ilustrasi AM Hendropriyono, Gories Mere, dan Luhut B Panjaitan. foto: istimewa

Penulis: Luqman Ibrahim Soemay

Pertemuan Jokowi dengan Prabowo di Stasiun MRT Lebak Bulus menandai babak baru garis politik Jokowi. Dari Lebak Bulus dilanjutkan dengan pertemuan Teuku Umar antara Megawati dengan Prabowo.

Dua pertemuan ini menandai lahirnya poros politik baru yang tidak lagi mengandalkan trio Abdullah Mahmud (AM) Hendroprijono, Luhut Binsan Panjaitan, dan Gories Mere. Saya namakan saja mereka bertiga dengan sebutan “Trio Wekwek”.

Trio Wekwek selama ini menjadi arsitek utama garis politik dan kebijakan Jokowi, khususnya dalam lima tahun terakhir. Garis politik yang sengaja bahkan terang-terangan membenturkan pemerintah Jokowi dengan kelompok Islam kanan atau yang bukan Nahdatul Ulama (NU).

Trio Wekwek yang selama ini selalu dan selalu memframing wajah Islam Indonesia identik dengan Islam terorisme, Islam radikalime dan Islam intoleransi.

Mencermati para aktor yang terlibat di pertemuan Stasiun MRT Lebak Bulus dan Teuku Umar, yaitu Kepala BIN Budi Gunawan dan Seskab Pramono Anung, Puan Maharani, Prananda Prabowo dan Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto, maka dipastikan Poros Teuku Umar yang menjadi arsitek utama dua pertemuan tersebut.

Shobul hajatnya adalah Teuku Umar, sebutan untuk kediaman Megawati. Tentu saja peran yang dimainkan Budi Gunawan dan Pramono Anung adalah melaksanakan perintah Megawati Soekarnoputri.

Alhamdulillaah tugas dari Ketua Umum PDIP tersebut bisa dilaksanakan dengan baik. Bahkan maraih sukses besar. Prabowo mau dan bersedia berunding dengan Jokowi. Namun hanya melalui satu pintu, yaitu jalan Teuku Umar. Tidak lagi melalui Trio Wekwek

Publik, khususnya pendukung Prabowo belum lupa. Hanya berselang tiga hari setelah palaksanaan pemilihan presiden 17 April 2019, Luhut menawarkan diri bertemu Prabowo. Luhut mengklaim diri sebagai utusan khusus Jokowi. Hasil tentu sudah bisa ditebak.

Tanpa perlu pikir panjang Luhut ditolak Prabowo dan semua pendukungnya. Sebuah sikap yang menunjukan ketidaksukaan bahkan mungkin juga kebencian dari pendukung Prabowo yang sudah di ubun-ubun kepada Luhut

Sebuah lompatan politik penting telah diraih Jokowi dari terobosan di Stasiun MRT Lebak Bulus. Meskipun demikian, harus diakui pertemuan tersebut tidak serta-merta dapat mengubah sikap para pendukung Prabowo di akar rumput.

Sikap pendukung Prabowo, terutama emak-emak militan tetap tidak bisa menerima kemenangan Jokowi sebagai presiden 2019. Mereka beranggapan kemenangan yang didapat Jokowi melalui kecurangan yang sistematis dan terencana

Pertemuan yang diakhiri makan-makan sate senayan ini dilajutkan pertemuan Megawati dengan Prabowo di jalan Teuku Umar. Dua kali pertemuan antara Prabowo-Jokowi dan Prabowo-Megawati cukup memberikan angin segar bagi Jokowi.

Paling kurang untuk lima tahun ke depan. Saat dilantik sebagai presiden Indonesia periode kedua tanggal 20 Oktober 2019 nanti, Prabowo diharapkan bisa hadir dan memberikan ucapan selamat kepada Jokowi

Sejak pertemuan politik stasiun MRT Lebak Bulus, tampak Trio Wekwek tidak dilibatkan. Sebuah keputusan politik yang sangat jitu dan tepat sasaran. Sebab bila Trio Wekwek atau salah satu saja yang dilibatkan, dan biasanya Luhut yang paling sibuk untuk menyodorkan diri maju ke depan, maka hampir dipastikan pertemuan tersebut tidak pernah terjadi. Pasti gagal dan gagal lagi

Mengetahui tingginya kebencian pendukung Prabowo kepada Trio Wekwek inilah yang mendorong Megawati perintahkan Budi Gunawan melakukan segala cara dan upaya, dengan kerahasiaan tingkat tinggi.

Targetnya bisa ketemu langsung dengan Prabowo. Setelah ketemu, bujuk Prabowo agar mau bergabung dengan pemerintah Jokowi. Tawarkan saja cek kosong kepada Prabowo. Jokowi dan Megewati membiarkan Prabowo sendiri yang mengisi berapa nilai ceknya yang pantas. Sayangnya, cek kosong itu bukan dalam bentuk duit

Tawaran memberikan cek kosong kepada Prabowo untuk saat ini cukup ampuh meredam Prabowo. Termasuk teman-teman Prabowo di koalisi adil makmur, PKS dan PAN.

