Gerbang area Taman Ismail Marzuki (TIM) di Jl Cikini, Jakarta Pusat. foto: internet

Seniman-seniman di Taman Ismail Marzuki (TIM) terus menyampaikan ekspresi penolakan terkait rencana komersialisasi kawasan itu oleh PT Jakarta Propertindo (Jakpro). TIM seharusnya dibangun menjadi pusat seni, bukan sebagai tempat bisnis seperti adanya hotel bintang lima.

semarak.co -Salah seorang seniman Teater Budi mengatakan, para seniman menolak TIM menjadi milik Jakpro. Menurut Budi, TIM harusnya bukan milik siapa pun, tapi milik bersama. Daripada hotel bintang lima, saran dia, sebaiknya dibangun lebih banyak fasilitas untuk para seniman. Seperti ruang pameran yang layak.

Kami menolak TIM dijadikan pusat bisnis. Kemarin sudah ada pertemuan dengan pihak Jakpro tapi kami masih sama, menolak dibangunnya hotel bintang lima dan menjadikan TIM sebagai tempat berbisnis,” kata Budi di kawasan TIM, kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (30/11/2019).

Budi menegaskan bahwa para seniman tidak menolak adanya pembangunan TIM, asalkan TIM menjadi pusat seni yang memenuhi syarat. Hal yang sama juga diungkapkan Andri, seorang seniman yang juga ikut hadir dalam aksi aspirasi menolak pembangunan hotel ini.

Dia mengatakan hotel sudah banyak di kawasan Cikini sehingga tidak perlu lagi adanya hotel di TIM. “Saya rasa semua seniman di sini dengan tujuan yang sama, keberatan dengan adanya pembangunan hotel,” ujar Andri saat diwawancara di Cikini.

Sebaliknya, kata dia, pembangunan harusnya lebih mengarah kepada perbaikan fasilitas-fasilitas tempat seni. “Dan juga membuat laboratorium seni untuk para seniman,” pintanya. (net/lin)

 

sumber: indopos.co.id

LEAVE A REPLY