebutuhan masyarakat tidak bisa terus bergantung pada tangki air. Yang dibutuhkan adalah aliran air yang normal dan stabil di rumah masing-masing,” ujar Oki dikutip saluran1satu.com/Minggu, 31 Mei 2026 yang dilansir melalui WAGroup FBM Jakarta Barat, Minggu (31/5/2026).
Ketua RT setempat Andi Nugroho, menilai target besar tersebut harus dibuktikan dengan kualitas layanan yang dirasakan masyarakat. “Jangan sampai target IPO dan layanan 100 persen hanya menjadi slogan. Bagaimana masyarakat bisa percaya jika kebutuhan paling mendasar masih bermasalah?” tegasnya.
Menurutnya, akses air bersih merupakan hak dasar warga yang tidak boleh dikorbankan oleh persoalan distribusi yang terus berulang. “Kalau saya kata, Kalianyar sudah darurat air bersih deh. Ini perlu penataan permanen yang tidak bisa lagi tambal sulam,” tukas Andi terpisah.
Seolah mengaminkan Andi, Ketua RT lainnya, Akram bahkan menyebut kondisi saat ini sudah masuk kategori darurat air bersih. “Kalau situasi seperti ini terus terjadi, Kalianyar sudah bisa disebut darurat air bersih,” imbuh Akram.
Bahkan Akram mengingatkan adanya hasil survei lembaga internasional yang menyebut bahwa Tambora merupakan salah satu kawasan terpadat di Asia Tenggara sehingga ketersediaan air bersih seharusnya menjadi prioritas utama.
Selanjutnya Ketua RW 03 Kalianyar Agus Sukardi menegaskan, pihaknya akan terus menyuarakan keluhan warga kepada PAM Jaya dan pemerintah daerah. “Air bersih adalah hak dasar warga. Masyarakat berhak mendapatkan kepastian kapan masalah ini selesai dan bagaimana solusi permanennya,” ujarnya.
Krisis air di Kalianyar kembali menimbulkan pertanyaan tentang kesiapan infrastruktur air bersih Jakarta di tengah pertumbuhan penduduk dan berbagai target ekspansi layanan. Bagi warga, bantuan tangki air memang membantu. Namun yang mereka butuhkan bukan distribusi darurat yang berulang.
Melainkan kepastian bahwa air kembali mengalir secara normal. Sebab ketika warga ibu kota kesulitan memperoleh air bersih yang dipersoalkan bukan lagi gangguan teknis semata, melainkan komitmen penyedia layanan dan pemerintah dalam memenuhi hak dasar masyarakat. (s1c/net/smr)





