Iran Spontan Bereaksi Dengar Trump Ancam Bombardir Oman

Republik Islam Iran langsung bereaksi menanggapi pernyataan bernada provokatif Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang mengancam akan membombardir Oman. Ancaman ini, tentu saja, dikarenakan Oman disinyalir bekerja sama dengan Iran untuk menutup Selat Hormuz.

Semarak.co – Reaksi keras Iran terhadap pernyataan Presiden AS Donald Trump yang mengancam akan membombardir Oman, tentu saja menambah ketegangan yang sesungguhnya nyaris reda. Ancaman tersebut disampaikan Trump untuk memeringatkan Oman agar tidak membantu negara tetangganya tersebut.

Iran kemudian merespons ancaman Trump tersebut dan menegaskan itu sebagai pernyataan “berbahaya” dan perilaku “bully” atau perundung. Juru bicara Menteri Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei mengatakan ancaman tersebut merupakan bentuk pelanggaran terhadap prinsip dasar hukum internasional.

Ia menilai Oman sebagai negara yang telah berperan aktif sebagai mediator negosiasi perdamaian. “Ancaman untuk ‘menghancurkan’ negara anggota PBB yang selalu memainkan peran konstruktif, efektif dan bertanggung jawab dalam perdamaian dan keamanan regional,” ujar Baghaei, dikutip dari Turkiye Today.

Bertanggung jawab dalam perdamaian dan keamanan regional serta telah menggunakan upaya mulianya dalam melayani perdamaian dan stabilitas regional sebagai mediator dalam proses diplomatik selama bertahun-tahun,” kata Baghaei.

“Bukan hanya pelanggaran terhadap prinsip dasar pelarangan ancaman penggunaan kekerasan, tetapi juga tanda berbahaya lain dari normalisasi pelanggaran hukum dan intimidasi dalam hubungan internasional,” tambah Baghaei.

Baghaei menyatakan solidaritas Iran dengan “negara sahabat dan saudara Oman” dan mengutuk apa yang digambarkannya sebagai “retorika mengancam dari pejabat Amerika terhadap Iran dan beberapa negara regional lainnya.”

Ismaeil Baghaei dalam kesempatan itu juga mengutuk keras serangan AS di fasilitas militer Pelabuhan Bandar Abbas Iran dan menyebut mereka melakukan “aksi agresif melawan integritas teritorial dan kedaulatan nasional Iran. Demikian dilansir Cnnindonesia.com (29/5/2026).

Serangan itu juga dinilainya sebagai “pelanggaran terang-terangan” terhadap piagam PBB dan gencatan senjata 8 April 2026. Baghaei kemudian menekankan hak hukum Iran untuk memertahankan integritas teritorialnya berdasarkan Pasal 51 Piagam PBB.

Trump sebelumnya mengancam meledakkan Oman jika bekerja sama Iran. “Tidak ada yang akan mengendalikannya. Ini perairan internasional dan Oman akan berperilaku seperti negara lain, atau kami harus meledakkan mereka. Mereka mengerti itu dan akan baik-baik saja,” kata Trump dikutip dari Aljazeera.

Sejauh ini, Oman dikenal sebagai negara yang netral dan belum menyatakan keinginannya untuk bergabung dengan Iran dalam mengendalikan Selat Hormuz. AS dan Oman adalah sekutu dekat yang telah terjalin lebih dari 200 tahun. (net/cic/alz/tt/kim/smr)