Buktinya Amin Rais yang terkenal sangat keras menentang rekonsiliasi dengan Jokowi, belakngan mulai melunak setelah ketemu Prabowo. Sikap melunaknya Amin Rais ini dengan membuat pernyataan “kita akan mengawasi Jokowi dan Ma’ruf Amin liman tahun ke depan”

Bersatunya koalisi Jokowi-Megawati dengan Prabowo ini tentu saja tidak dikehendaki Trio Wekwek. Mereka pasti tidak nyaman dengan keberadaan Prabowo di koalisi Jokowi-Megawati.

Buktinya, sampai sekarang Trio Wekwek masih membisu seribu bahasa. Trio wekwek tak berkomentar apapun tentang pertemuan Stasion MRT Lebak Bulus dan Teuku Umar.

Lambat tapi pasti peran Trio Wekwek akan digantikan Prabowo dengan teman-temannya. Paling kurang dalam mengelola pemerintahan lima tahun ke depan, Jokowi punya tambahan teman untuk didengar pendapatnya.

Petualangan Trio Wekwek selama ini dengan membenturkan Jokowi dengan Islam kanan cukup membuat posisi Jokowi tidak aman. Bahkan hampir saja terjungkal

Trio Wekwek sebenarnya tidak punya posisi tawar publik. Mereka bertiga tidak punya basis politik yang kuat dibanding Prabowo. Hendroprijono misalnya, hanya berasal dari partai politik kecil PKPI yang tidak lolos parliamentary threshold. Hendro tidak punya kursi setengah pun di DPR.

Ambisi politik Hendro, selain mengamankan urusan bisnis pribadinya, selalu berupaya dengan segala cara mendorong-dorong anak dan menantu untuk menjadi pejabat negara. Diaz Hendroprijono kini jadi Staf Khusus Presiden. Menantu Jendral TNI Andika Perkasa digadang-gadang sampai jadi Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD)

Kelakuan Hendro ini hanya beda-beda tipis dengan Soesila Bambang Yudhoyono. SBY sekarang ini sebagian besar hidupnya hanya diabdikan untuk memperjuangkan dua putranya Edhi Baskoro dan Agus Harimurti bisa menjadi menteri.

SBY sekarang rela kehilangan nama besar sebagai negarawan, asalkan anaknya Ibas dan Agus bisa jadi pejabat negara. Bedanya dengan Hendro, SBY punya Partai Demokrat, dan punya kursi DPR

Sedangkan Luhut cuma pendatang di Golkar. Luhut tidak punya kaki di akar rumput Partai Golkar. Kerjanya hanya memonopoli semua lini bisnis. Caranya dengan menakut-nakuti pejabat level bawah. Mulai dari Dirjen, Gubernur, Bupati, eselon dua, tiga dan empat di kementerian.

Luhut sangat berambisi memposisikan dirinya sebagai orang kaya sepuluh besar di negeri ini. Untuk itu, semua proyek mutlak harus melibatkan perussahaan Luhut, baik langsung maupun hanya vehicle.

Kepuasan Luhut lainnya adalah menempatkan orang-orang Batak menjadi pejabat negara dan bisnis di semua lini pemerintahan dan usaha. Mereka menempati posisi-posisi penting di eselon satu, dua, tiga dan empat disejumlah kementerian. Lihat di KPK, dua orang komisoner dari batak kristen, yaitu Basariah Panjaitan dan Saur Situmorang

Selain itu, Luhut juga banyak menaruh orang-orang batak di direksi dan komisaris BUMN. Selain itu mereka bertebaran juga di sejumlah perusahaan konglomerat swasta. Begitu juga dengan pejabat negara setingkat menteri.

Lihat saja, Kerpala Badan Saiber dan Sandi Negara (BSSN) Letjen (Purn) Hinsa Siburian. Meskipun tidak punya kemampuan dan pengetahuan apa-apa tentang siber, namun Luhut berusaha dengan segala cara meperjuangkan Hinsa Siburian menjadi kepala BSSN.

Begitu juga dengan anak mantunya Mayjen TNI Maruli Simanjuntak. Maruli sekarang menjabat Komandan Pasukan Pengmanan Presiden (Dan Paspampres).

Maruli yang berasal dari lulusan Akademi Militer 1992 menjadi orang pertama yang menggapai bintang dua di pundaknya.

Sayangnya, yang diperjuangkan Luhut hanya terbatas orang-orang Batak kristen atau HKBP. Rupanya hanya sebatas itu ambisi besar anak emasnya Jendral TNI (Purn) L.B Moerdani ini

Luhut juga menjadi arsitek utama masuknya tenaga kerja asing Cina ke Indonesia. Modusnya adalah pembukaan investasi kawasan ekonomi khusus. Mau lihat buktinya.

