Jakarta International Literary Festival (JILF) digelar selama 4 hari, 20-23 Agustus 2019 di Taman Ismail Marzuki. Acara ini selain menghadirkan penulis dari Indonesia juga mendatangkan penulis dari mancanegara. Ada beragam aktivitas, salah satu acaranya,  community activity.

Bersyukur, komunitas literasi Baca Betawi yang di dalamnya ada pegiat budaya, penulis, wartawan, dan lainnya ikut mengisi acara dalam community activity, 22 Agustus 2019.  Untuk mengisi acara itu, komunitas Baca Betawi yang didukung Perkumpulan Betawi Kita dan Forum Jurnalis Betawi menyiapkan acara kongko dengan tema Bahasa Dalam Sastra Betawi.

Hadir dua orang pembicara Aba Mardjani (wartawan, penulis cerpen) dan N. Syamsuddin Ch. Haesy (Budayawan). Acara lainnya adalah berupa pembacaan puisi Betawi, cerpen, dan pantun.

Dalam pemaparannya Aba Mardjani bercerita tentang proses kreatif dalam membuat cerpen Kue Gemblong Mak Saniah. Cerpen ini pernah dibuat di harian Kompas pada 2010 dan masuk buku Cerpen Pilihan Kompas pada 2011.

Aba Mardjani mengatakan, cerpen ini bisa disebut lahir dari semacam kegalauan tokoh Masdudin pada ketidakhadiran Mak Saniah yang biasa menjajakan kue gemblong ke rumahnya.

Dari situ muncul sedikit konflik dengan istrinya, Asyura, yang merasa aneh dengan kegalauan suaminya. Cerita mengalir baik, ada kesedihan dan kejutan dari penulis pada akhir cerita. Setelah Mak Saniah wafat, kedua suami istri diberi amanah, berupa tulisan resep membuat gemblong Mak Saniah.

Dalam tulisan ini, Aba ingin bercerita tentang warisan leluhur Betawi yang wajib diteruskan. Gemblong adalah jajanan khas Betawi yang wajib terus dijaga dilestarikan oleh generasi mendatang.

Sedangan pembicara kedua Samsudin C. Haesy atau biasa dipanggil Sem Haesy  mengulas makalah dengan judul Titik Literasi Betawi.

Menurut Sem Ch. Haesy, karya-karya literasi kaum Betawi mempertemukan realitas kehidupan pertama dengan realitas kehidupan kedua, sekaligus mempertemukan sesuatu yang dapat dilihat dan disentuh secara empiris maupun di luar pengalaman empiris manusia.

Kaum Betawi memperoleh referensi literasinya dari dinamika kehidupan yang dipengaruhi oleh ilmu pengetahuan dan teknologi, serta nilai-nilai kehidupan beragama. Inilah yang kemudian membuat kaum Betawi mampu berinteraksi dengan beragam nilai sosial, ekonomi, budaya dan politik.

Sebagaimana masyarakat dunia lainnya, bagi kaum Betawi, literasi ditujukan bagi semua orang, tanpa memandang usia, ras, jenis kelamin, agama, budaya dan asal sosial, untuk memperoleh pengetahuan dasar, menengah dan tinggi.

Karenanya, literasi bukanlah tujuan, melainkan alat mengembangkan kapasitasnya untuk menghampiri dan menganalisis  sesuatu yang bergerak dinamis dalam kehidupan sehari-hari. Sekaligus menjadi refleksi kritis dalam berinteraksi dan merespon kehidupan duniawi dan ukhrawi.

Berbagai karya literasi kaum Betawi, seperti hikayat, pantun, cerita lisan, cerita pendek, narasi dalam pertunjukan teater rakyat, jampe, dan syair lagu Melayu, Gambang Kromong,  dialog dalam aksi Palang Pintu, khutbah Jum’at, khutbah nikah, sampai pidato politik, memberikan gambaran menyeluruh refleksi kritis yang bernilai informasi, edukasi, dan sekaligus menghibur.

Karena dalam literasi kaum Betawi, retorika mengalir dalam narasi dan diksi yang multifungsi. Pidato politik Muhammad Husni Thamrin, Pidato dan khutbah KH Abdullah Syafi’ie dan para kyai lainnya, pidato politik dan tabligh Hj. Tutty Alawiyah, khutbah dan tabligh KH Zainuddin MZ, kolom Mahbub Djunaedi, sketsa Firman Muntaco.

Kisah sahibul hikayat allahuyarham Zaid – yang dilanjutkan puteranya Sofian Zaid, cerita-cerita folklore yang dikemas baik oleh babe Chaer, dialog Bang Madi di RRI, catatan peristiwa Babe Alwi Shahab, skenario film Sjumandjaya, Ali Shahab, Nawi Ismail, ekspresi literasi kaum Betawi. Tentu, demikian juga halnya dengan syair-syair lagu allahuyarham Mashabi, Husein Bawafie, Munif Bahaswan, dan Benyamin S. (lin)

LEAVE A REPLY