PWI Anugerahi Bapak Kemerdekaan Pers Indonesia untuk Almarhum BJ Habibie

Ketua Umum PWI Atal S Depari (keempat dari kiri) dan Ilham Akbar Habibie (kelima dari kiri). Foto: dok PWI

Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) menganugerahi gelar Bapak Kemerdekaan Pers Indonesia kepada Presiden ke-3 RI BJ Habibie atas kebijakannya yang membuka keran kebebasan dan kemerdekaan pers di Indonesia, pada masa era reformasi 1999.

Ketua Umum PWI Atal S Depari mengatakan, almarhum Habibie semakin menegaskan komitmennya terhadap kemerdekaan pers dengan menandatangani UU Nomor 40/1999 tentang Pers.

Seperti diketahui, Habibie meninggal dunia dalam usia 83 tahun setelah mengalami gagal ginjal di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta Pusat, Rabu 11 Setemper 2019, pukul: 18.05. Setelah keluarga menyerahkan kepada pemerintah, Habibie dimakamkan di Pemakaman Kalibata, Jakarta Selatan, Kamis siang (12/9/2019).

“Kami sadar betul kebebasan pers didapatkan di era Pak Habibie,” kata Atal usai ditemui  putra sulung Habibie, Ilham Akbar Habibie, di kediaman almarhum, di Patra Kuningan, Jakarta Selatan, Senin (16/9/2019).

Ikut mendampingi jajaran pengurus PWI, Ketua Dewan Kehormatan PWI Ilham Bintang, Sekretaris Jenderal PWI Mirza Zulhadi, Ketua Bidang Pengembangan Daerah PWI Akhmad Munir, Ketua Bidang Luar Negeri Abdul Aziz, Wakil Sekjen Suprapto, Anggota Dewan Kehormatan Asro Kamal, Direktur CAJ Dar Edi Yoga.

“Saya kira dari situ euforia pers muncul, sampai orang bilang kebebasan pers sudah jadi kebablasan. Meski demikian, kebebasan pers harus terus dipertahankan dan jangan ada lagi upaya membuat pers kembali terkekang,” imbuh Atal.

Selamat jalan Habibie, cetus Atal, kebijakannya yang berpihak kepada kemerdekaan pers yang telah diwariskan harus terus dipertahankan hingga masa mendatang.

“Kami berharap agar apa yang sudah diukir Pak Habibie tetap bertahan. Tidak boleh ada upaya membuat pers tidak bebas. Kami berharap tetap bebas sampai kapanpun, bebas yang bertanggung jawab,” katanya.

Ketua Dewan Kehormatan PWI Pusat Ilham Bintang mengatakan, kalau ada yang bertanya kenapa baru sekarang Habibie mendapatkan penghargaan ini, sebenarnya tidak.

Pada 2013 Hari Pers Nasional (HPN), itu memberi penghargaan medali kemerdekaan pers kepada Pak Habibie . “Ini bapaknya kemerdekaan pers,” ujar Ilham Bintang.

Sementara Ilham Akbar Habibie merasa terhormat atas gelar yang diberikan PWI kepada sang ayah atas komitmen dan upayanya terhadap kemerdekaan pers. “Dari dulu Bapak menerangkan kepada kami kenapa itu (kemerdekaan pers) diberikan begitu cepat, sebab kebebasan pers adalah pondasi negara yang berdemokrasi,” katanya.

Kebebasan pers, kata dia, diperlukan sebagai upaya “check and balance” terhadap jalannya pemerintahan, karena sebelumnya seluruh informasi dimonopoli oleh negara.

“Bapak sangat merasakan, kualitas informasi yang didapatkan Bapak bisa bertentangan, karena ada banyak sumber yang harus tetap kita kurasikan sendiri. Tetapi, itu diperlukan,” katanya.

Bagaimanapun, tegas Ilham, kemerdekaan pers menentukan kualitas pemerintahan karena elemen data dan informasi adalah bagian integral semua negara yang berdemokrasi. (lin)

LEAVE A REPLY