Datang dan lihat pembangunan smelter untuk pengolahan nikel di beberapa daerah, seperti di Pomala Sulawesi Tengah, Konawe Sulawesi Tenggara dan Obi Maluku Utara.

Dipastikan hampir 90% tenaga kerja di tiga perusahaan pemurnian nikel ini berasal dari Cina. Lain lagi dengan petualangan Komjen Polisi (Purn) Gories Mere. Pensiunan polisi bintang tiga ini hobbinya membuat penangkaran atau memproduksi teroris.

Misi utamanya, mencitrakan Islam yang identik dengan kekerasan atau pembunuhan atas nama perang jihad dan sejenisnya.

Untuk menciptakan horor ini, Gories tidak sendirian. Mentornya Brigjen Polisi (Purn) Surya Dharma. Yuniornya adalah Irjen Pol. (Purn) Bakto Suprapto, Irjen Pol. Carlo Tewu, Deputi di Menkopolhukam, Irjen Pol.

Petrus Golosse, sekarang Kapolda Bali, Brigjen Pol. Martinus Hukom, sekarang Wakadensus 88 Polri dan Brigjen Rahmat Wibowo, sekarang Direktur Tipid Siber Bareskrim Polri. Gories mewakili Amerika, Inggris, Asutralia dan Yahudi di Indonesia

Publik negeri ini belom lupa dengan ngopi-ngopi Gories dengan pelaku bom Bali Amroji di Mall Plaza Senayan. Hanya Gories yang punya kesaktian bisa jalan-jalan dengan terhukum teroris untuk shoping dan ngopi-ngopi di mall.

Padahal ketika itu Gories menjabat Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN). Gories juga suka jalan-jalan di luar penjara dengan ratu ekstasi Jarimah Mirafsur

Hobi bersama Trio Wekwek adalah mencitrakan horor tentang Islam kanan. Misalnya Islam kanan itu dekat dengan teroris, radikal, dan intoleransi. Selain itu, Islam kanan juga diidentikan dengan kekerasan.

Prilaku Trio Wekwek ini tentu berlawanan dengan garis politik koalisi Jokowi-Megawati yang selalu berusaha bisa bergandengan dengan Islam kanan.

Megawati juga sangat beringinan mendorong Islam kanan agar lebih ke tengah. Megawati ingin mencontoi Bung Karno yang berangkulan mesra dengan tokoh-tokoh Masyumi seperti di awal kemerdekaan. Bung Karno sangat dekat dengan Muhammad Natsir, Mohammad Roem dan Syafrudin Prawiranegara

Kondisi politik tiga tahun terakhir yang renggang dengan Islam kanan, mendorong Megawati untuk memperbaikinya. Apalagi menghadapi suksesi kepemimpinan di PDIP yang kemungkinan jatuh ke Puan Maharani atau Prananda Prabowo di tahun 2024 nanti. Sayangnya inilah yang sekarang renggang akibat ulah petualangan politik Trio Wekwek.

Penulis adalah Pengamat Politik.

 

sumber: harianaceh.co.id (30/7/2019), 21.10

11 KOMENTAR

  1. Kayak gini mah bkn tulisan pengamat. Tapi tulisan simpatisan…. Tulisannya terlalu rendah nilainya. Lebih banyak halusinasinya.

  2. Saya menghargai pendapat anda dan ini bukan produk jurnalisme, ini hasil pemikiran pribadi dengan mengungkapkan ketidak sukaan pada suku tertentu,agama tertentu. Tepatnya rasis.saya yakin dengan kepemimpinan jokowi dengan mekanisme yg dibuat serta disepakati bersama.
    Mengenai radikalisme memang begitu adanya namun bukan LBP yg membenturkan dengn NU,pemikiran anda terlalu primitif. Apakah orang batak baru ditempatkan diposisi strategis baru dikepemimpinan jokowi? TIDAK. Sejak dahulu sudah ada disetiap presiden. Sepertinya anda kurang membaca atau mungkin memang anda tidak suka terhadap batak apalagi kristen. Saya menduga anda bagian yang intoleran itu(Semoga saja bukan).

  3. ada sisi fakta dan ada sisi abu², tapi saya salut pernyataan ini sudah berani tampil di muka publik dan sadar akan resiko atas target bidiknya.
    analisa cukup baik dgn indikator A1

  4. Isi semarak.co berita2 nya mirip sinetron emak2 jaman sekarang, saya bacanya kayak pendapat pribadi, isi nya ditambah2 dari khayalan.. sesuatu yg di tulis dilebih2kan biarpun seandainya isinya ada yg benar org jadi ragu karna ditambahin karangan anda

LEAVE A REPLY