Koh Polim: Dari Fotografi ke Bisnis Daun Singkong

Jalan hidup kadang tak bisa tertebak. Cita-cita dan impian acapkali meleset dari yang kita inginkan. Begitu pula yang dialami Koh Polim. Ia memilih menjadi petani dan berhasil membuktikan bahwa menggeluti dunia pertanian itu keren, menguntungkan dan bisa menjadi kaya.

Semarak.co – Padahal, profesi yang kini ditekuninya, jauh dari apa yang dibayangkan oleh Polim — panggilan akrab lelaki keturunan Indochina — sebelum terjun ke dunia agribisnis yang membawa kehidupannya jauh lebih establish dan klinis.

Tentu saja, profesi yang digelutinya kini tak berbanding dengan profesi yang dia sandang sebelumnya. Sebelum memutuskan terjun ke dunia agribisnis (pertanian), lelaki berbadan tegap dan bertinggi sedang kelahiran Kalimantan Barat, itu menggeluti profesi yang jauh dari dunianya kini.

Fotografi adalah dunia Polim sebelum itu. Tentu saja suasana dan kondisi di jagat potret memotret, jauh berbeda dengan apa yang dikerjakannya sekarang, kendati rutinitas kerja dalam kesehariannya tetap dijaga dan ditanggung jawabinya secara profesional.

Suasana kebatinan. Situasi medan, kondisi pertarungan, tentu jauh berbeda. Dulu, dan sekarang. Di alam fotografi, sebagai seorang fotografer, ia dituntut harus memotret pemandangan, objek-objek wisata, atau tokoh-tokoh politik dan pengusaha dengan hasil dituntut selalu maksimal.

Bahkan ia berkubang dengan objek foto-foto model wanita (foto model dan artis). “Ini pengalaman yang nggak bisa dilupakan, meskipun sekarang dunia pekerjaan saya sudah berbeda,” cetus fotografer yang telah malang melintang dalam dunia fotografi sebagai wartawan foto.

Polim pernah mengenyam sebagai fotografer di sebuah agency fotografi. Dari satu agency ke agency fotografi lain dijajaki dan ditekuninya dengan sepenuh hati. Dari tugas memotret sosok tokoh politik, pengusaha hingga artis jadi ranah job nya.

Bahkan. Tak cuma itu. Polim juga pernah memotret dan membidik gambar tentang dunia supranatural. Sebagai fotografer utama di sebuah Tabloid yang mengulas dan mengupas dunia klenik, “Tabloid MistiK” yang kini tak lagi beredar.

Di jagat supranatural, Polim mendapatkan banyak pengalaman dan pelajaran. Dari satu paranormal ke “orang pintar” lain, dia susuri, geluti dan jelajahi. Tentang dunia lain. Tentang seramnya dunia mistik. Tentang gaibnya jagat mistik.

“Banyak pelajaran dan pengalaman berharga dari dunia mistik ini. Sampai harus tidur di kuburan,” ujarnya terkekeh. Polim mengingat perjalanannya meliput keanehan dan keganjilan di dunia lain (gaib) yang sulit diteropong mata telanjang menyusuri pulau Jawa.

Dari Fotografi Lari Ke Daun Singkong

Koh Polim memulai pekerjaan di dunia pertanian/agribisnis, sebetulnya, termasuk keputusan yang zig-zag, bahkan spekulasi besar dalam hidupnya. Betapa tidak. Dari dunia fotografi yang hedon dan gemerlap. Kini dia harus berhadapan dengan makhluk mati yang menutup aksesnya untuk berdialog.

Dia harus bergelut dengan daun-daun singkong yang tumbuh dan panen. Lalu dijajakan. Dia harus melobi, memasarkan dan menjual produk pertaniannya ke sentra-sentra industri dan pasar konsumsi yang membutuhkan produk sayur mayurnya.

Yang menarik dan jarang dinyana, produk pertanian yang diambil Polim tergolong tidak umum. Daun Singkong. Ya, hanya daun singkong. Jika banyak orang lebih memilih menanam buah singkong untuk konsumsi pangan nasional. Polim tidak.

Dia justru mengembangbiakkan daun (singkong) nya. Dia tanam dari usia 0 hingga panen 40 hari atau satu hingga dua bulan. Terus rutin dan rajin tanpa bosan dia tekuni. Alhasil, hanya daun singkong yang ia tanam di atas 5 hingga 8 hektar tanah secara, hasilnya, boleh dibilang, sangat menguntungkan.

Dalam sehari, kata Polim, dia bisa memanen daun singkong 5 hingga 6 mobil pickup seukuran mobil Carry. “Satu pickup bisa menampung 500 Gembol — satu gembol satu ikat daun. Sehari kita kirim lima sampai enam mobil,” cetus Polim yang kesehariannya didampingi dengan setia oleh sang istri tercinta dan para petani sayur.

Daun singkong, sayuran ini, sudah menjadi kebutuhan pokok sebagai konsumsi masyarakat luas. Betapa tidak. Restoran atau warung Padang sudah menganggap daun ini sebagai komoditi yang urgent dan signifikan pemakaiannya. Tanpa daun singkong, bukan nasi padang namanya.

