Prabowo usai jadi pembicara kunci dalam bedah buku di kampus UI Depok

Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto, Senin (18/9) hadir dalam bedah buku berjudul ‘Nasionalisme Sosialisme Pragmatisme: Pemikiran Ekonomi Politik Sumitro Djojohadikusumo’ di Universitas Indonesia (UI), Depok. Dalam acara tersebut, Prabowo didaulat menjadi pembicara kunci untuk membagikan pandangan‎-pandangannya terkait pemikiran ekonomi politik Sumitro Djojohadikusumo.

Mantan Danjen Kopassus itu mengaku grogi saat berpidato sebagai pembicara kunci dihadapan Karena dia harus berbicara di hadapan banyak tokoh, seperti Emil Salim dan Akbar Tandjung, para mahasiswa, dosen, dekan hingga wakil rektor Universitas Indonesia. “Jadi terus terang saja, saya grogi. Terlalu banyak tokoh besar, guru besar, tokoh bangsa. Karena itu saya banyak bawa catatan, karena saya bukan orang akademisi,” kata Prabowo yang disambut tawa seisi auditorium.

Prabowo mengaku, saat dirinya berdiri seorang diri di depan panggung dan disaksikan dosen, dekan, dan wakil rektor UI berasa seperti sedang mengikuti ujian promosi untuk mendapatkan gelar. “Saya sedang merasa seperti ujian,” ujarnya yang kembali disambut tawa.

Mantan calon presiden perioden 2014-2019‎ itu menuturkan, ia datang memenuhi undangan sebagai pembicara kunci adalah untuk menghormati sang ayah dan pengarang buku ‘Nasionalisme Sosialisme Pragmatisme: Pemikiran Ekonomi Politik Sumitro Djojohadikusumo‎’. “Ini dalam rangka menghormati Pak Sumitro dan Pak Dawam Rahardjo,” ucapnya.

Dalam kesempatan itu, Prabowo meminta pada kaum cendekiawan dan intelektual untuk turun gunung mengatasi persoalan bangsa. Perubahan ke arah yang lebih baik menurut Prabowo, datang dari kaum intelektual. “Kaum intelektual Indonesia punya tanggung jawab atas kebenaran,” katanya.

Menurutnya, UI adalah center of excelent. Dari sejak lama, perubahan datang dari UI. Dia meminta agar kaum intelektual UI harus berani untuk menyatakan dan menegakkan kebenaran. “Kampus mengajarkan ilmu dan kebenaran. Hukum yang diajarkan di universitas adalah hukum kebenaran,” imbuhnya.

Di hadapan para tokoh nasional lainnya dan mahasiswa, Prabowo berkali-kali meminta pada para profesor untuk turun gunung. Mereka diminta menyatakan kebenaran. “Tokoh akademisi turunlah, jangan pandang ilmu terpisah-pisah. Kaum intelektual memiliki peran yang sangat krusial di Indonesia. Semua perubahan yang datang di Indonesia datangnya berasal dari kaum intelektual. Semua perubahan pada dasarnya datang dari kaum intelektual. Bung Karno intelektual, Bung Hatta intelektual, Bung Sjahrir intelektual. Pemimpin dan pendiri bangsa kita berintelektual, mereka bisa dan paham lima bahasa. Mereka baca Socrates, Aristoteles, Plato,” katanya.

Maka dari itu, Prabowo menilai bahwa kaum intelektual Indonesia punya tanggung jawab atas kebenaran. ‎Dirinya berharap Universitas Indonesia turut berperan dalam memberikan pengajaran yang benar terhadap masyarakat. “Hendaknya para intelektual dari UI berani nyatakan kebenaran, yang benar adalah benar dan yang salah adalah salah. Kampus mengajarkan kebenaran,” ujarnya.‎

Di bagian lain Prabowo mengakui, dirinya kerap berbicara apa adanya dalam berbagai kesempatan termasuk saat bicara mengenai kondisi bangsa. Menurutnya, apa yang dibicarakannya sesuai kondisi terkini bangsa dimana dirasakan langsung oleh masyarakat Indonesia meskipun perkataannya dianggap tidak sedap oleh pemerintah. “Kalau prabowo bicara memang ‎yang nggak enak, nggak enak,” katanya.

Mantan Danjen Kopassus ‎itu pun mengakui pada umumnya tokoh bangsa Indonesia banyak yang tidak suka dikritik. Apalagi jika yang dikritik berasa sebagai seorang senior yang memiliki usia lebih tua. “Bangsa Indonesia memang tidak suka dikritik, apalagi mengkritik seorang senior. Antara ewuh pakewuh dan hipokrit saya tidak tahu batasnya. Di depan baik, dibelakang grunjel, gerutu. Kita otokritik,” tandasnya.

Lebih jauh dikatakan, paham radikal akan muncul jika ada ketidakadilan. Hal tersebut ia ucapkan terkait dengan dugaan maraknya paham komunisme. “Saya kira semua paham radikal akan muncul kalau ada ketidakadilan, kemiskinan, penderitaan orang yang di lapisan paling bawah. Maka dari itu, saya berpendapat bahwa masyarakat harus diperkuat secara ekonomi. Sehingga bangsa Indonesa juga akan memilki ketahanan secara ideologis. Jika rakyat sejahtera, perbedaan pendapat akan menjadi hal yang biasa. Suasana bangsa juga akan menjadi sejuk dan tenang,” paparnya.

Dalam beberapa hari ini, terjadi peristiwa bentrokan massa secara ideologis di Jakarta. Yakni antara masyarakat yang mencoba mengungkapkan kejahatan negara dalam peristiwa 1965 dengan masyarakat yang kontra terhadap paham komunisme. Terkait peristiwa tersebut, Prabowo mengaku belum banyak tahu. “Saya belum baca peristiwa itu, tapi prinsipnya kita harus damai. Jangan seruduk-seruduk,” ujarnya.

Ia juga berharap agar permasalahan apa pun bisa dibahas dengan baik-baik dan sejuk. Perbedaan pendapat itu baik dan hal yang biasa. Di samping itu, juga muncul wacana penayangan kembali film peristiwa G30S karya Arifin C. Noer. Film tersebut memunculkan banyak kontroversi karena dianggap merupakan media propaganda rezim Orde Baru. Ada banyak penggelapan sejarah, ditengarai, terkandung dalam film tersebut. Terkait penayangan kembali film G30S, Prabowo melepasnya kepada masyarakat.”Kalau ada yang mau nonton silahkan, kalau enggak ya silahkan,” tuntasnya. (tbc/rep/mdc/lin)

LEAVE A REPLY