Dirut BTN Maryon saat memberikan kuliah BUMN di salah satu universitas negeri di Jawa

PT Bank Tabungan Negara (BTN) menangkap tiga peluang besar di sektor properti dari sinergi BUMN dan swasta. Ini terkait permintaan BUMN agar semakin efisien untuk menyediakan pelayanan kepada masyarakat.

Direktur Utama BTN Maryono mengatakan, hal ini bisa dicapai dengan meningkatkan sinergi antarsesama BUMN atau dengan pihak swasta. Mengingat peluang untuk mewujudkan cita-cita negeri ini bisa tercapai. Di sektor properti, nilai Maryono, ada tiga peluang besar yang bisa ditangkap dari sinergi BUMN dengan swasta. Pertama, besarnya backlog kebutuhan rumah di Indonesia yakni mencapai 11,4 juta rumah.

“Kedua, adanya pembangunan infrastruktur, itu memberikan dorongan adanya kota-kota baru di sekitar, sehingga kalau backlog 11,4 juta itu bisa nambah lagi,” ujar Maryono, di sela Bincang-Bincang Peluang Tantangan dan Masa Depan Sinergi BUMN-Swasta, seperti dirilis Humas BTN Kamis (30/11).

Peluang ketiga, lanjut Maryono, adalah adanya suatu pertumbuhan demografi di mana distribusi penduduk Indonesia nanti 60 persennya adalah usia produktif. Hal ini berbanding terbalik dengan negara maju yang lain di mana yang paling banyak adalah para lanjut usia ketimbang usia produktif.

“Artinya apa? Artinya bahwa potensi daya beli untuk beli rumah meningkat. Kalau dulu misalnya orang yang bisa beli dari 10 orang yang bisa beli dua orang, ini akan menjadi lima orang dari 10 orang. Ini akan menjadi suatu potensi demand luar biasa untuk perumahan,” jelas dia.

Untuk memenuhi atau menangkap peluang tersebut, pihaknya tidak bisa bekerja sendirian. Misalnya dalam menyediakan pembiayaan, BTN bekerja sama dengan pengembang swasta maupun pengembang BUMN untuk menciptakan pengembang pemula demi mempercepat kebutuhan itu tersebut.

“Tapi memang ada sejumlah tantangan yang harus dihadapi. Salah satunya adalah bagaimana caranya agar sinergi BUMN dan swasta bisa lebih efisien dan cepat. Jadi tantangannya bagaimana kita mengajak semua elemen untuk sinergi, selama ini di BTN sudah terjadi,” ujarnya.

Di bagian lain Maryono mengaku, BTN siapan melebur ke dalam holding BUMN sektor perbankan. Indikator kesiapan sudah terlihat pada banyak ragam kerja sama antarbank BUMN. “Kerja sama antarbank BUMN seperti adanya Himpunan Bank Milik Negara (Himbara). Perlu kami smpaikan sektor lain punya holding, sedangkan perbankan dalam proses, kita sudah ada Himbara yang sudah mulai efektif,” katanya.

Dulu bersaing sesama bank BUMN, kini bersatu berupa atm Link Himbara, bahkan pembayaran tol bisa pakai semua kartu elektronik bank penerbit yang sebelumnya dikuasai satu bank saja. Diketahui, isu holding bank BUMN mulai berhembus kencang, apalagi holding tambang sudah terbentuk dengan Holdingnya PT Inalum BUMN baru yang belum go publik. (lin)

LEAVE A REPLY