Daun singkong tergolong daun sayuran yang serba guna, masuk ke mana saja, dan bisa dibuat apa saja, lanjut Polim. “Daun singkong pun bisa dibentuk jadi dendeng, lho. Istri saya sering bikin dendeng dari bahan ini,” ungkapnya.

Kebutuhan akan daun singkong untuk dikonsumsi, bukan cuma untuk konsumsi warung atawa restoran Padang saja. “Tapi sudah menjadi kebutuhan yang penting buat masyarakat luas dari berbagai strata,” paparnya.

“Nggak terbayangkan lho kalau nggak ada daun singkong buat makanan kita. Saya membayangkan gimana sebuah kota tanpa sayuran ini (daun singkong). Kita ini sampai disebut ‘Pahlawan Konsumsi’, lho,” seloroh Polim seraya tertawa.

Kendati usaha yang dijalankannya tergolong lancar, mulus dan menguntungkan, bukan berarti tanpa kendala. Terutama soal keberadaan pupuk subsidi. Untuk memperoleh pupuk subsidi murah, yang dinilainya bisa menghemat cost produksi, “Nggak gampang didapat,” cetusnya.

Entah kenapa. Polim sedikit heran. “Saya nggak tahu, apakah dinas pertanian/ pemerintah, menganggap daun singkong bukan kategori sayuran. Padahal kita sama dengan jenis sayuran lain seperti bayam, kangkung dan lainnya. Mereka bisa dapat (pupuk subsidi). Tapi kenapa daun singkong nggak (dapat)?” keluhnya.

Tapi Polim tak kehabisan akal. Dari petani lain yang mengelola produk pertanian berjenis sayur mayur jenis yang lain, dia bisa meminjam kartu untuk belanja pupuk subsidi yang harganya jauh lebih murah dibanding produk non subsidi.

“Harga pupuk di luar yang subsidi bisa tiga sampai empat kali jauh lebih mahal. Jadi kita manfaatkan untuk meminjam teman yang punya kartu belanja pupuk yang subsidi. Tentunya meminjam ini nggak gratis. Ya, kita bayar 20.000 sampai 30.000 an lah,” cetusnya.

Dari lokasi lahan pertaniannya yang seluas sembilan hektar, di sebuah gubug asri bernuansa tani yang ia dirikan untuk kongkow-kongkow, di kawasan Rumpin, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Polim mengutarakan pengalamannya sebagai petani. Berikut petikannya:

Berapa kali dalam sebulan mengirim daun singkong ini?

Ya, setiap hari. Nggak ada liburnya. Kita libur hanya sekali, hanya malam Takbiran (Idul Fitri) saja ha…ha…ha…

Bagaimana jika stok daun singkong kurang atau bahkan stok kosong?

Kita kan ada petani-petani lain di sekitar sini yang juga menanam. Ya, kita kerja sama dengan mereka. Kita yang menyalurkan hasilnya ke konsumen. Sampai-sampai kita ini dibilang Pahlawan Konsumsi. Bayangkan kalau sebuah kota tanpa sayur.  Wah berabe.

Seberapa pentingkah daun singkong sebagai konsumsi masyarakat?

Sayur daun singkong bukan cuma milik orang Padang (warung-restoran Padang) saja, tapi juga sudah menjadi milik masyarakat luas. Kegunaannya kan macam-macam. Sayur bahkan bisa pula dibikin rendang bahkan bisa dibikin dendeng daun singkong, lho!

Pernahkah karena cuaca buruk, mengalami kekurangan stok atau bahkan habis?

Oh ya pernah. Tapi tidak sampai tidak ada. Hanya volumenya saja yang berkurang jumlahnya. Kalau musim hujan, sebetulnya bagus. Cepat panennya. 20 hari sudah bisa panen. Makanya kita antisipasi sedini mungkin untuk menjaga agar tidak gagal panen.

Persebaran pengiriman sudah sampai kemana saja?

Setiap hari kita kirim, ke pasar-pasar sekitar Bogor dan untuk warung maupun restoran-restoran Padang di Jakarta hingga ke Tanjung Priuk bahkan sampai Cikarang.

Anda kan seorang mantan fotografer. Lalu, terpikir tidak sebelumnya untuk bisnis ini?

Nggak terpikir sih sebetulnya. Kok bisa ya lari ke bisnis ini? Kita pelajari dulu bagaimananya untuk kelola ini. Sudah OK, ya, akhirnya perjalanan bisnis dari hobi atau iseng ini, akhirnya menjadi usaha serius mengelola daun singkong. Dulu pernah bisnis tepung sagu tapi sudah nggak lagi.

Bagaimana pendistribusiannya?

Sayur kita distribusikan lewat 4 sampai 5 mobil pickup keliling. Kalau permintaan (demand) lebih banyak, ya kita pakai layanan taksi online untuk mengirim.

Kira-kira berapa profit yang didapat?

Performa ekonomi kita, ya margin yang kita dapat sekitar 30%. Dengan pengiriman per hari 5 sampai 6 mobil pickup — per mobil 400-500 Gembol/ikat.

Dengan kondisi ekonomi yang sulit seperti sekarang, bagaimana Anda mendapatkan pupuk murah?

Meski prospek bagus, tapi petani daun singkong masih tidak dianggap oleh dinas pertanian/pemerintah. Kayaknya sayur daun singkong masih dianggap “abu-abu” oleh dinas pertanian. Untuk dapat pupuk subsidi dari dinas itu berbasis kartu sehingga akses ditentukan oleh pemilik kartu.

Banyak pemegang kartu bukan petani, sehingga petani harus meminjam kartu untuk membeli pupuk subsidi. Peminjaman kartu ya pasti ada biaya tambahan: petani harus memberi pemegang kartu minimal Rp 20.000-Rp 30.000 untuk mendapatkan pupuk subsidi.

Sementara untuk harga pupuk non-subsidi, harganya jauh, bisa 3-4 kali lebih tinggi meskipun kualitas dianggap lebih baik, menyebabkan beban biaya bagi petani. Jika kami tidak diperhatikan, yang kasihan kan petani. Pengeluaran dan pemasukan tidak seimbang, sehingga kesejahteraan petani terancam.

Sistem distribusi saat ini saya nilai masih kurang tepat sasaran dan memunculkan inefisiensi. Akses petani ke dinas dan kelompok tani, banyak petani tidak terdaftar dan tidak tersentuh oleh dinas atau penyuluh; hanya sekitar 30% yang memiliki hubungan langsung dengan kelompok tani atau dinas.

Dinas kadang melakukan pendekatan sampai tingkat desa/RT, tetapi kontak tidak merata sehingga sebagian besar petani tetap “tidak tersentuh”. Beberapa kelompok pernah menyuarakan masalah ini. Misalnya, kenapa tanaman tertentu tidak dapat subsidi, namun keterlibatan langsung seringkali terbatas.

Harapan saya ke dinas ya kita diperhatikanlah agar bisa bersentuhan langsung dengan petani. (Dinas) Tidak hanya menunggu laporan. Dinas pertanian agar ada perbaikan target evaluasi agar mempertimbangkan kebutuhan pangan lokal dan potensi pengolahan turunannya.

Tapi Anda tetap optimis dengan kondisi ini?

Ya, tetap optimistis dan jalan terus lah. Apalagi sekarang kan akan ada alternatif dan peluang perbaikan dengan rencana pemerintah membentuk Koperasi Merah Putih yang menyediakan akses pembelian barang subsidi tanpa kartu.

Ini berpotensi membantu petani yang tidak punya kartu.Jika terwujud, koperasi semacam ini dapat sedikit meringankan beban petani; namun ada kekhawatiran program hanya jadi wacana tanpa implementasi nyata.

Bagaimana Anda memasarkan produk ini?

Proses pemasaran awal: pendekatan langsung ke pasar. Jika stok kurang, pelan-pelan kita mencari pemasok daun singkong dari luar lahan ini. Terus terang, permintaan kepada kita makin kesini makin bertambah (word-of-mouth) dan permintaan dari pedagang/resto.

Untuk konsumsi Jabodetabek sudah terpenuhi?

Sejauh ini sih cukup. Makanya stok harian harus tersedia; segmen pasar tidak boleh kosong. Kapasitas pengiriman, contohnya ada 4–5 mobil dikali 400–500 ikat per mobil.

Dari masa tanam hingga panen berapa lama?

Panen daun siap antara 40 hari, disaat kondisi bagus ya. Kalau kondisi cuaca normal, ya 1-2 bulan lah. Faktor penentu, kan cuaca, perawatan, pemupukan; tempat dengan curah hujan tinggi bisa mempercepat pertumbuhan meski harus ada pasokan sinar matahari yang cukup ya.

Pupuk apa yang digunakan?

Pupuk urea dan pupuk kandang. Pemupukan dilakukan bisa tiap kali setiap habis panen atau tiap 2 panen tergantung kebutuhan.

Bagaimana proses tanamnya?

Kita nggak perlu olah tanah dari nol; cukup pembaruan/garpu di waktu tertentu. Sistem bibit dan rotasi. Setiap habis panen, pohon kan tidak dicabut; satu bibit bisa dipakai beberapa tahun, menghasilkan puluhan hingga ratusan kali panen.

Berbeda dengan singkong umbi yang dicabut dan butuh bibit baru setiap kali.Jika bagian tanaman habis dipetik, dilakukan pembersihan dan pemangkasan lalu tumbuh kembali.

Anda bekerja sama dengan pengusaha atau petani lain?

Ya, untuk memenuhi stok kebutuhan konsumsi pasar setiap hari, kita kadang kekurangan. Makanya kita kerja sama dengan petani lain di lahan lain. Contohnya ada kebun teman saya di Billabong (Parung, Kab Bogor), yang punya lahan luas sekali. Nah, kita bekerja sama dengan mereka untuk memenuhi kebutuhan pasar. (kim/smr)